Selamat Jalan Buya Azyumardi Azra Bukan Profesor Kaleng Kaleng

9/18/22, 17:50 WIB Last Updated 2022-09-18T10:50:51Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


 


AKSARANEWS.CO.ID. JAKARTA - Azyumardi Azra lahir di Lubuk Alung Sumatera Barat pada tanggal 04 Maret 1955. Meninggal di Selangor Malaysia,  Minggu 18 September 2022. Sehari sebelumnya kena serangan jantung dalam pesawat dari Jakarta tujuan Kuala Lumpur.


Arti namanya cukup puitis “Permata Hijau”. Dalam keluarga, Azyumardi biasa dipanggil “Edy” atau “Mardi” Azyumardi adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Azyumardi dibesarkan oleh orangtua yang sadar pentingnya pendidikan. Meski kondisi keluarganya sulit, ayahnya berkemauan keras agar anak-anak bisa sekolah. Ayahnya bercita- cita agar semua anaknya sekolah. Padahal, ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk membiayai pendidikan. Profesi yang dijalani ayahnya pun hanya sebagai tukang kayu, pedagang kopra dan cengkih. Dari gaji ibunya mengajar sebagai guru agama, Azyumardi mendapat kesempatan belajar.Perkenalan Azyumardi dengan dunia pendidikan berawal dari kata-kata yang terpampang di badan bus dan di belakang truk, ia juga belajar membaca dari judul-judul berita pada robekan kertas koran bekas dan majalah bungkusan. Ayahnya pun setia menemaninya saat ia baru belajar mengeja kata di badan bus yang setiap hari melintas di depan rumahnya.


Pada Tahun 1963, Azyumardi masuk sekolah dasar yang berada dekat dengan rumahnya. Sekolah tersebut bernama SD Negeri 01 Lubuk Alung. Berjarak 10 menit dengan berjalan kaki. Karena sudah pandai membaca, pelajaran sekolah dirasanya mudah saja. Di masa SD ini, Azyumardi memulai kecintaannya pada buku. Azyumardi kerap meminjam buku di perpustakaan sekolah dan membawanya pulang ke rumah. Buku kesukaan Azyumardi antara lain; Salah Asuhan karya Abdoel Moeis, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, karya Hamka. Dan juga buku cerita klasik seperti Sekali Tepuk Tujuh Nyawa, Musang Berjanggut, dan karya-karya Taguan Marjo. Meski sebenarnya buku-buku tersebut bukan ditujukan buat anak-anak. Cerita di dalamnya yang membuat munculnya kesadaran sosial dalam diri Azyumardi.


Saat masih menjadi murid Pendidikan Guru Agama (PGA), menurut kenangan teman dekatnya Fachry Ali, Azyumardi pernah menulis sajak yang dimuat di Harian ‘Indonesian Observer’ pimpinan  BM Diah. Penggalan liriknya: ‘Where my heart should be anchored?’


Tahun 1969 Azyumardi mulai Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Padang. Di sekolah menengah ini, bakat Azyumardi sebagai seorang pelajar yang cukup cerdas sudah terlihat, terutama di bidang pelajaran Matematika.Karena kemahirannya di bidang pelajaran tersebut, Azyumardi mendapatkan gelar “Pak Karmiyus”.10 Pak Karmiyus adalah guru Aljabar dan Ilmu Ukur (sekarang Matematika) apabila Pak Karmiyus tidak hadir, teman-temannya sering meminta bantuan Azyumardi untuk menjelaskan mata pelajaran yang sama di depan kelas.11 Di luar sekolah, dalam bidang sosial keagamaan, Azyumardi banyak bersentuhan dengan nilai-nilai Islam modernis, kendati ia juga merasa dekat dengan tradisi Islam tradisional. Kemudian pada tahun 1975 Azyumardi berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya.


Setelah lulus dari PGAN, ayahnya menghendaki Azyumardi agar kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padang. Namun, Azyumardi tidak berminat. Azyumadi menginginkan kuliah di Ilmu keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), atau belajar Sejarah di Universitas Andalas, Padang. Namun orangtuanya tetap menginginkan Azyumardi agar kuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam itu. Akhirnya, Azyumardi menentukan sikapnya yaitu kuliah di IAIN yang ada di Jakarta. Hal ini didasarkan pada pertimbangan, bahwa di kota metropolitan itu adalah tempat yang kosmopolit, dan kondusif untuk menghirup tradisi intelektual. Setidaknya, banyak putra Minang yang punya nama besar, dan pernah merantau di Jakarta, seperti Muhammad Natsir, Buya Hamka, dan sejumlah nama lainnya.


Azyumardi diizinkan oleh kedua orangtuanya untuk melanjutkan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semasa kuliah, Azyumardi dikenal sebagai aktivis di organisasi intra maupun ekstra di kampus. Di intra, Azyumardi menjabat sebagai ketua senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan di ekstra, Azyumardi menjadi ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang ciputat, yakni pada tahun 1981 sampai dengan 1982. Azyumardi pernah mengorganisasi kawan-kawan mahasiswa untuk melakukan demo terhadap pemerintahan Soeharto dalam sidang umum MPR tahun 1978. Hingga pada tahun 1982, Azyumardi berhasil menyelesaikan kuliahnya.


Pada tahun 1986 Azyumardi memperoleh beasiswa S2 Fullbright di Universitas Colombia, New York, Amerika Serikat dengan konsentrasi Sejarah. Dalam tempo dua tahun ia berhasil menyelesaikan program MA nya pada Departemen Bahasa- Bahasa dan Kebudayaan Timur Tengah (1988). Selanjutnya pada tahun 1989 Azyumardi memperoleh gelar MA nya yang kedua pada Universitas yang sama dalam bidang Sejarah melalui program Colombia University President Fellowship. 


Ditambah gelar M.phill pada tahun 1999 dalam bidang Sejarah. Akhirnya dari Jurusan Sejarah ini pula, Azyumardi memperoleh gelar Ph.D nya. Selanjutnya Azyumardi juga mengikuti program post doctoral di Universitas Oxford selama satu tahun (1995-1996).)


Fachry AliFachry Ali adalah kawan pertama yang mengajak Azyumardi bergabung dengan majalah Panji Masyarakat di bawah pimpinan Buya Hamka pada tahun 1978. Azyumardi merasa bahwa pekerjaan ini cocok untuknya. Ia banyak membaca dan mengamati, senang menulis dan Panji Masyarakat adalah tempat yang pas untuk mengembangkan semua itu. Dalam waktu tidak lama, Azyumardi menjadi wartawan Panji Masyarakat bersama Komaruddin Hidayat dan Iqbal Abdurauf Saimima.Di Panjimas Azyumardi sering kebagian tugas menyiapkan laporan utama menyangkut berbagai isu aktual, baik nasional dan internasional. Selain itu, Azyumardi juga bertanggungjawab membuat laporan tentang dunia Islam. Azyumardi merasa berutang budi kepada Panjimas, bukan hanya secara ekonomis, tetapi juga secara intelektual dan sosial. Berkat Panjimas-lah ia dapat masuk ke dalam lingkungan yang lebih luas, berhubungan dengan narasumber berita, dan juga terlatih melakukan wawancara. Pada tahun 1986 Azyumardi meninggalkan Panjimas dikarenakan harus berangkat ke Amerika guna melanjutkannya.


LRKN LIPI (1982-1983)

Azyumardi menempuh karir di LRKN LIPI pada tahun 1982-1983. Azyumardi mendapat ajakan dari kawan seangkatannya, Herman Hidayat, untuk sama-sama bekerja di Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Herman paham betul Azyumardi menyukai dunia penelitian dan penulisan. Di sisi lain, birokrasi di LIPI tidak terlalu ketat sehingga Azyumardi masih bisa bekerja sebagai wartawan di Panji Masyarakat. Azyumardi bekerja di LIPI bertepatan ketika ia lulus dari IAIN pada tahun 1982. Akan tetapi, karena ada kekurangsesuaian pandangan dengan direktur LRKN, Dr. Alfian, Azyumardi memutuskan untuk keluar dari LRKN LIPI pada tahun 1983.


Dosen Filsafat di IAIN Jakarta (1985-1986)

Kabar mundurnya Azyumardi dari LKRN LIPI terdengar sampai ke telinga Rektor IAIN Jakarta Prof. Harun Nasution. Harun Nasution kemudian memutuskan menarik Azyumardi menjadi dosen. Maka pada tahun 1985, Azyumardi menjadi tenaga pengajar di Fakultas Tarbiyah. Ia diminta mengajar mata kuliah Filsafat Barat. Penugasan mengajar mata kuliah ini tidak lain karena ia dianggap membaca banyak buku dan pemikiran filsafat, sejak pemikiran filsafat klasik, filsafat modern,strukturalisme, eksistensialisme, sampai pragmatisme.Selain mengajar filsafat, Azyumardi juga mengajar mata kuliah lain. Ia juga masih bekerja di Panjimas dan aktif dalam kelompok- kelompok diskusi. Tetapi, keadaan ini tidak berlangsung lama. Pada bulan Maret 1986, Azyumardi terpilih sebagai dosen muda IAIN Jakarta untuk melanjutkan pendidikan Pascasarjana di Amerika.


Rektor IAIN/UIN Jakarta (1998-2006)

Pada tahun 1995, Azyumardi kembali ke Indonesia dan langsung aktif sebagai dosen IAIN Jakarta setelah selesai studi doctoral di Universitas Oxford. ia pindah dari Fakultas Tarbiyah untuk mengajar Sejarah ke Fakultas Adab sesuai bidang ilmunya. Kemudian, Azyumardi juga bekerja di PPIM (Pusat Pengabdian Islam dan Masyarakat) sesuai Surat Keputusan dari Rektor yang mengangkat Azyumardi sebagai Wakil Direktur PPIM. Rektor IAIN kala itu, Quraish Shihab meminta Azyumardi mengisi jabatan struktural kampus, sebagai pembantu Rektor I yang bertanggung jawab dalam bidang akademik. Tepat pada bulan Februari 1997, Azyumardi resmi diangkat menjadi Pembantu Rektor I. Tetapi Azyumardi tidak lama bekerja sama dengan Quraish, yang harus meninggalkan kampus karena terpilih menjadi Menteri Agama Kabinet Pembangunan VII, pasca kepergian Quraish, Azyumardi tetap pada jabatannya sebagai Pembantu Rektor I.


Pada tahun 1998, tepat dalam usia 43 tahun, Azyumardi dilantik menjadi Rektor IAIN Jakarta. Sejak saat itu, persiapan mengubah IAIN menjadi UIN semakin matang. Azyumardi memulai langkah-langkah perubahan dengan menerapkan konsep IAIN dengan mandat lebih luas. Ia memperkuat Jurusan Psikologi Islam yang sudah ada, dan membuka Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah. Ia juga membuka Jurusan Ekonomi dan Perbankan Islam pada Fakultas Syariah pada tahun 1998/1999. Setahun kemudian, dibukalah program studi Agribisnis dan Teknik Informatika bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Ada pula program studi Manajemen dan Akuntansi. Pada tahun 2001, diresmikan juga Fakultas Psikologi dan Dirasat Islamiyah bekerja sama dengan Al-Azhar, Mesir, untuk memperkuat program agama. Dibalik perkembangan IAIN Jakarta yang pesat, ada jasa Prof. A. Malik Fadjar. Ia adalah Menteri Agama Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999) dan Menteri Pendidikan Nasional Kabinet Gotong Royong (2001- 2004). Tepat pada tanggal 20 Mei 2002, IAIN Jakarta dengan keputusan Presiden Megawati Soekarno Putri resmi menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada akhir tahun 2006, masa jabatan Azyumardi sebagai Rektor UIN habis. Posisi rektor UIN kemudian digantikan Prof. Komaruddin Hidayat.


Pada akhir tahun 2003, Ikhwanul Kiram salah satu wartawan dari Republika, meminta kesediaan Azyumardi untuk menulis artikel kolom setiap pekan di koran Republika. Sebelum bergabung Azyumardi terlebih dahulu melakukan konsultasi dengan beberapa temannya, salah satunya Idris Thaha. Tidak lama, pada tanggal 15 Januari 2004, Azyumardi memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Azyumardi secara intesif menulis artikel kolom setiap kamis untuk pembaca harian umum Republika, kecuali jika hari kamis masuk dalam hari libur nasional. Dari awal tahun 2004 hingga awal 2005, selama setahun Azyumardi telah menulis kurang lebih 50 artikel kolom dan dimuat di rubrik “Resonansi”. Tulisan-tulisan itulah yang kemudian dihimpun dan diterbitkan dengan judul Dari Harvard Hingga Mekkah.


Direktur Pascasarjana UIN Jakarta (2007-2015)

Pada awal tahun 2007, Rektor Komaruddin Hidayat meminta Azyumardi memimpin Program Pascasarjana. Azyumardi pun menyutujuinya, dari tahun 2007 sampai 2015 tercatat ia menjadi Direktur Pascasarjana berturut-turut.

 

Azyumardi Azra, Dari Harvard Hingga Mekkah, (Jakarta: Republika, Cetakan I, Deputi berbeda-beda. Tahun 2007-2008 Deputi Akademik dijabat oleh Dr. Fuad Jabali MA, Deputi Administrasi dijabat oleh Dr. Sri Mulyati, MA, dan Deputi Pengembangan Lembaga dijabat oleh Prof. Dr. Suwito, MA. Tahun 2008-2011 Deputi Akademik masih dijabat oleh Dr. Fuad Jabali MA, Deputi Administrasi dijabat oleh Dr. Udjang Tholib, MA, Deputi Pengembangan Lembaga masih dijabat oleh Prof. Dr. Suwito, MA. Tahun 2011-2013 Deputi Akademik masih dijabat oleh Prof. Dr. Suwito, MA, Deputi Administrasi dijabat oleh Dr. Yusuf Rahman, MA, Deputi Pengembangan Lembaga dijabat oleh Prof. Dr. Amany Lubis, MA. Pada tahun 2013-2015, jabatan struktural diganti dari Deputi menjadi Wakil Direktur, serta bagiannya dirubah menjadi Kajur Program Doktor dan Program Magister, Wakil Direktur I sekaligus Kajur Program Doktor dijabat oleh Prof. Dr. Suwito, MA, dan Wakil Direktur II sekaligus Kajur Program Magister dijabat oleh Dr. Yusuf Rahman, MA.25 Setelah tidak menjabat sebagai Direktur Pascasarjana, Azyumardi sekarang disibukan dengan kegiatannya sebagai dosen pengajar S2 UIN Jakarta, serta aktif mengisi acara Seminar di Kampus UIN Jakarta maupun diluar kampus.

 

Prestasi Yang Di Torehkan

Pada tanggal 28 September 2010, Azyumardi Azra menerima penghargaan the Commander of the British Empire (CBE Award). Penghargaan ini diberikan oleh Ratu Inggris, Elizabeth II. Azyumardi dinilai berjasa dan memberikan kontribusi penting dalam membangun hubungan baik antar agama di tingkat internasional, khususnya antara Indonesia dengan Inggris. Azyumardi merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini. Selain itu, Azyumardi juga orang pertama yang mendapat penghargaan CBE yang berasal dari negara bukan persemakmuran.26

Azyumardi juga mendapat penghargaan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture (SML) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada rabu tanggal 23 Agustus 2017. Penghargaan ini diberikan atas dedidaksi Azyumardi di bidang keilmuan Sejarah Peradaban Islam Indonesia.27 Dan yang terbaru, Azyumardi juga mendapat penghargaan The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star dari pemerintah Jepang. Penghargaan disematkan langsung oleh Kaisar Akihito di Istana Imperial Tokyo pada selasa 07 November 2017. Penghargaan ini didasarkan atas kontribusi Azyumardi dalam meningkatkan pertukaran akademis dan saling pengertian antara Jepang dan Azyumardi Azra Raih Penghargaan dari Pemerintah Jepang, www.uinjkt.ac.id (diakses pada 06 Januari 2018, pukul 17.00 WIB)

 

Hal ini merujuk pada saat Azyumardi menjabat Rektor UIN Jakarta (1998-2006) dengan menginisiasi program Japan- Indonesia Friendship Memorial untuk pembangunan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Syarif Hidayatullah (2003-2006). Hal lain yang menjadikan Azyumardi layak mendapatkan penghargaan ini ialah, keaktifan Azyumardi sebagai narasumber berbagai konferensi dan dialog yang disponsori oleh Sasakawa Peace Foundation Tokyo.28

 

Karya-Karya Azyumardi Azra

Azyumardi adalah tokoh pemikir yang tidak pernah diam. Obsesinya yang besar untuk mengubah pemikiran Islam di Indonesia telah ditorehkan melalui karya-karyanya, baik dalam bentuk tulisan artikel dan esai yang dimuat di berbagai media massa maupun sejumlah buku yang diterbitkannya. Artikel yang dipublikasikannya antara lain: “Education Law, Mysticism: Constructing Social Realities” dalam Mohd. Taib Osman Islamic Civilization in the Malay World (Kuala Lumpur & Istanbul: Dewan Bahasa dan Pustaka & IRCICA, 1997), “A Hadhrami Religious Scholar In Indonesia: Sayid Uthman” dalam U. Freitag & W.G. Clarence-Smith Hadhrami Trades, Scholars dan Statesmen in the Indian Ocean 1950-1960 (Leiden: E.J. Brill, 1977), “Opposition of Sufism in the East Indies in the Seventeenth and Eighteenth Centuries” dalam Frederick de Jong & Bernd Radthe Islamic Mysticism Contested: Thirdteenth Centuries of Controversies and Polemics (Leiden: Brill, 1999), “The Islamic Factor in Post-Soeharto Indonesia” dalam Chris Manning & Pieter van Diermen Indonesian in Transition: Social Aspects of Reformation and Crisis (Singapura: RSPAS-ANU & ISEAS, 2000). Sumber Biography AA/Google. ( barce/Sera-21)***


Komentar

Tampilkan