Tisha Yang Memulai, Tisha Yang Diakhiri

12/05/20, 16:15 WIB Last Updated 2020-12-05T09:15:26Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



 AKSARANEWS CO.ID. KITA (baca PSSI) pernah memiliki beberapa figur pelobi ulung di kepengurusan PSSI. Sebut saja, Nabon Noor, Benny Moelyono, Nugraha Besoes, dan terakhir Dali Tahir. Mereka ini semua dibekali kualifikasi berbeda-beda, tapi ada satu kesamaannya, yaitu pandai dalam berlobi.


 Nabon, Benny Moelyono atau yang biasa disapa wartawan dengan sebutan Oom

Benny dan Nugraha Besoes atau Kang Nug, begitulah kalau wartawan memanggilnya, terlibat dalam kepengurusan Kardono di tahun 1980-an. Kemudian muncul Dali Tahir

di kepengurusan Ketua PSSI, Agum Gumelar di akhir tahun 1990-an sampai awal 2000-an. 


Setelah generasi mereka, PSSI tidak lagi mempunyai figur untuk mendekatkan diri

dengan dunia luar, khususnya hubungan dengan AFF maupun AFC, atau FIFA

sekalipun. Ada Joko Driyono, namun belum banyak membuka jalur komunikasi yang

akrab dengan dunia internasional, khususnya kawasan Asia. Indonesia akhirnya lebih banyak hanya mendapat remah-remah kegiatan, dan bukan yang eksklusif.


 Dalam kepengurusan ketua PSSI Johar Arifin Husein, Eddy Rahmayadi dan kini

Mochamad Iriawan atau biasa disapa Iwan Bule (Ibul), posisi Bidang Luar Negeri

ditiadakan. Urusan luar negeri menjadi monopoli dan hak eksklusif ketua maupun

Sekjen. Di sinilah awal mula hancurnya bangunan komunikasi dengan dunia luar. 


Saat ini, di kepengurusan Ibul pun masih berlanjut, tanpa Bidang Luar Negeri. Tapi, tugas-tugas dan kepentingan luar negeri bukan diambil alih ketua atau Sekjen, melainkan oleh wakil Sekjen. Dan, hanya ada satu alasan untuk itu, mengapa wakil

Sekjen yang berperan dalam komunikasi dengan dunia luar, yaitu faktor bahasa. 


Nabon Noor, Oom Benny, Kang Nug dan Dali Tahir selain menguasai bahasa Inggris

secara aktif dan fasih, juga dibekali dengan pengetahuan sepakbola nasional maupun

internasional. Jadilah mereka sebagai wakil Indonesia dan PSSI yang disegani di

kawasan Asia maupun ASEAN. Oom Benny, sang pemilik klub Warna Agung, Jakarta

bahkan menguasai lima bahasa asing.  


Pertanyaannya, siapa berada di balik Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun depan? Apakah menjadi penyelenggara piala dunia nanti adalah sebuah hadiah cuma-cuma dari FIFA. Atau, kepercayaan itu didapat lewat sebuah proses, usaha dan perjuangan yang tidak mudah?


Yang pasti, untuk mendapatkan predikat tuan rumah sebuah event, harus melalui

beberapa proses. Dan, yang paling mendasar adalah mengajukan proposal, dan dilanjutkan dengan lobi-lobi yang intensif dan serius. 


Layu Sebelum Berkembang

Terlepas dari suka atau tidak suka, sosok yang membawa Piala Dunia U-20 ke Tanah

Air adalah Ratu Tisha. Lewat perjuangan Tisha, dan yang kemudian didukung penuh

oleh Presiden Joko Widodo dan pemerintah, Indonesia akhirnya mendapat

kepercayaan itu dari FIFA.


 Tahun 2018 saat sedang berlangsungnya Asian Games di Jakarta dan Palembang, muncul ide dari Tisha yang diperkuat beberapa rekan kerja di PSSI bahwa mereka

harus bisa menghadirkan sebuah kegiatan lain yang lebih dahsyat dari Asian Games. Target akhirnya diarahkan ke Piala Dunia U-20 tahun 2021. 


Gerak cepat dilakukan Tisha, yang saat itu menjabat sebagai Sekjen PSSI, dan

teman-teman mulai dari membikin dan mempersiapkan proposal sampai pada melobi orang-orang di FIFA. Yang terakhir ini, Tisha sangat yakin bisa melakukannya karena dia mempunyai sejumlah rekan yang pernah sama-sama menimba ilmu di badan tertinggi sepakbola dunia tersebut. 


Sebagai gambaran, sekitar dua tahun Tisha belajar dan mengambil gelar S-2 untuk

bidang Manajemen Olahraga di FIFA. Dan saat ini, beberapa rekan sekolahnya itu

memegang posisi strategi di FIFA. 


Ketekunan dan keseriusan Tisha dan teman berbuah hasil, ketika dalam biding di

Beijing, China bulan Oktober 2019, Indonesia memenangkan pertarungan atas dua kandidat sekaligus kompetitor lainnya, Brasil dan Peru. Dengan penawaran biaya

penyelenggaraan Rp 12 juta dollar AS (sekitar Rp 170 miliar), serta lobi-lobi yang

kuat, Tisha sukses membawa Piala Dunia U-20 ke Indonesia. Lalu, di manakah Tisha saat ini? Apakah dia masih berada dalam lingkaran orang-orang yang mendapat kepercayaan terlibat menyukseskan piala dunia. Atau sama-sekali tercampakkan? Atau, mungkin lebih tepat, Tisha layu sebelum berkembang…!


Korban Politisasi

Saya telah lebih dari 30 tahun terlibat di sepakbola nasional maupun internasional,

dan baru mendengar nama Ratu Tisha saat Eddy Rahmayadi memimpin PSSI di

tahun 2016. Sebelumnya, nama Tisha tidak santer terdenganr di lingkungan pergaulan

sepakbola nasional. 


Saya juga baru sekali bertemu dengan Tisha di awal tahun 2019 lalu, ketika ada

keperluan membicarakan tim nasional U-19 yang saat itu masih ditangani pelatih

Indra Syafrie. Selebihnya, saya tidak pernah bertemu. 


Namun, sebagai orang yang terus dan selalu memantau persepakbolaan nasional, saya menilai apa yang sudah dilakukan Tisha khususnya dengan membawa gelaran Piala Dunia U-20 ke Tanah Air, harus diapresiasi sebagai sebuah kerja positif bagi

sepakbola Indonesia, bahkan bagi nama baik bangsa dan negara. 


Terlepas dari persoalan internal di PSSI yang memaksa Tisha mengundurkan diri dari kursi Sekjen sekitar bulan Agustus tahun ini, maka apapun kontroversial yang muncul, Tisha sebetulnya masih dibutuhkan untuk terlibat dalam kepanitiaan piala dunia. 


Langkah ini pernah terdenganr sekitar empat bulan lalu, ketika Menpora Zainudin

Amali ingin menggandeng Tisha untuk bersama-sama duduk dalam kepanitiaan

INAFOC. Kebetulan pula, Amali kemudian dipercaya, karena posisi Menpora yang

diembannya, sebagai ketua INAFOC. 


Namun, info yang didapat penulis, Tisha akhirnya “ditendang” oleh Amali karena

adanya langkah-langkah politik yang ikut bermain dalam pembentukan kepanitiaan

yang sampai saat ini juga belum terbentuk secara formal.


 Boleh dibilang Tisha adalah korban politisasi di sepakbola. Ada deal-deal khusus dari pihak tertentu di tingkat pemerintah dan federasi yang meminta tidak boleh melibatkan Ratu Tisha dan Cucu Soemantri duduk dalam kepanitiaan piala dunia. Penulis telah berusaha menghubungi Amali sebagai Ketua INAFOC untuk mengklarifikasi masalah ini, tetapi tidak mendapat respons.


 “…Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga,”.


 Tisha, kalau yang memulai tetapi kau yang diakhiri demi keegoan dan kepentingan

pihak-pihak tertentu. Celakanya, para pemangku kepentingan ini, lebih banyak

bersafari dan hanya meningkatkan popularitasnya daripada serius mengurus dan membangun sepakbola menjadi lebih baik.


Padahal sebagai orang yang menguasai lima bahasa asing (Inggris, Spanyol, Perancis, Italia dan Jerman), Tisha memiliki semua kriteria yang dibutuhkan saat ini untuk duduk dalam kepanitiaan piala dunia. Dengan penguasaan lima bahasa asing serta memiliki network yang kuat dengan FIFA, Tisha akan menjadi sosok yang begitu penting, terutama dalam membangun komunikasi dengan FIFA. 


Sebetulnya, untuk saat ini dan jangka panjang, Tisha adalah aset penting bagi

kepengurusan PSSI dan sepakbola Indonesia. Dia adalah figur yang dapat memainkan peranan yang pernah dilakoni Nabon Noor, Oom Benny, Kang Nug dan Dali Tahir. Tetapi, apa daya, Tisha hanya seorang yang saat ini hanya sebagai Wakil Presiden AFF, posisi yang diperolehnya karena kualifikasi individu, dan bukan karena jabatan institusi atau struktural dari federasi. 


Kelemahan dan kekurangan komunikasi PSSI dengan dunia luar pun sudah mulai terasa dalam proses menuju piala dunia tahun depan. PSSI sangat mengurung diri, terutama oleh ketua dan Sekjen yang tertutup, atau lebih tepat menutup diri dari wartawan. 


Media oficer PSSI untuk piala dunia, Esko Rahmawanto mengatakan, saat ini pihaknya dua kali dalam sepekan membangun komunikasi yang intens dengan FIFA. “Lewat Sekjen, kami selalu berkomunikasi dengan FIFA membahas perkembangan terakhir persiapan piala dunia. Komunikasi itu dilakukan dua kali dalam sepekan,” kata Eko.


 Sayangnya, komunikasi yang dilakukan PSSI dengan FIFA ini tidak terekspos keluar, sehingga masyarakat dan terutama insan sepakbola nasional tidak mengetahui persis sudah sajauh mana persiapan Indonesia menggelar hajatan bergengsi tersebut tahun depan. 


Mari berharap lebih baik ke depan. Sepakbolanya Pak…!?****


Penulis : Yesayas Oktovianus

Wartawan (Kompas 1983-2016) Spesialis Sepakbola.

Komentar

Tampilkan