Iklan

Dr. Danang Tri Wahyudi, Sp. KK : Solusi Mengatasi Efek Samping dari Pengobatan Kanker

12/14/20, 08:48 WIB Last Updated 2020-12-14T01:50:04Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



 AbKSARANEWS.CO.ID.JAKARTA- Penyakit kanker memang hingga detik ini belum ditemukan obatnya. Namun, para pasien kanker bisa melakukan pengobatan untuk memperlambat penyebaran sel kanker. Seperti kemoterapi, radiasi, dan masih banyak lagi pengobatan yang bisa dilakukan  para pasien kanker. Sayangnya, setiap pengobatan yang dijalani mengandung efek samping yang tidak sedikit dan dapat mengganggu pasien dalam kehidupan sehari-hari. 



Hal tersebut terungkap pada  webinar Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dengan tema “ Tetap Cantik Selama Pengobatan Kemoterapi & Radiasi, Tips Perawatan Kulit dan Mencegah Efek Samping “, Jum’at (11/12). 


Nara sumber  dr. Danang Tri Wahyudi, Sp. KK menjelaskan setiap pengobatan yang dilakukan  para pasien kanker memiliki efek samping. Efek samping tersebut terjadi pada kulit, rambut dan kuku. 


“Seperti yang kita ketahui bahwa pengobatan kanker itu banyak memberikan efek samping, terutama kanker-kanker pada wanita dan ini sangat mengganggu terutama mengganggu penampilan dan juga mengganggu pada kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak pengobatan yang dilakukan oleh pasien kanker banyak target pengobatan yang penting untuk demostasis kulit, rambut, dan kuku sehingga toksisitas pada dermatologi merupakan efek samping yang sering terjadi. Seperti kita ketahui yang sebenarnya sering terjadi adalah kekeringan pada kulit yang hampir selalu terjadi dan kalau ringan memang tidak terlalu mengganggu tetapi kalau sampai hebat sekali tentunya akan menimbulkan rasa gatal dan akan sangat mengganggu kualitas hidup,” jelasnya. 


Dokter yang masih aktif di organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini juga memaparkan  ada beberapa efek samping di bidang dermatologi yang terjadi pada pasien kanker yang menerima obat onkologi sistemik.


“ Toksisitas di bidang dermatologi dapat terjadi pada wanita yang menerima obat onkologi sistemik sebagai anti kanker terapi. Yang sering terjadi adalah alopecia. Alopecia ini bisa refersible tetapi juga bisa permanen. Kemudian, yang berikutnya adalah hand and food syndrome. Ini juga sangat mengganggu, tetapi ini tergantung bagaimana kita bisa bekerja atau melakukan kegiatan atau tidak terganggu dengan tangan yang merah atau luka-luka. Kemudian yang berikutnya adalah perubahan pada kuku. Seperti rusak pada kuku, perubahan pigmen atau kukunya menjadi rapuh,” paparnya.


Oleh karena itu, dr. Danang memberikan solusi bagi para pasien kanker yang telah menjalani pengobatan khususnya kemoterapi dan mendapat efek samping yang cukup mengganggu dalam kehidupan sehari-hari sang pasien. 


“ Kemoterapi dapat mengurangi produksi minyak. Pengobatan kemoterapi membuat kulit menjadi kering. Karena kering tentunya fungsi kulit sebagai ketahanan tubuh juga terganggu. Karena terganggu dari kering tadi sehingga bahan-bahan dari luar akan masuk dan itu dapat menimbulkan rasa gatal. Penggunaan pelembab berupa cream atau lotion dapat membantu pada kulit kering atau pecah-pecah. Pelembab dapat digunakan tebal  pada malam hari atau dibungkus dengan kaos kaki. Kenapa dibungkus, karena dengan dibungkus diharapkan pelembab tersebut meresap lebih ke dalam kulit sehingga dapat memberikan efek kelembaban yang lebih lama.


 Kemudian juga hindari mandi dengan waktu yang lama atau mandi dengan menggunakan air panas itu lebih baik.  Kemudian gunakan sabun dengan pelembab dengan pH yang tidak basah. Kemudian setelah mandi segera gunakan pelembab untuk menjaga kulit tetap terhidrasi. Kapan waktunya?, waktunya adalah lima menit pertama. Jadi begitu selesai mandi, handukan dan kira-kira dalam jangka waktu lima menit langsung menggunakan pelembab,” tandasnya. 


Penyelenggara webinar yang diketuai oleh ibu Linda Agum Gumelar sebagai ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengatakan. “ Kami sungguh sangat terharu bahwa yang hadir hari ini adalah para penyintas kanker payudara dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada dari Bali, ada dari Surabaya, ada dari Bekasi, ada dari Depok, ada dari Kendari, Bandung, Malang, Banyuwangi, Cirebon, Jakarta dan juga yang menarik ada beberapa komunitas baru yang sekarang sudah berdiri,” tutur Linda sambil mengharapkan   webinar ini dapat membantu bagi para teman-teman kita, para sahabat pita pink yang membutuhkan informasi tentang penanganan kulit pada pasien kanker akibat kemoterapi dan radiasi.(Sera-21)****

Komentar

Tampilkan

Terkini