Kesalahan Berjamaah

9/22/21, 20:39 WIB Last Updated 2021-09-22T13:39:48Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



AKSARANEWS.CO.ID. BEBERAPA bulan lamanya saya tidak menulis dinamika persepakbolaan nasional dengan berbagai permasalahannya, mulai dari terhentinya kegiatan kompetisi strata

tertinggi akibat pandemi covid-19, persiapan timnas senior, dan persiapan timnas

U-19 ke Piala Dunia U-20 tahun 2023. 


Saya tergelitik menulis lagi, karena di media sosial pekan ini muncul pro-kontra di kalangan komunitas sepakbola nasional tentang keputusan Komisi Disiplin (Komdis)

PSSI dengan keputusannya atas kejadian pergantian pemain dalam pertandingan Liga

1 antara Persija Jakarta versus PSIS Semarang, Minggu, 12 September. 


Dalam pertandingan tersebut, PSIS Semarang melakukan empat kali pergantian pemain dari seharusnya tiga kali (ini tidak termasuk jika ada pergantian pemain di

waktu istirahat/jedah). Kasusnya dibawa ke Komdis, dan hasilnya Komdis tidak

melihat adanya pelanggaran regulasi yang dilakukan PSIS Semarang. Kompas.com. 


Sebaliknya, Komdis memutuskan adanya keteledoran dari perangkat pertandingan

yaitu komisi pertandingan, wasit cadangan, general koodinator, dan panitia pelaksana

yang kurang cermat. Komdis lalu menyerahkan kepada Komisi Wasit untuk

mengambil keputusan dan sanksi sesuai peraturan yang berlaku. 


Keputusan Komdis sudah jatuh, dan suka atau tidak, semua pihak terkait harus menerima. Apalagi sebuah keputusan selalu tidak bisa menyenangkan semua pihak. Namun, apakah peputusan itu sudah sesuai peraturan, ini yang menjadi persoalan, dan sempat ramai diperbincangkan di kalangan dan komunitas sepakbola nasional. 


Tiga kali kesempatan 


Saya bukanlah penggemar Persija, pencinta PSIS atau pengagum PSSI. Yang pasti, saya adalah pencinta kebenaran, sesuai dengan fakta dan dalil. Dalam kasus di atas, mari kita mulai menyorot dengan dalil peraturan yang berlaku. 


Saya tidak perlu mengutip peraturan, tetapi mencoba menyederhanakan saja sehingga

kita lebih mudah memahaminya. Dalam peraturan pertandingan yang dianut dan

diakui PSSI, hanya diperbolehkan melakukan pergantian pemain sebanyak lima orang, dengan tiga kali kesempatan dalam permainan. Ada satu kesempatan pergantian pemain lagi, dan ini tidak berlaku/terhitung dalam tiga kesempatan dalam2 x 45 menit permainan, yaitu di saat istirahat/jedah. 


Implementasinya di lapangan, setiap tim dapat melakukan pergantinan pemain di

kesempatan pertama dengan sekaligus lima pemain langsung, atau empat pemain, atau

tiga pemain, atau dua pemain, atau satu pemain di menit yang sama. Tentu tergantung kebutuhan saat itu. 


Jika sudah menggunakan pergantian lima pemain langsung di kesempatan pertama, maka tim tersebut sudah tidak punya hak lagi untuk melakukan pergantian di kesempatan kedua atau ketiga. Sebaliknya, jika di kesempatan pertama baru melakukan pergantian satu pemain, maka masih ada sisa empat pemain yang bisa dimasukan di dua kesempatan berikut, ditambah satu kesempatan waktu jedah. Begitulah seterusnya sampai usai jatah lima pemain diganti, jika memang perlu. 


Nah, bagaimana dengan pergantian pemain PSIS Semarang yang dilakukan dalam

pertandingan hari itu? Fakta di lapangan, PSIS telah melakukan empat kali pergantian

pemain dalam 45 menit kedua pertandingan dengan masing-masing menit yang

berbeda. Ini jelas melanggar regulasi. Apakah ofisial (manajer dan pelatih) PSIS

tidak menyadari hal itu? Atau mereka tidak mengerti dan menafsirkan peraturannya

dengan benar? 


Atau di kesempatan keempat pergantian pemain pada menit ke-89 (mungkin ini yang

kita orang luar tidak tahu), sudah ada komunikasi antara ofisial PSIS dengan

perangkat pertandingan tentang boleh tidaknya pergantian itu dilakukan. Itu sebabnya, mengapa Komdis tidak melihat adanya pelanggaran dilakukan oleh PSIS. Tetapi keteledoran telah dilakukan oleh perangkat pertandingan. 


Untuk asumsi di atas, bahwa jika memang sudah ada komunikasi antara PSIS dan

perangkat pertandingan, bukan berarti juga bahwa PSIS lolos dari hukuman. Bagaimanapun, mereka seharusnya sudah paham betul tentang regulasi pergantian pemain tersebut. Ini sama saja, mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan. 


Keputusan Komdis sudah jatuh dan bersifat final. Tentu, ada yang kecewa, ada yang tersenyum. Itulah dinamika sepakbola. 


Suporter dan mungkin seluruh bangsa Inggris mengeluarkan sumpah serapah kepada

Diego Maradona dan wasit yang memimpin pertandingan Inggris vs Argentina di

Piala Dunia Meksiko 1986. Tetapi keputusan wasit sudah mensahkan gol “tangan

Tuhan”Maradona ke gawang Inggris yang membuat kiper Peter Shilton tidak tidur

nyenyak selama berbulan-bulan, mungkin saja. 


Keputusan Komdis PSSI sudah jelas ngawur, tetapi tetap sah. Pihak-pihak terkait

terimalah dengan lapang dada. Itulah PSSI, kompak melakukan kesalahan berjamaah…!!!**** 


Penulis : Yesayas Oktovianus

                   Wartawan Spesialis Sepakbola

Komentar

Tampilkan