In Memoriam. Selamat Jalan Sahabatku Hj. Verawaty...

11/21/21, 21:31 WIB Last Updated 2021-11-21T14:48:58Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 

INNALILLAHI wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang ke Rahmatullah, legenda bulutangkis putri kita, Hj. Verawaty Fajrin, Ahad (21/11/2021) pukul o6.58, di rumah sakit Dharmais. Vera wafat setelah bertarung dengan kanker yang insyaa Allah menjadi penggugur 

HARI itu sekitar 20-23 Maret 1980, saya bersama seorang sahabat se Kampus, STP, Totok, bertandang ke daerah Senen, Jakarta Pusat. Oleh Bos saya, redaktur Olahraga Harian Kompas, Bang Valens, ditugaskan menyaksikan semifinal All-England dari rumah Verawaty Wiharjo. 

Ya, saat itu Vera akan berhadapan dengan Lene Koppen, pebulutangkis Denmark, di laga final All-England, jika saya tak keliru. Vera menjadi _single_ wanita kedua kita yang bisa tampil di final. 

Di semifinal Vera mengalahkan Yonekura dari Jepang, 11-4 dan 11-9. Sebelumnya, tahun 1968 Minarni Soedaryanto, menjadi pebulutangkis putri kita yang pertama bisa menembus final All-England. Minarni  menang _rubber set_ di semifinal atas pebulutangkis Jepang juga, Takagi. Dan baru 1990-1991, Susi Susanti menjadi pebulutangkis kita yang mampu merebut gelar tunggal putri All-England. 

Nonton Bareng

Dulu, belum banyak media lokal melakukan liputan seperti yang ditugaskan oleh Bang Valens kepada saya. "Catat semua yang kamu lihat, " begitu kata Bang Valens meminta saya untuk melihat ekspresi ayah, ibu, dan saudara-saudara Vera saat pertarungannya melawan Lene Koppen. 

Banyak hal terjadi dan menjadi kenangan tersendiri. Ada juga 'perdebatan' terkait rencana Vera berpindah keyakinan. Ya, intinya liputan itu menjadi terobosan bagi pers kita. Bos saya, Bang Valens memang selalu selangkah di depan. 

Selepas liputan itu, Vera yang memang terbilang paling ramah di antara atlet pelatnas bulutangkis, menurut pandangan saya yang saat itu masih menjadi wartawan muda, menjadi dekat dengan saya. Obrolan saya dengan keluarga Vera selalu menjadi topik utama setiap kami ketemu. 

Apalagi saat Vera memperkenalkan Fajrin, calon suaminya. Beberapa kali kami ngobrol sangat akrab. Hijrahnya Vera ke agama islam, semakin membuat Vera menjadi orang yang paling baik. 

Sayang, selepas tahun 1983, saya ditarik oleh Bang Valens dari liputan bulutangkis _full_ ke sepakbola lokal. Tetapi setiap saya melewati Jl. Manila, mess atlet bulutangkis, saya biasa menyempatkan diri ngobrol jika kebetulan ketemu Vera. 

Vera selalu tertarik tentang diskusi saya dengan ayahnya. Ya, kecemasan seorang ayah pada anaknya yang pindah keyakinan. Argumen-argumen saya yang agak nyeleneh, tapi akhirnya bisa dipahami, membuat Vera senang. 

Lama tak jumpa, tiba-tiba saya dengar Vera sakit. Dan belum sempat menjenguk, kemarin dapat kabar Vera kritis. Dan, tadi pagi, hp saya kembali menerima info tentang berpulangnya Vera. 

Bayang saya langsung menerawang ke tahunn1980an, saya pertama bertemu bintang bulutangkis itu. Saya masih merekam tawa dan senyumnya. Suaranya masih seperti tersisa di telinga saya. 

"Maafin Vera ya Nigara," tukas Fajrin yang tampak tenang. "Lama kita gak ketemu," lanjut lelaki asal Kalimantan yang tetap memperlihatkan ke akrabannya seperti dulu.

Di bawahnya pusara sang legenda dipenuhi dengan bunga merah dan putih. 

Tak jauh dari makam, para legenda Imelda Wiguna, Irma, Rosiana Tendean, Ivana Lee memberi kesaksian pada para wartawan tentang hebatnya Verawaty. "Sungguh Kak Vera sangat luar biasa, " kata salah satu dari mereka. 

Verawaty Fajrin saat ini telah dikebumikan di blok AA, Tanah Kusir, di area Para Pahlawan dan Perintis Kemerdekaan. Menurut Andi Zamzami, suami Irma, dia mengucapkan terima kasih pada Pemda DKI. "Begitu saya telpon, langsung Kak Vera dapat tempat di sini, tempat yang cukup terhormat karena Kak Vera adalah pahlawan kita!" 

Selamat jalan sahabat, semoga Allah limpahkan rahmatnya yang luas untukmu. Allah ampuni seluruh khilafmu, dan Allah tempatkan engkau di sisiNYA, aamiin... 

M. Nigara

Wartawan Olahraga Senior

Komentar

Tampilkan