Iklan

Pengamat Sarankan Ganjar Cari Parpol Lain Jika Ingin Nyapres

5/29/21, 12:48 WIB Last Updated 2021-05-29T05:48:25Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini




Tidak diundangnya Ganjar Pranowo dalam acara PDIP yang dihadiri Puan Maharani di Semarang, Sabtu (22/5/2021) merefleksikan beberapa hal.


Pertama, adanya rivalitas terbuka antara Ganjar dengan Mba Puan terkait candidacy Pilpres 2024. Warning Ketua DPD PDIP Jateng, Mas Bambang Wuriyanto (Bambang Pacul) kepada Ganjar agar tidak agresif Nyapres, sebenarnya mengisyaratkan bahwa tiket PDIP tetap untuk Puan Maharani. Tidak diundangnya Ganjar adalah bagian dari pressure politik PDIP yang harus dicermati. 


Meski tidak sepopuler Ganjar Pranowo di berbagai hasil survey, tetapi Puan adalah representasi klan politik Bu Mega. Puan menguasai dan mengendalikan jaringan struktural partai. Tentu ini adalah modal politik penting Mba Puan. Oleh karena itu, jika Ganjar tetap ingin Nyapres, sebaiknya ia mencari parpol lain sebagai kendaraan politiknya. Saya kira partai-partai politik lain masih banyak yang terbuka soal Capres-Capwapres ke depan. 


Politik itu dinamis, tidak ada yang tidak mungkin. Asal elektabilitas Ganjar terus meroket, bukan tidak mungkin parpol-parpol lain juga akan meliriknya. Dalam konteks ini, Ganjar sudah punya modal politik penting yaitu tren elektabilitas yang bergerak naik. Modal politik lainnya adalah pengalamannya di legislatif (Anggota DPR RI) dan eksekutif (Guburnur dua periode). Yang tidak kalah penting adalah sentimen positif publik terkait ketegangan politiknya dengan Puan. Ganjar harus piawai, bagaimana bisa memetik insentif elektoral dan me-manage tone positif publik dari konflik tersebut.


Kedua, terkait dengan agresifitas Ganjar di medsos, saya kira tidak ada yang keliru. Popularitas merupakan elemen penting elektabilitas, dan ruang-ruang publik virtual adalah instrumen penting marketing politik. Jadi sah-sah saja. Tokoh-tokoh lain juga melakukannya, seperti Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, dll. Hanya saja, positioning Ganjar sebagai Gubernur mengharuskan ia harus tetap tunduk dan patuh pada instruksi Partai, termasuk perilaku politik nya di socmed. 


Dalam konteks etika politik Jawa, sindiran Mas Bambang Pacul saya kira sangat gamblang bahwa tugas utama Ganjar adalah sebagai Gubernur Jawa Tengah. Soal Capres-Cawapres, itu nanti, menunggu instruksi Ketua Umum, Bu Mega, jadi jangan mendahului. Itu yang kira-kira saya tangkap dari Mas Bambang.


Sindiran terbuka Mba Puan di acara tersebut juga mengisyaratkan bahwa Ganjar kurang melibatkan struktural partai dalam kinerjanya membangun Jawa Tengah, baik dalam kapasitasnya sebagai Gubernur, maupun sebagai kader Partai. Inilah yang menyebabkan hubungan Ganjar dengan struktural PDIP di Jawa Tengah kurang harmonis. 



Ike Suharjo 

Direktur Eksekutif Candidate Center;

Presenter TV One, 2008-2016

Contact +62 821-7714-6800

Komentar

Tampilkan

Terkini