Beckham, STY dan Serdy

12/12/20, 21:54 WIB Last Updated 2020-12-12T14:54:46Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



AKSARANEWS.CO.ID. JAKARTA- MASIH ingatkah dengan perseteruan keras antara Alex Ferguson dan David Beckham

ketika sama-sama masih membela Manchester United (MU) di Liga Inggris? Dua sosok tersebut sangat berperan bagi keharuman prestasi MU di era awal tahun

2000-an. Di bawah bimbingan Ferguson sebagai pelatih, dan Beckham sebagai salah

satu pilar utama di lapangan, MU seakan-akan tidak ada lawan di Liga Inggris. 


Namun, di tahun 2003, mendadak muncul sebuah kejadian yang kemudian mengawali

kepergian Bekcham ke Real Madrid. Di kamar ganti seusai ditekuk Arsenal 0-2 di

kancah Piala FA di markas MU, Stadion Old Trafford, Ferguson sangat marah. Kemarahan Ferguson itu muncul, bukan saja karena MU dipermalukan Arsenal di

kandang sendiri, tetapi gara-gara penampilan Beckham yang tidak optimal. 


Bagi Ferguson, Beckham sangat tidak disiplin memainkan peranannya di lapangan hijau, dan berbuntut kekalahan bagi MU. Di mata Ferguson, Beckham tidak

melakukan apa yang diinstruksikan sang pelatih sebelum pertandingan. Karena

ketidakdisiplinan Beckham itulah MU akhirnya dipermalukan Arsenal. 


Dan, di kamar ganti pakaian, perseteruan keduanya terjadi dan memuncak. Di ujung

pertengkaran tersebut, Ferguson menendang tumpukan pakaian dan sepatu, dan salah satu sepatu melayang ke pelipis kanan Bekcham yang membuatnya terluka. 


Beberapa bulan kemudian, Ferguson dan MU melepaskan Beckham ke Real Madrid

dengan nilai kontrak 25 juta poundsterling. Nilai penawaran Real Madrid itu membuat

Beckham menjadi pemain MU termahal saat itu. 


Dalam beberapa aspek, sangat tidak aple to aple memosisikan dan membandingkan David Beckham dengan Shin Tae-yong (STY), dan juga dengan Serdy Ephy Fano. Beckham adalah seorang pemain dengan reputasi dunia. Tidak demikian dengan STY

apalagi Serdy. 


Yang mau saya sorot di sini, di balik perbedaan yang sangat tidak sebanding itu, ketiga sosok ini dalam konteks sebagai orang yang terlibat aktif di sepakbola baik sebagai pemain maupun ofisial, ketiganya memiliki satu kesamaan, yaitu ketidakdisiplinan


Ibul Pantas Marah

Pada sebuah meme yang muncul di media sosial dalam pekan ini, Ketua PSSI, Mochamad Iriawan atau biasa disapa Iwan Bule (Ibul) pantas marah dan berang

melihat sikap STY yang tidak disiplin, dan melanggar komitmennya sendiri. Di meme tersebut Ibul mengatakan: “Shin Tae-yong pelatih yang keras kepala”. 


Dalam kapasitasnya sebagai penanggung jawab tim nasional, sesuai Keputusan

Presiden (Keppres) tentang Piala Dunia U-20, Ibul wajib menjaga dan mengawal

timnas sejak persiapan sampai dengan Hari-H kejuaraan dimulai. Ada target dan misi yang harus digolkan Ibul dan timnas, yaitu minimal lolos dari babak penyisihan grup sesuai dengan permintaan dan instruksi Presiden Joko Widodo. 


Sebagai orang yang dipercayakan Presiden untuk membawa timnas berprestasi di Piala Dunia nanti, Ibul harus bersikap tidak tebang-pilih di timnas. Ketegasan Ibul ini memang dibutuhkan agar tidak ada yang main-main, baik itu pelatih, ofisial dan

pemain. 


Bila perlu, Ibul tidak hanya lips service di media saja, tetapi perlu diikuti tindakan nyata dan langkah konkret bagi siapa saja yang tidak disiplin di timnas agar diberikan

sanksi tegas. Tiga pemain sudah menjadi korban dari ketidakdisiplinan dalam tim. Untuk itu, hal yang sama patut dijatuhkan kepada ofisial jika ada yang main-main

dengan sikap tidak disiplin.


 Bukan rahasia lagi bahwa STY pernah lelet kembali ke Jakarta untuk memulai

persiapan latihan. Itu terjadi di bulan Juli-Agustus lalu. Bahkan sempat tersiar berita, STY akan diganti, jika dia tidak segera hadir di Jakarta pada bulan Agustus. Ancaman

tersebut akhirnya membuat STY buru-buru ke Jakarta awal Agustus, dan memimpin

tim dalam persiapan ke Kroasia.


 Kini, STY kembali berulah dengan mangkir dari perjanjian untuk hadir di Jakarta per

1 Desember setelah mengambil hak liburannya sejak awal November lalu ke Korea Selatan. Apakah keterlambatan STY hadir di Jakarta ini bakal dikenakan sanksi

administrasi sampai pada denda materi. Yang pasti, Ibul tidak boleh membiarkan STY terus berulah seperti ini, karena ketika pemain tidak disilin, STY sebagai pemegang

otoritas tertinggi atas pemain, langsung mengambil sikap keras dengan memecat

pemain bersangkutan. 


Kemarahan yang sama dari Ibul diperlihatkan juga oleh Direktur Tim Nasional PSSI, Indra Syafrie. Indra menyebut STY sebagai pelatih yang tidak disiplin dan tidak

memegang komitmennya. “Dia kini sudah terlambat 11 hari. Seharusnya dia sudah

tiba di Jakarta per 1 Desember lalu, sesuai perjanjiannya,” kata Indra.


Ibul mungkin tidak perlu bersikap seperti Farguson yang tidak segan-segan melabrak

Beckham di kamar ganti. Tetapi, apapun tegurannya, Ibul harus berikan kepada STY

atas sikapnya yang tidak disiplin terssbut. Teguran itu kemudian disiarkan ke media

sehingga akan menjadi peringatan kepada STY bahwa masyarakat dan pencinta

sepakbola di Tanah Air tetap menginginkan yang terbaik dari STY untuk timnas kita. 


STY boleh saja beranggapan bahwa kinerjanya atas timnas sampai saat ini cukup baik. Namun, diapun harus menyadari bahwa misi utamanya masih jauh. Dia masih harus

membuktikan kehebatannya sebagai pelartih di Piala Dunia tahun depan.


 Uang rakyat Rp 56 miliar yang disubsidikan pemerintah bagi Timnas U-19 saat ini dalam persiapannya adalah jumlah yang tidak sedikit. Apalagi, angka tersebut adalah yang pertama diberikan pemerintah bagi pembinaan sepakbola di Tanah Air. Rakyat dan komunitas sepakbola nasional tetap mengawal dari luar, sejauh mana trio

Ibul-STY-Indra Syafrie akan memberikan hasil sebanding dengan biaya yang sudah

dikucurkan.


 Begitu seriusnya Presiden dan pemerintah terlibat dalam persiapan penyelenggaraan Piala Dunia ini, sehingga timnas yang bakal menjadi ujung tombak keharuman nama bangsa dan negara, diperlakukan bagaikan “anak emas”. Lewat Menpora Zainudin Amali, pemerintah akan mendukung penuh timnas dalam segi pendanaan. “Pemerintah terus mendukung persiapan timnas, dan bila perlu akan menambah biaya persiapan, jika timnas harus berlatih lebih lama di luar negeri,” kata Amali yang juga Ketua INAFOC (ketua penyelenggara).


 Mengambil Hikmah

Belajar dari kesalahan yang dilakukan Serdy, pemain lainnya dalam timnas sebaiknya mengambil hikmah untuk tidak melakukan kekeliruan dan kesalahan yang sama. Dua kali Serdy harus berurusan dengan masalah disiplin dalam tim, dan yang terakhir membuat kesempatnanya untuk membela timnas tertutup. 


Pemain asal Ternatte yang begabung dengan klub Liga 1 Bayangkhara FC ini pernah dipecat oleh STY karena tindakan indisipliner saat tim akan bertolak ke Kroasia bulan Agustus. Namun, STY masih berbaik hati karena sekembalinya tim dari Kroasia, Serdy dipanggil untuk bergabung kembali dalam tim. 


Sayang, kesempatan kedua yang begitu mahal diberikan pelatih kepadanya, tidak dimanfaatkan dengan baik. Untuk kedua kali, Serdy melakukna pelanggaran disiplin dengan terlambat hadir di latihan, sehingga STY akhirnya melepaskannya. Bahkan, bukan rahasia lagi, bahwa ketidakdisiplin Serdy ini tidak saja akibat terlambat hadir di latihan, tetapi juga ia sempat keluar malam dan baru kembali ke hotel saat dini hari. 


Bersama Serdy dilepas dari timnas adalah Mochamad Yudha Febrian. Satu pemain

lagi yang pernah dilepas karena tindakan indisipliner adalah Ahmad Afhridzal.


 Bagi Serdy, Febrian dan Afhridzal kesempatan kalian masih ada. Namun, jauhkanlah sikap cepat berpuas diri, karena di situlah awal kehancuran karier seorang pemain jika sudah menganggap dirinya sebagai pemain hebat dan dibutuhkan dalam tim. Dalam usia kalian saat ini, sepuluh tahun ke depan lagi, adalah periode emas sebagai pemain bola. Untuk itu, manfaatkanlah kesempatan dan peluang yang ada untuk menjadi pemain hebat di masa mendatang. 


“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu”. 


Kalian mungkin menganggap diri kalian sudah hebat, tetapi itu masih sebatas untuk diri kalian sendiri. Kalian belum memberikan apa-apa bagi sepakbola itu sendiri, dan juga belum untuk nama bangsa dan negara. 


Belajar dan mengambil hikmah dari tiga pemain di atas, maka pemain lainnya dalam timnas saat ini sebaiknya, membuang jauh-jauh sikap berpuas diri, dan tetaplah fokus  dalam pembinaan dan latihan di pelatnas. 

Selamat berjuang, kami semua ada di  belakang kalian adik-adik…! ****


Penulis : Yesayas Oktovianus

Wartawan (Kompas 1983-2016) Spesialis Sepakbola.

Komentar

Tampilkan