Bangkit Kukuh : Anxiety Care Indonesia Bantu Pulihkan Mental Korban Erupsi Semeru

12/13/21, 04:18 WIB Last Updated 2021-12-12T21:19:56Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



AKSARANEWS.CO.ID. LUMAJANG - Yayasan Anxiety Care Indonesia (ACI) hadir membantu pemulihan mental bagi korban bencana alam erupsi Gunung Semeru di Lumajang. Bencana alam ini selain menyebabkan kerugian material, para korban bencana alam juga akan dirundung kesedihan mendalam akibat kehilangan keluarga atau kerabat, shock, hingga trauma yang berujung pada gangguan mental yang berpengaruh terhadap keadaan psikososial. 


Menurut Bangkit Kukuh, Founder dari Yayasan ACI, bencana alam ini berdampak juga pada masalah kesehatan mental pasca bencana di antaranya yaitu depresi, kecemasan (anxiety), stress dan somatisasi (sakit fisik yang disebabkan oleh pola pikir kecemasan) terlebih pada anak-anak. "Oleh karena itu, Yayasan ACI bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Lumajang membantu trauma healing akibat bencana ini pada anak-anak, dengan mendirikan posko trauma healing oleh relawan dari Yayasan ACI dan profesional psikologi," jelas Bangkit saat berada di lokasi pengungsian bencana erupsi Gunung Semeru di di SMPN 1 Candipuro, Lumajang, Sabtu (11/12/2021). 


Dalam proses trauma healing tersebut didatangkan badut yang menghibur anak-anak yang membagikan es krim dan mainan. Anak-anak korban bencana merasa terhibur dan senang saat itu, sehingga mereka sedikit melupakan rasa sedih dan trauma saat bencana erupsi terjadi. "Saya berharap anak-anak ini bisa kembali semangat menghadapi kehidupan mereka," tutur Bangkit, yang juga Ketua Team Tanggap Darurat Gunung Semeru. 


Para relawan dari Yayasan ACI telah dibekali Psychological First Aid (PFA) agar bisa mencegah terjadinya gangguan kesehatan mental kepada penyintas bencana. Rizky Firdausi, salah satu relawan Yayasan ACI dari Regional Jawa Timur mengatakan korban erupsi rata-rata mengalami kecemasan akan kematian dan khawatir muncul ada bencana susulan. "Selain itu di kamp-kamp pengungsian mereka juga mengalami kesepian dan kebosanan yang secara tidak langsung berdampak kepada kesehatan fisik seperti pusing, sakit perut, dan nyeri" lanjut Rizky. ( PR/Sera-21). *****

Komentar

Tampilkan