Khayelitsha Afrika Selatan Yang Berbeda

11/17/22, 09:56 WIB Last Updated 2022-11-17T02:56:12Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


 

AKSARANEWS.CO.ID. INI Afrika Selatan yang lain. Afrika yang seperti  selama ini tergambar secara umum: Hitam, keras, dan kumuh. Afrika yang miskin, Afrika yang seolah-olah tidak memiliki harapan. Dan Afrika yang terbelakang.


Khayelitsha, namanya, Kotapraja di Westren Cape, masih masuk ke dalam wilayah Cape Town, Afrika Selatan. Tapi, seolah-olah bukan bagian dari Cape Town itu sendiri.

Cape Town memiliki luas, empat kali lebih besar dari Jakarta.


Sekali lagi, jika kita melihat kota Cape Town, khususnya kota lama dan baru, maka kita melihat seluruh keindahan. Pemerintah kolonial Belanda yang datang di akhir tahun 1700-an, mulai membangun kota dengan arsitektur Holland yang indah.




Bentuk-bentuk rumahnya, susunan atau pembagian wilayahnya, taman-taman, perkebunan, semua menyerupai negara Belanda. Jika dicermati, sesungguhnya sama seperti di Jl. Gajah Mada dan Hayam Wuruk di Jakarta.


Tahun 1989, ketika pertama kali saya ke Belanda diundang PSSI untuk meliput Pelatnas. Saya seperti dejavu. Seperti pernah ke Amsterdam, padahal itu adalah kali pertama.


"Bingung ya?" tanya Bang Zul, pengurus klub Pelita Jaya, klub milik Bang Nirwan Bakrie yang baru saja menjadi juara Galatama dan kebetulan diberi tanggung jawab di tim nasional.


Saya mengangguk. "Lu kan pernah berkantor di kota?" lanjut Bang Zul. "Nah, salah satu sudut Asterdam ini persis kayak Jl. Gajahmada-Hayam Wuruk," katanya lagi.

Yaaaa ampun, betul juga.


Nah, begitu juga Cape Town dan Montagu, kota besar dan kota kecil di South Afrika itu disulap menjadi Amsterdam, Den Haag, dan kota-kota lain di Holland. Bedanya di sini jalan-jalannya lebih lebar dari aslinya, maklum lahannya memang jauh lebih luas dari Negeri Belanda.


Bedanya lagi dengan yang ada di kita, di sini  semua jalan, bangunan, bahkan tiang lampu, masih terawat dengan baik. Padahal ada rumah yang dibangun 1856.


Sementara di kita, atas nama kerakusan dan keserakahan, yang dibungkus dengan pembangunan, atas nama anti penjajahan, semua keindahan dan jejak sejarah,dihancurkan.


Khayelitsha, berbeda

Dari Green Point, pusat kota Cape Town, menuju- Khayelitsha, hanya sekiar 33,4 km dan 28 menit. Satu jarak yang sangat pendek. Logikanya jika pun ada perbedaanan, mestinya tidak terlalu jauh. Tapi....


Kita bergerak melaui jalan nomer-2. Ohya, di Afsel, jalan antar wilayah memang hanya diberi nomer bukan nama. Misalnya dari Montegu ke Aqualia Private Safari yang berjaraj 95 km, jalan sepi tapi mulus itu diberi nama R-318.


Dari pusat kota kita menuju arah barat, tepatnya ke Western Cape. Kita langsung melewati Bishop Lavis, Nyanga, dan Cape Town Internasional Airport. Tibalah kita di kawasan yang sama sekali berbeda, ya,  Khayelitsha namanya.


Persis seperti bumi dan langit. Bukan saja kita tak akan menemukan arsitektur bergaya Holland, bahkan kita tidak akan menemukan jalan beraspal. Kita sungguh-sungguh seperti memasuki negeri antah- berantah.



Rumah-rumah yang tumbuh dalam jumlah belasan hingga puluhan ribu itu, terbuat dari seng-seng, kardus-kardus, dan papan-papan bekas. Berpetak-petak, berdempet-dempet. Dan menimbulkan rasa ngeri dan rawan yang luar biasa.


Kita dihadapkan pada kenyataan bahwa keindahan yang memuaskan mata dan hati kita di pusat kota Cape Town, Montagu, Gordon Bay, Klienmond, Sir Lowry's Village, dan lainnya, mendadak lenyap begitu saja. Kita seperti dihadapkan pada Afrika yang sesungguhnya. Afrika yang hitam, kumuh, keras, dan miskin.


Di wilayah Gordon Bay sesungguhnya ada juga wilayah kelas menengah bawah, tapi pemukimannya masih lumayan layak. Rumahnya berbentuk rumah, ada dinding dan genting. Ada jalan lingkungan yang lumayan baik, dan bersih.


Ya, wilayah yang bedanya seperti bumi dan langit itu Khayelitsha. Dari catatan _Wikipedia,_ Khayelitsha  ( / k aɪ . l iː tʃ / ) adalah sebuah  kotapraja di Western Cape ,  Afrika Selatan , di Cape Flats di Kota-Kota Metropolitan Cape Town. Namanya Xhosa  untuk Rumah Baru. Kota ini terkenal sebagai kotapraja terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat di Afrika Selatan.

 

Luasnya 38,71 km2 dan populasinya saat ini sudah di atas 2 juta jiwa. Awalnya 1981, hanya 300 ribuan. Tapi pertumbuhannya paling pesat se Afrika Selatan.


Jika dulu hanya orang-orang hitam, saat ini sudah beragam. Penduduknya saat ini, terdiri atas: Afrika Hitam 98,6%, Berwarna 0,6% , India/Asia 0,1%, Putih 0,1%, Lainnya 0,6%. 


Gubuk bertumpuk

Bagi warga Jakarta, khususnya yang tinggal di Jakarta Selatan, Kelurahan Guntur dan Setiabudi. Di era 1960-80an,  pinggir-pinggir kali Malang, dari Manggarai-Petamburan, wabil khusus dari ujung Timur jalan Sultan Agung hingga Jl. Blora, rumah- rumah dari kardus, berbentuk kotak- kotak, berdiri, memadat, dan bertumpuk-tumpuk.


Di situlah tinggal orang-orang dari daerah yang merantau. Tidak memiliki pekerjaan hingga tak punya uang untuk mengontrak rumah sungguhan. Mereka membangun perkampungan tak layak huni. 


Karena tuntutan ekonomi, tidak sedikit wanitanya yang menjadi pekerja sex komersial, dan tak sedikit pula kriminalisasi terjadi. Memang tidak semua, tapi karena ada yang melakukan hal itu, maka dampaknya mereka semua dicap sama.


Nah, Khayelitsha pun demikian. Tidak seluruhnya mereka yang tinggal di situ orang miskin. Orang yang tidak berpendidikan.

Tapi, karena mayoritas miskin dan lebih dari 95 persen rumahnya terbuat dari seng- seng, kardus-kardus, serta papan bekas dan papan bekas. Lalu bentuknya pun kotak-kotak, maka lengkaplah stigma orang yang melihatnya demikian.


Begitu padatnya dan begitu sulitnya, Khayelitsha menjadi daerah yang tidak aman untuk dikunjungi. Bukan berarti daerah itu tidak dapat dikunjungi, tetapi kunjungan tidak boleh dalam jumlah yang sedikit, apa lagi seorang diri.


Meskipun kotapraja sudah memberikan ancaman bagi pelaku tindak kriminal, namun tetap saja pelanggaran terjadi pada para pendatang, khususnya bagi mereka yang datang dalam jumlah kecil.


Selain itu, kunjungan juga sebaiknya pada siang hari. Karena terang, maka jauh lebih aman ketimbang sore apalagi malam hari. Koordinasi dengan keamanan dan tokoh masyarakat menjadi sangat berguna untuk keamanan kita.


Menurut Britannica.com, Statistik kejahatan tahun 2020/21 menunjukkan bahwa di Khayelitsha, telah terjadi 265 pembunuhan. Artinya 22  kali terjadi setiap bulan atau o,78 kasus perhari. Pembunuhan tertinggi untuk tahun ini sampai Maret 2022, telah terjadi 224 kali.


UU GAA

Sebelum Nelson Rolihlahla Mandela, seorang pejuang revolusioner Afrika Selatan terpilih menjadi Presiden Afsel (1994-1999), Frederik Willem de Klerk merupakan Presiden kulit putih terakhir di Afrika Selatan. Ia menjabat sebagai Presiden dari September 1989 hingga Mei 1994, dan memimpin Partai Nasional atau National Party Afrika Selatan dari Februari 1989 hingga September 1997, dan masih menerapkan sistem antiapartheid.


Sistem apartheid menerapkan UU GAA (Group Areas Act) sejak 1950. Undang-undang ini menetapkan wilayah pemukiman dan bisnis di daerah perkotaan berbasis ras. 


Artinya, anggota ras di tempatkan di satu wilayah dan ras lain dilarang untuk masuk, apalagi tinggal. Menjalankan bisnis, atau memiliki tanah di dalamnya. Akibatnya ribuan orang kulit berwarna , Orang kulit hitam, dan orang India disingkirkan.


Ketika Cape Town akhirnya mulai menerapkan GAA, Cape Town mulai menerapkan Group Areas Act, lebih parah dari kota besar lainnya. Di pertengahan 1980-an, Khayelitsha telah menjadi salah satu kota paling terpisah di Afrika Selatan. 


Sebenarnya rencana untuk membangun Khayelitsha pertama kali diumumkan oleh Dr. Piet Koornhof  pada tahun 1983, saat itu, ia adalah Menteri Kerjasama dan Pembangunan.  


Pada tahun 1985, pinggiran Situs C memiliki 30.000 orang. Khayelitsha adalah salah satu upaya terakhir rezim apartheid untuk menegakkan GAA dan dipandang sebagai solusi untuk masalah: jumlah migran yang tumbuh pesat dari Eastern Cape, perlu dibatasi.


Sekali lagi, menurut wikipedia, diskriminasi dan kontrol populasi atas kulit hitam oleh pemerintah apartheid, tidak menghalangi orang kulit hitam untuk menetap di pinggiran Cape Town. 


Setelah penghapusan undang-undang GAA pada tahun 1987 banyak orang kulit hitam, terutama Xhosas, pindah ke daerah sekitar Cape Town untuk mencari pekerjaan. 


Pada saat itu, banyak orang kulit hitam telah menetap secara ilegal di kota- kota  seperti  Nyanga dan Crossroads.


Setelah Mandela jadi Presiden Afsel, UU GAA dihapus. Tapi, Khayelitsha sudah kadung jadi kampung kaleng. Meski saat ini tidak ada lagi larangan ras lain tinggal di sana, tetap saja mayoritas orang hitam bermukim di Nyanga, Khayelitsha, dan daerah-daerah kumuh lainnya.


Sedih sekali melihatnya...... ****

Penulis : M. Nigara

Wartawan Senior

Komentar

Tampilkan