Evaluasi Dan Rapor Pebulutangkis Indonesia Di Thailand Terbuka. Ganda Putra Tidak Mencapai Target

1/26/21, 17:29 WIB Last Updated 2021-01-26T10:30:47Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



AKSARANEWS.CO.ID. JAKARTA- Dua turnamen Leg Asia yang diadakan di Bangkok, Thailand telah usai. Turnamen seri pertama yang bertajuk Yonex Thailand Terbuka 2021 berlangsung pada 12-17 Januari. Berikutnya seri kedua Toyota Thailand Terbuka berlangsung pada 19-24 Januari. Keduanya digelar di Impact Arena, Bangkok.


Pada seri pertama, Yonex Thailand Terbuka, Indonesia berhasil merebut gelar juara di sektor ganda putri dan runner up di ganda campuran. Greysia Polii/Apriyani Rahayu memenangkan pertandingan final atas wakil tuan rumah, Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai, 21-15, 21-12. Sedangkan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti kalah rubber game dari Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), 3-21, 22-20, 18-21.


Sayangnya, pada seri kedua, Toyota Thailand Terbuka, Indonesia tidak memiliki wakil di babak final. Greysia/Apriyani, di semifinal dikalahkan wakil Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan, 16-21, 18-21. Sementara Ahsan/Hendra juga kalah dari Lee Yang/Wang Chi Lin (Chinese Taipei), 21-14, 20-22, 12-21. 


Berikut evaluasi pelatih di masing-masing sektor:

Hendry Saputra – Pelatih Tunggal Putra

Kalau saya lihat dari main dan mendengar dari atletnya, mereka kehilangan fokus. Dan kurang siap hadapi kesukaran dalam pikirannya. Jadi kurang yakin, hingga mainnya tidak maksimal, tidak keluar. Itu yang saya tangkap dan lihat dari sisi non teknis. Kalau teknis sudah oke.


Untuk World Tour Final, saya yakin dari kedua kejuaraan sebelumya, Ginting seharusnya sudah lebih baik pikiran dan mentalnya. Kalau bisa main maksimal, harusnya bisa juara. Targetnya bisa main maksimal dan juara.


Rionny Mainaky – Kabid Binpres PP PBSI

Kalau untuk Gregoria, dia mentalnya bagus. Pada dua pertandingan dia bisa bermain maksimal. Tapi pada saat unggul, kalau ada sedikit kesalahan bisa membuat dia bermainnya jadi ragu, kurang yakin.


Ruselli mainnya terlalu tegang. Membuat langkahnya menjadi berat, mainnya tidak lepas dan tidak maksimal. Ini yang benar-benar harus dievaluasi dan diperhatikan, baik pemain atau pelatihnya.


Herry Iman Pierngadi – Pelatih Ganda Putra

Memang ganda putra tidak mencapai target. Ahsan/Hendra dan Fajar/Rian memang yang kami harapkan, tapi ternyata tidak berhasil. Mereka gagal. Nanti latihannya akan dievaluasi lagi. Memang banyak penurunan. Cederanya Ahsan ada pengaruhnya, tapi lebih besar pengaruh karena stamina, karena usia tidak bisa dibohongi. Saya berharap, nanti di World Tour Final penampilannya bisa lebih baik lagi.


Fajar/Rian banyak orang bilang menurun, memang betul mereka menurun. Memang lama tidak ada pertandingan, sepuluh bulan vakum, jadi sedikit kagok buat mereka. Ritme, irama, dan suasananya hilang. Jadi harus beradaptasi lagi. Tapi dari semuanya, kendala itu nomor satunya memang Fajar tangannya ada masalah, jadi tidak bisa maksimal sekali. Hanya mengandalkan Rian saja. Memang bukan alasan, itu kenyataan. Di samping itu memang penampilannya menurun, harus diakui.


Untuk 3 pasangan muda, mereka pertama kali turun di super 1000, tapi bisa melawan dan oke mainnya. Ada harapan dengan tiga pasangan muda ini. Mulai kelihatan hasil latihan mereka, bisa bersaing dengan lawan-lawan negara lain juga. Itu hasil selama 10 bulan lebih sparing dan latihan bersama dengan pemain-pemain top 10 yang ada di Indonesia. Seperti Kevin/Marcus, Ahsan/Hendra, dan Fajar/Rian.


Saya sih tidak selalu melihat menang atau kalahnya. Saya melihat cara mereka bermain, pola mereka bermain sudah terbentuk, sudah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tinggal nanti ditambahkan jam pertandingan dan ada beberapa teknik yang harus diperbaiki.


Eng Hian – Pelatih Ganda Putri

Penampilan Greysia/Apriyani di semifinal TTO kondisi badan tidak se-fresh seperti minggu lalu di YTO. Dibutuhkan kesegaran badan untuk menunjang gerakan di lapangan, tidak boleh kalah cepat dan tidak boleh turun konsistensinya. Kondisi badan yang tidak fresh, memengaruhi kualitas pukulan bola. 


Untuk penampilan mereka cukup konsisten dan bermain sesuai kebutuhan di lapangan. Hasil dari dua turnamen ini sudah melebihi target yang diberikan oleh PBSI. Tetapi tentunya saya sebagai pelatih dan Greysia/Apriyani sendiri pasti ingin selalu menjadi yang terbaik. Doakan saja untuk WTF kita dapat menjadi yang terbaik lagi.


Fadia/Ribka saya evaluasi di masalah non teknisnya. Dari dua turnamen ini sama sekali tidak menunjukan hasil latihan selama ini. Faktor takut kalah, tegang karena tidak bisa kontrol ekspektasi, ini yg harus diperbaiki. Dan untuk masalah teknik di lapangan, kedua pasangan ini harus lebih punya variasi pola permainan lagi. Apabila pola mereka sudah diketahui lawan, mereka tidak berani menerapkan pola main yang berbeda.


Nova Widianto – Pelatih Ganda Campuran

Jordan/Melati secara hasilnya tidak maksimal di dua pertandingan ini. Permainan juga kendalanya sama, masih banyak buang poin gampang, tapi yang kelihatan dari komunikasi dan greget nya kurang. Kita tidak masalahkan hasil, asal main sudah maksimal. Cuma 2 pertandingan ini saya liat gregetnya jauh tidak seperti waktu All England. Waktu keadaan tertekan, jadi gampang menyerah. Dari segi permaianan, musuh sudah pasti mempelajari keunggulan dari permainan Jordan/Melelati dan mereka kurang siap dengan itu.


Adnan/Mychelle target di dua turnamen ini blm tercapai. Secara permainan pun belum maksimal hampir semua pemain-pemain kita banyak mati bola-bola gampang yang tidak perlu. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki. Target Adnan/Mychelle 8 besar, jadi target kita mereka harus tembus ngalahin pemain unggulan untuk melaju ke 8 besar dan ternyata belum berhasil.


Evaluasinya semua yg sudah kalah selama dua turnamen ini hasilnya mengecewakan, tapi ini tetap jadi tanggung jawab kita sebagai pelatih. Lama tidak bertanding dan karantina di sini tidak bisa jadi alasan karena semua pemain juga mengalami.(Sera-21/badmintonindonesia.org)****

Komentar

Tampilkan