Mengembalikan Kejayaan dan Nama Besar DKI Jakarta

7/24/22, 15:48 WIB Last Updated 2022-07-24T08:48:06Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


 


AKSARANEWS.CO.ID. JAKARTA - Olahraga merupakan salah satu instrumen penting dalam pembangunan nasional. Bahkan
kemajuan atau potret suatu bangsa juga bisa dilihat dari suksesnya keberhasilan olahraganya.

Hal itu dikemukakan wartawan olahraga senior Ronny Pangemanan saat memberikan materi dalam acara Sosialisasi Perda (Sosper) DKI nomor 1 tahun 2016 tentang Keolahragaan di Jalan Papanggo 2 Gang Mawar, kelurahan Warakas Kecamatan Warakas Jakarta Utara, Minggu, (24/7/2022) .

Jika kita bicara soal DKI Jakarta serta korelasinya dengan dunia olahraga, maka jelas DKI Jakarta menjadi barometer keberhasilan pembinaan olahraga prestasi secara nasional.
Hal tersebut dapat dipahami karena DKI Jakarta banyak diuntungkan oleh berbagai hal misalnya ketersediaan (fasilitas) sarana dan prasarana dengan standart internasional.

Belum lagi dari sisi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas mulai dari atlet, pelatih hingga
manajemen olahraga.
Tak mengherankan jika dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang sudah dimulai sejak 1948, nama DKI Jakarta selalu berkibar dan terdepan dalam urusan pengumpul
medali emas terbanyak alias juara umum.

Bahkan DKI Jakarta terhitung sebelas kali jadi juara umum, dan pernah delapan kali secara beruntun tak tersentuh daerah atau provinsi lain di
tahun 1969-1996. DKI juga tercatat sebagai provinsi yang banyak berkontribusi atau mengirim atlet dan pelatih ke tim nasional termasuk pengiriman ke berbagai multi event internasional seperti SEA Games, Asian Games dan Olimpiade.

Menarik untuk membahas prestasi olahraga DKI Jakarta apalagi dengan adanya Perda No.1
tahun 2016 yang dikeluarkan Pemprov. DKI Jakarta saat ini perlu penyegaran untuk membangkitkan kembali motivasi masyarakat bukan saja dalam berolahraga yang digalakan
sampai ke tingkat RT/RW.

Tapi bagaimana adanya kesadaran dan niat dari para orang tua
untuk mendorong putra-putrinya menggeluti cabang olahraga yang diminati, dengan tujuan
melahirkan bibit unggul jadi atlet kebanggaan DKI Jakarta.

Menurunnya prestasi DKI Jakarta dalam dua penyelenggaraan PON terakhir tahun 2016 dan
2020, seharusnya bisa membuka mata semua stakeholder bukan saja KONi DKI tapi juga sampai ke Pemprov.

Pihak anggota dewan terhormat pun mesti ikut bersuara, mengawasi dan mendorong agar prestasi DKI Jakarta kembali bersinar.

Cukup sudah kegagalan di PON XIX Jabar dan PON XX Papua, dimana harga diri DKI Jakarta
sebagai Propinsi yang disegani sebelumnya, dirampas oleh Jabar. PON XXI tahun 2024 di Sumatera Utara-Aceh, nama besar DKI Jakarta dipertaruhkan.

DKI Jakarta harus jadi terdepan
untuk menjadi juara umum. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan target tersebut ?
Ada banyak hal yang harus dibuat, diantaranya adanya transparansi penggunaan dana serta
cara pemilihan atlet di berbagai cabor (cabang olahraga).

Dengan dana melimpah dan terbesar dibanding daerah lain, mestinya DKI Jakarta tak kalah dari Jabar. Tapi penggunaan dana dan bantuan dari Pemprov harus tepat sasaran dan tidak mengada-ada.

Seandainya muncul atlet-atlet dengan talenta bagus dari lima wilayah yang ada di DKI Jakarta,
pihak KONI pun tak boleh pilih kasih dalam menentukan seorang atlet bisa mewakili Provinsi
DKI Jakarta di Pesta Olahraga Nasional. Makanya disini dibutuhkan transparansi guna memaksimalkan potensi seorang atlet. Alangkah bangganya orang tua atlet jika anaknya terpilih.

Tapi alangkah kecewa dan sakit hati bila orang tua yang sudah mati-matian memotivasi anaknya yang punya peluang menyumbangkan medali buat DKI Jakarta, namun disingkirkan
dengan cara-cara yang tak elegan hanya karena kepentingan lain dari para petinggi KONI maupun pelatih.

Dalam hal ini Pemprov harus tegas.
Olahraga prestasi memang harus jadi primadona untuk mengembalikan citra DKI Jakarta di mata nasional. Namun terlepas dari itu, olahraga rekreasi juga tak boleh diabaikan.

Masyarakat DKI Jakarta harus tetap berolahraga guna menjaga kebugaran termasuk meningkatkan imun.
Kesehatan itu penting dan menjadi tugas Pemprov untuk menyiapkan sarana serta prasarana
agar masyarakat bisa berolahraga.

Harus diakui saat ini terasa sulit melihat adanya lahan kosong untuk dijadikan fasilitas tempat
olahraga di DKI Jakarta, seiring dengan banyaknya pembagunan pusat perbelanjaan atau Mal
yang tumbuh pesat di mana-mana. Wajar jika Pemprov pun dihadapkan pada situasi dan kondisi pelik serta sangat dilematis.

Disatu sisi ingin meningkatkan prestasi serta mengakomodir keinginan masyarakat untuk berolahraga, namun di sisi lain lapangan tak memadai.

Namun apapun yang harus dihadapi pasti Pemprov punya solusi. Semoga Perda tahun 2016

Tentang Keolahragaan ini bisa menjadi bagian terpenting dalam mesin politik guna memperkuat kebijakan Pemerintah DKI Jakarta agar ruang berolahraga bagi masyarakat yang ada di DKI Jakarta tetap tersedia.

Salam Olahraga, Salam Sehat dan Tetap Semangat !!!. ****

Penulis : Ronny “Ropan” Pangemanan.


Komentar

Tampilkan