Menengok Makam Syeik Yusuf di Kampung Macassar, Afrika Selatan

11/12/22, 06:58 WIB Last Updated 2022-11-11T23:58:42Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


 



SEPERTI hari-hari sebelumnya, matahari Jumat pagi (11/11/2022), menyinari Western Cape, Afrika Selatan  begitu cerahnya. Saya bersama keluarga berkesempatan mampir ke Kampung Macassar.


Kampung Macassar adalah sebuah kota kecil berdekatan dengan Strand (nama lama Cape Town) dan Somerset West, dengan jumlah penduduk 38.136 jiwa.


Sejarah Kampung Macassar sangat erat dengan Kota Makassar di Sulawesi Selatan. Adalah Syeikh Yusuf yang bergelar Tuanta Salamaka dari Kesultanan Gowa. Syiekh Yusuf merupakan ulama yang begitu gagah dan berani menentang VOC di Gowa.


Tahun 1694, bersama 50 orang pengikutnya, ditangkap Kompeni dan dibuang ke Srilangka. Namun VOC gagal membendung pengaruh Sang Ulama. Akhirnya Syiekh Yusuf bersama pengikutnya dibuang ke Afrika Selatan.


Di daerah yang kemudian jadi Kampung Macassar itulah Sang Ulama bersama para santrinya mendarat. Pantai dan laut menjadi bagian yang mengingatkannya dengan tanah kelahiran.


Jadi, selain menyebarkan agama islam (catatan- Syeikh Yusuf diakui sebagai penyebar islam yang pertama di tanah Afrika Selatan, dan karenanya diangkat sebagai pahlawan nasional oleh Nelson Mandela. Presiden Soeharto sempat berkunjung ke Makam Kramat Syeikh Yusuf, 1997. Selain itu, Pak Harto juga menobatkan Syeikh Yusuf sebagai Pahlawan nasional dua tahun sebelumnya), Sang Ulama juga mengajarkan bagaimana menjadi nelayan yang baik.


Ada satu kisah dari mulut ke mulut tentang karomah yang dimiliki Syeikh Yusuf. Waktu itu daerah sekitar Kampung Macassar tidak ada air tawar. Sang Ulama lalu meminta pengikutnya untuk menggali tanah hingga keluar air tawas dan asin.



Lalu Sang Ulama mendirikan shalat lalu berdoa. Setelah itu, Syeikh Yusuf mengaduk-aduk air dengan kedua tangannya. Air tawas dan asin itu, berubah menjadi air tawar yang bisa dikonsumsi baik untuk minum atau masak.


Hanya lima tahun, tepatnya 23 Mei 1699, Syeikh Yusuf wafat. Dengan hanya waktu lima tahun, islam menyebar dan tersebar di Afsel. Nelson Mandela berulang kali dalam berbagai event tidak ragu menyebutnya sebagai salah seorang putra terbaik Afrika.


Kemudian dari sumber wikipedia, dusebutkan, jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705.


Jumat pagi (11/11/2022), sebelum ke kota Montagu, saya berkesempatan mampir ke makam sang ulama besar itu. Letak makamnya di bagian paling depan Kampung Macassar. Letaknya berada di atas, lebih tinggi dari Kampung Macassar. Tertata dengan rapih, dihiasi oleh lima meriam eks. Belanda. 


Selain makam Syeikh Yusuf, ada empat makam pengikutnya di bagian kiri. Makam yang berbeda denfan makam-makam yang biasa. Ukuran panjangnya rata-rata dua meteran.


Menurut info, makam itu menjadi destinasi wajib bagi orang-orang Indonesia, Malaysia, India, dan Srilangka yang berkunjung ke Afsel. Karena bukan hanya di Afsel, Syeikh Yusuf menyebarkan agama islam, bahkan Syeikh Ibrahim ibnu Mi'am, ulama besar India, kabarnya juga merupakan murid Syeikh Yusuf.


Saya, istri, dan anak-anak saya merasakan ada sesuatu yang lain saat memasuki rumah tempat makam itu berada. Tetapi, jangan lupa, kita dilarang meminta apa pun di makam-makam Kramat, termasuk syirik.


Syirik adalah dosa paling besar. Firman Allah Ta'ala : _“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu. Bagi siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”._ (QS. An-Nisa).


Semoga bermanfaat...

*M. Nigara*

Wartawan Senior

 

Komentar

Tampilkan