70 % PASIEN KANKER PAYUDARA DATANG PADA STADIUM LANJUT

2/03/22, 20:49 WIB Last Updated 2022-02-03T13:49:03Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


AKSARANEWS.CO.ID. JAKARTA- Hari Kanker Sedunia (world Cancer Day) diperingati setiap tanggal 4 Februari. Tahun 2022 tema yang diambil yaitu “Close The Care Gap” yang artinya Hentikan Kesenjangan Perawatan. Dengan tema ini di harapkan tidak ada lagi kesenjangan pelayanan kesehatan di masyarakat terkait masalah kanker.  


Linda Agum Gumelar, selaku Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada acara Media Briefing dalam rangka bulan peduli Kanker Sedunia yang diselenggarakan secara virtual (2/2) oleh Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa penyakit kanker  merupakan salah satu penyebab kematian yang tinggi di dunia dan di Indonesia.


Data GLOBOCAN 2020,  kejadian baru kanker di dunia meningkat menjadi 19,2 juta dengan tingkat kematian sebanyak   9,9 juta, sementara kasus kanker payudara di seluruh dunia menempati urutan pertama kejadian kanker dengan sekitar 2,3 juta kasus baru dan 680 ribu kematian. Di Indonesia terdapat kasus baru kanker payudara mendekati angka 66 ribu dengan tingkat kematian lebih dari 22 ribu jiwa. Hal ini dikarenakan 70% datang pada stadium lanjut.


“Kejadian ini bisa terjadi karena berbagai hal apakah karena keterlambatan berobat dari sisi pasien [patient delay] atau keterlambatan dari penyedia layanan [provider delay], misalnya dari sisi tenaga medis, sarana dan prasarana”. Ujar Linda Agum Gumelar yang Bersama YKPI gencar melakukan sosialisasi deteksi dini kanker payudara guna menekan adanya stadium lanjut di Indonesia.


Berbagai kegiatan YKPI terus menerus dilakukan secara berkelanjutan seperti dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan SADARI, menemukan kanker payudara pada stadium dini dan menghilangkan stigma tentang kanker payudara. 


Selain itu YKPI tidak henti-hentinya mengajak untuk pentingnya skrining dan deteksi dini kanker payudara  karena dengan mengetahui dan melakukan secara rutin skrining dalam bentuk SADARI dan SADANIS akan membantu untuk mencegah  terjadinya kanker payudara stadium lanjut.


YKPI juga melakukan kegiatan pelatihan praktek SADARI bagi masyarakat dan kader kesehatan  dan  sosialisasi tentang deteksi dini kanker payudara kepada organisasi perempuan, Persit KCK, Universitas, komunitas Milleneal, organisasi profesi, dengan adanya sosialisasi ini dapat memperluas pengetahuan masyarakat tentang kanker payudara sehingga akan lebih memahami dan mengenali bagaimana cara pencegahan dan penyembuhannya. 


“Setelah terhenti saat pandemic Covid 19, YKPI kini kembali siap melayani masyarakat untuk pemeriksaan mammografi  melalui Unit Mobil Mammografi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku”, ungkap Linda.  


“Berdasarkan data Globocan 2020, kasus kanker yang paling tinggi di Indonesia adalah kanker payudara dan leher rahim. Kanker payudara pada tahun 2020 data menunjukkan 65.858 dan kanker leher rahim 36.633”,  kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, Dr.dr. Maxi Rein Rondonuwu.


Selain itu ia menyebutkan bahwa kanker merupakan salah satu penyekit yang menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, yakni berkisar 100 juta kasus kematian. Untuk itu beliau meminta seluruh fasilitas kesehatan dapat meningkatkan pemberian layanan deteksi dini bagi pasien pendertia kanker. 


“pencegahan harus dilakukan di awal, dengan melakukan deteksi dini kemudian melakukan pencegahan dengan menghilangkan faktor resiko”, tambahnya.


Aspek budaya dan pembiayaan menjadi tantangan dalam menangani penyakit kanker di Indonesia, masih ada tantangan yang harus kita hadapi yaitu kepedulian masyarakat bahwa kurangnya pengetahuan, perasaan takut bahkan  malu untuk melalukan pemeriksaan, kata Plt. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Elvieda Sariwati.


Meskipun pemerintah telah menjalankan berbagai strategi menanggulangi permasalahan pada pasien kanker tapi karena kurangnya pengetahuan menyebabkan masyarakat enggan melakukan pemeriksaan lebih dini.      Kurangnya pengetahuan dan ketakutan itu disebabkan budaya ketimuran dalam masyarakat yang menganggap bahwa penyakit kanker khususnya kanker payuda dan leher rahim menjadi hal yang tabu akibat harus memperlihatkan organ intim pada tenaga kesehatan. 


Ketakutan ini juga diperparah dengan keluarga yang tidak mendukung pasien melakukan pemeriksaan. Untuk itu pihaknya melakukan berbagai upaya penguatan dalam layanan penderita kanker seperti peningkatan  pengetahuan dan kepedulian masyarakat melalui penyebaran informasi yang melibatkan semua pihak dan pemenuhan akses kesehatan melalaui pelatihan dan pemerataan tenaga kerja terlatih, kata Elvieda.  


“Dengan skrining dan deteksi dini kanker payudara dapat disembuhkan”. Pentingnya melakukan deteksi dini kanker payudara karena semakin dini kanker payudara terdeteksi, makin banyak pilihan terapi, makin tinggi angka kesembuhan, makin rendah total biayanya.(PR/Sera-21)****





Komentar

Tampilkan