PSSI Jelang Macth day FIFA : Menang-Kalah vs Bangladesh

5/28/22, 08:47 WIB Last Updated 2022-05-28T01:47:35Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini





 


AKSARANEWS.CO.ID. RABU, 1 JUNI 2022, Tim nasional Bangladesh akan menguji kesiapan tim Garuda di Stadion Jalak Harupat, Soreang, Bandung sebelum terjun di penyisihan Pra Kualifikasi Asia, 2023, Kuwait. Indonesia berada di grup A bersama tuan rumah Kuwait, Yordania, dan Nepal.


Laga penyisihan yang akan digelar di stadion Jaber Al-Ahmad Internasional Stadium itu dimulai 8-15 Juni. Seperti kita ketahui, Kuwait pernah dua kali menjadi finalis dengan sekali 'runner up'  dan sekal juara 1976 serta 1980, Yordania juga pernah jadi 'runner up'. 


Tim Garuda senior sendiri sejak 1956 dimulainya Kejuaraan Asia, baru empat kali lolos dari babak kualifikasi: 1996, 2000, 2004, dan 2007. Selebihnya, ya menyedihkan.


Skuad Garuda besutan Shin Tae-yong tergabung dalam Grup A bersama Kuwait, Yordania, dan Nepal. Pasti tidak mudah.


Kembali ke laga FIFA _match day_ vs Bangladesh. Kita tentu berharap ada sesuatu yang bisa dicapai oleh pasukan STY ini. Apalagi saat ini tiga debutan Naturalisasi sudah siap: Jordi Amat, Sandy Walsh, dan Elkaan Baggott. Ketiganya akan menambah jumlah pemain naturalisasi, dan mudah-mudahan memuluskan langkah kita.


Meski banyak pihak yang kurang setuju, bagi saya, tidak ada yang salah. Toh saat kita berjuang melawan penjajah Belanda dulu, ada banyak 'pejuang naturalisasi', satu di antaranya Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi; 8 Oktober 1879 – 28 Agustus 1950) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia. Dan, banyak negara termasuk Jerman, Inggris ,dan Prancis juga menggunakan.


Jadi, sepanjang naturalisasi itu bisa membantu, kenapa tidak? Meski demikian bukan berarti PSSI tidak mau melakukan pembinaan dengan baik dan benar. Dan, naturalisasi jangan jadi tujuan utama.


Kenangan

Saya ingin mengajak kita semua mundur ke tahun 1985. SEKITAR 90 000 pendukung tim nasional Garuda telah memadati stadion Utama Senayan, Jakarta. Herry Kiswanto, Rully Neere, Bambang Nurdiansyah, dan kawan-kawan akan kembali berlaga melawan Bangladesh, di babak penyisihan Sub-Grup 3 B, Pra Piala Dunia 1986, Meksiko.


Laga pertama melawan Thailand, kita menang. Sinyo Aliandoe, sang pelatih yakin betul di laga kedua ini kita akan kembali menang. Terus terang, tim besutan Oom Sinyo, begitu sapaan akrab sang pelatih, memang luar biasa.


Kombinasi senior dan yunior terjalin sangat baik. Biasanya, anak-anak yunior atau mereka yang baru pertama masuk dalam skuad tim nas, kurang disambut oleh para seniornya. Arogansi dan 'intimidasi' selalu saja terjadi. Akibatnya, mereka gagal mengembangkan kemampuannya.


Di tim PPD 1986 ini, sepanjang pengamatan saya, tidak terjadi. Peran Oom Sinyo dengan dua asistennya Salmon Nasution dan Bertje Matulapelwa, begitu luar biasa. Trio pelatih itu mampu menjembatani kesenjangan dengan baik.


Yang tak kalah luar biasanya peran duet _chief de mission_, Mayjen TNI (purn) Acub Zainal dan Oom Benny Mulyono. Keduanya tidak hanya berperan sebagai CDM dan manajer, tapi sebagai sahabat, orang tua, dan kakak. Sekali lagi, situasi seperti demikian dalam tim nasional kita, belum pernah saya lihat. 


Dari 'rumah besar' PSSI, Marsekal Muda Kardono, mampu mengayomi tim secara utuh. Selain berpangkat bintang dua TNI-AU, Kardono juga menjabat sebagai Sekertaris Militer, Presiden Soeharto. Pada masa itu, ada seloroh yang berbunyi begini: "Kardono boleh bintangnya cuma dua, kecuali Jendral Benny Moerdani, Panglima ABRI, semua jendral takluk dengan Kardono!"


Peran Sekmil memang sangat luar biasa di masa itu. Posisi Kardono tidak hanya berpengaruh pada karir seorang perwira menengah-tinggi di lingkup ABRI, tapi juga dapat sangat menentukan mulus atau tidaknya karir seorang pejabat di pemerintahan pusat-daerah, serta BUMN. Bahkan untuk jabatan-jabatan tinggi di perusahaan Swasta pun, begitu juga.


Hebatnya Kardono tidak mentang-mentang. Ia tidak melakukan intervensi pada tim nas. Siapa yang akan dipilih dan diturunkan, serta strategi apa pula yang akan diterapkan, bulat-bulat diserahkan pada yang paham. "Saya harus mengakui pengetahuan tentang sepakbola, tidak ada. Jadi, ya monggo Pak Acub, Pak Benny, dan Sinyo-lah yang lebih pantas," katanya suatu ketika saat saya (BOLA) mewawancarainya di Binagraha.


Malah ketika diminta pendapat khususnya tentang kemungkinan lolosnya tim nas PPD, Kardono sungguh hanya pada tataran awam. " _Wis ta omongi ra mumpuni, kok yo ngeyel nanya gitu_, " katanya sambil tertawa.


Tak heran, dari daftar panjang Ketua Umum PSSI, Kardonolah yang tersukses. Dua kali juara Sea Games, semifinalis Asian Games, Juara sub-Grup 3B, pra Piala Dunia, dan semifinalis antar klub Asia.


Sungguh, itulah tim yang sangat indah. Wartawan, Bang Jonh Halmahera, Eddy Lahengko (SP), Mas Sumo dan saya (BOLA), Yesayas (Kompas), Mas Budiman dan Bang Mardi (Merdeka), Riang Panjaitan (Sinar Pagi), Bambang Soekendro (BB), Alfon Suhadi (Suara Karya), Binsar Panjaitan (Analisa), serta beberapa lainnya, sering menjadi partner diskusi. Tidak hanya itu, 80 persen pemain yang ada dalam tim nas adalah pilihan kami setelah berdebat panjang.


Menurut catatan saya, ini adalah tim nasional kita  keempat yang terbaik. Sebelumnya tim nasional yang diarsiteki Tony Pogagnic, 1958-61. Lalu tim nasional yang ditangani Djamiat Dhalhar 1964-70, dan tim asuhan Wiel Coerver 1975 adalah tim yang memenuhi kriteria luar biasa.


Saya tak ragu mengatakan tim-tim tersebut pantas masuk ke Piala Dunia atau Olimpiade. Sayangnya, belum sekali pun kita lolos ke Piala Dunia dan hanya sekali tampil di Olimpiade Merlbourne 1956, itu pun karena undangan tuan rumah Australia.


Jika ada orang yang bertanya mengapa tidak lolos? Jawabannya bisa sangat banyak dan sangat _debatable_. Akan banyak versi yang timbul dari yang normal sampai yang ehem-ehem. Dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal. Dari semua itu, ujungnya keprihatinan dan kesedihan.


Berikut  'head to head' Timnas Indonesia vs Bangladesh:


Indonesia vs Bangladesh (4-0) (29/7/1975)


Indonesia vs Bangladesh (2-1) (10/8/1984)


Indonesia vs Bangladesh (2-0) (18/3/1985)


Bangladesh vs Indonesia (2-1) (2/4/1985)


Bangladesh vs Indonesia (1-1) (28/4/1985)


Bangladesh vs Indonesia (0-2) (13/11/2008)



Piala Asia AFC


Tahun      Babak      

 1956      Mengundurkan diri

 1960       -

 1964       -

 1968       Tidak lolos kualifikasi

 1972      -

 1976      -

 1980      -

 1984       -

 1988       -

 1992        -

 1996        Babak grup     ke-11301248

 2000        Babak grup       ke-11301207

 2004         Babak grup       ke-11310239

 2007       Babak grup       ke-11310234

 2011       Tidak lolos kualifikasi

 2015          -

 2019          Diskualifikasi

 2023          Akan ditentukan 

(berbagai sumber)


Penulis   : M. Nigara

Wartawan Sepakbola Senior

Komentator tvone

Penasehat PWI Pusat

Anggota SIWO Lintas-Generasi

Anggota AIPS, INA 0076/1

                                  ****

Komentar

Tampilkan