Iklan

Buat Kawan-kawan Asal Semarang: SEMARANGAN...HALAH POKOKMEN

1/26/21, 18:24 WIB Last Updated 2021-01-26T11:24:07Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



AKSARANEWS. CO.ID - Saya diundang ke acara peluncuran buku 'Halah Pokokmen'. Sebuah buku soal 'dialek Semarangan'. Lumayan menarik. Acara dibahas oleh pakar dari Balai Bahasa dan dimoderatori oleh wartawan senior sebuah harian terkemuka. 


Yang datang lumayan banyak, mulai dari budayawan, wartawan hingga “penduduk asli”  Kota Semarang, dari kampung Sekayu sampai Pekunden; dari Lempongsari sampai Jagalan. 


Dari nama-nama kampung ini, mBah Coco jadi ngangeniiiiiiiiiiii seduluran karo cah-cah nJanggli, Plampitan, Bon Dalem, Terongan


Artikel 'ik', 'og', 'ki', 'hek-eh', 'ndhes', 'mbek' bertebaran di tiap kalimat yang terucap. 

"Hek-eh, aku lali ik..." Iya, aku lupa. 


Dialek Semarangan meski dianggap kasar dan urakan, menyalahi aturan dan pakem, tapi terbentuk dan dimengerti oleh sesama orang Semarang. 


"Ki mlebune metu ndi?" Ini masuknya lewat mana?

Kalau bukan Wong Semarang, pasti bingung. Pengaruh Jawa yang kental, bercampur dialek Hokkian dan Melayu serta prokem, membentuk sebuah pakem dialek yang khas. 


"Kok larang timen, cepek loro entuk rak?" Kok mahal sekali, seratus dapat dua, boleh tidak?


Ada kata-kata yang tak akan pernah ditemukan dalam dialek lain. Kata 'tek'ke' bisa berarti uteke (otaknya) atau diamkan saja. 


"Tek'ke wae, ben kapiran..." Biarin saja, biar bingung.

Pisuhan 'kakekane', 'kangkrengane', 'tlembengsing',  telemakya, telembokne, menjadi ciri khas dialek ini. 


"Kakekane, njaluk rokok'e neh.." Sialan, bagi rokoknya dong. 


Moderator dan pembahas sepakat dengan penulis buku, bahwa dialek Semarangan memang ada, meski cakupan wilayahnya tidak seluas dialek Banyumasan atau dialek Muria yang diucapkan orang Pati, Jepara, Kudus. 


"Supaya eksis, dialek Semarangan harus mempunyai aturan dan ketentuan serta karya tulisan," kata moderator. 


Saya mengangkat tangan. Saya minta waktu sejenak untuk membaca sebuah puisi khas Semarangan yang pernah saya baca; judulnya: 'Kecangar' (dibohongi), karya Sulis Bambang.


KECANGAR

Kecangar aku nresnani kowe cah ayu

Nyasak-nyasak numpak brompit metuk awakmu

Nyanggong ngarep seketheng kampungmu

Ra wani mlebu wedi yen mberung sebehmu


Telung sasi tak solu-solu

Lunga bon bin, taman lele, opo lawang sewu

Ben iso yang-yangan karo awakmu

Ra reti aku nopo kowe malah nglewung aku


Bengi bengi ra sengojo liwat Taman KB

Pating tlecek wandu golek sasaran

Gacok wedak kandel, pakaian seksi

Sepatu jinjit, minyak wangi aroma melati

Anggake yak yak'o koyo peragawati luar negeri


Kangkrengane....

Nang pojok ngisor papan reklame aku weruh kowe


Nganggo rok mini ngawe-awe sajak ngece

Koyo wong pah poh aku nyawang kowe

Jebule kowe wandu taman KB

Asem ik...., kecangar aku...


Piye? Nak nurut aku sih dialek iki memang semarangan. Bener rak, yo?


Nek ngono, yo ojo rewo-rewo....yo, njuk lite ngimi?. ****


Penulis : Erwiyantoro alias Cocomeo Cacamarica

Komentar

Tampilkan

Terkini