-->

Iklan

Inspirasi Bagi Pelatih Lokal. Gerard Houllier " Godfathers Football"

12/15/20, 19:42 WIB Last Updated 2020-12-15T12:43:00Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



AKSARANEWS.CO.ID- Profesi pelatih itu, sangat kental dengan tanggungjawab yang super berat. Sebagai sutradara, pelatih hanya bisa ngoceh, teriak-teriak dan marah-marah, saat pemainnya berlaga sepanjang 90 menit. Namun, tak mampu mengubah ikutan bermain. Pelatih, nasibnya sangat jelek, jika tak mampu memenangkan gelar juara.



Tugasnya, sangat profesional. Jika melakukan kesalahan fatal, jangan berharap dipertahankan oleh klubnya. Pelatih selalu wajib profesional, dan selalu dekat dengan suara-suara suporter yang sangat kejam. Kapan saja ditendang dan dibuang oleh klub, jika tak punya prestasi dan gelar.


Namun, jika memiliki misi dan visi, serta memiliki kreatifitas, dalam membangun tim. Maka, gelar sebagai pelatih legenda, akan melekat sepanjang jaman. Hal itu, dilakukan oleh Gerard Houliier, pelatih asal Perancis, saat diwawancara oleh jurnalis kawakan BBC, Geoff Shreeves yang sudah 30 tahun “hunting” berita di lingkungan sepak bola internasional.


Salah satu terobosan yang sangat kreatif dari Gerald Houllier, yaitu berani mengundurkan diri dari pelatih nasional Perancis, dan memberi peluang kepada asistennya, Aime Jacquet, untuk menangani “Ayam Jantan” Perancis, Namun, Houllier, masih berani mengambil posisi sebagai Direktur Teknik Perancis.


Saat meluncurkan bukunya bertajuk “Coaches Secrets”, Houllier menyudutkan David Ginola, hingga akhirnya gagal ke World Cup 1994 di Amerika Serikat, setelah gagal mengalahkan Bulgaria.


Duet kerjasama antara Houllier dan Jacquet, memberi harapan besar. Karena, keduanya sepakat, pelan-pelan membuang peran Eric Cantona, David Ginola dan Jean-Piere Papin. Dengan memanggil “young guns” Zinedine Zidane, yang saat itu berusia 22 tahun. EURO 96 adalah ajang terakhir, pemain yang bengal dan doyan protes segera dirubah, sesuai keinginan Houllier dan Jacquet.


Menjelang World Cup 1998, atas usulan Houllier yang telah menjadi pelatih Perancis U-18 (1994 – 96) dan U-20 (1996 – 97), Jacquet kembali memanggil anak-anak muda Perancis, seperti Patrick Vieira (21 tahun), Thierry Henry (20 tahun), dan David Trezequet (20 tahun). Ketiganaya dicetak Houllier dengan telaten, untuk menjadi pemain legenda.


Ada yang perlu digarisbawahi, dan dijadikan inspirasi, kepada para pelatih-pelatih Indonesia. Walaupun, tujuh tahun sebelumnya 1991, Aime Jacquet pernah dipecat oleh Nancy, klub Perancis. Bukan berarti, menjadi patah arang. Dunia kepelatihan, selalu naik turun. Kadang meraih sukses, kadang diberhentikan dengan tidak hormat.


Klik-klikan secara positif, dalam membangun sebuah tim sepak bola. Adalah, kebiasaan yang selalu hadir dan lahir.Jangan seperti di Indonesia saat ini. Ketika, Direktur Tekniknya mantan pelatih Primavera dan Baretti. Kemudian, semua pelatih nasional, dan asistennya direkrut dari mantan pemain Primavera dan Baretti.


Houllier, saat gagal membawa tim nasional Perancis ke Piala Dunia 1994, bukan dipecat. Melainkan mengundurkan diri. Dan, jiwa seorang pelatih seperti Gerald Houllier, bisa dijadikan kiblat, bagi para pelatih-pelatih di Indonesia. Berani mundur lebih dulu, ketimbang dipecat.


Setelah sukses, bersama Aime Jaquet, Gerald Houllier mencoba mencari ladang ke Inggris. Kawasan kompetisi yang paling bergengsi di dunia, Premier League. Tidak tanggung-tanggung, yang dipilih adalah Liverpool. Awalnya, ditandem dengan Roy Evans, tahun 1998. Namun, setelah dikasih kesempatan sendirian, Jamie Carragher, sebagai kapten Liverpool, terkesan menghina dan melecehkannya.


“Bisa apa pelatih Perancis? Houllier hanya akan jadi bulan-bulanan pemain. Karena, para pemain butuh pelatih yang bisa menganyomi pemain, bisa bersahabat dengan pemain, sekaligus bisa menjadi bapak,” tutur Carragher, ketika Houllier nginjak kaki stadion “This Anfield.”


Bahkan, suporter Liverpool yang terkenal sangar, membuat spanduk-spanduk, yang tertera tulisan “Who-Houllier”, setiap “The Red” tampil di Premier League. Para suporter “You’ll Never Walk Alone”, sangat emosi hadirnya Houllier, karena sejak 1984, Liverpool tak pernah menikmati gelar, di semua event.


Nyata dan faktanyanya, pelatih asal Prancis, selama jadi juru taktik mampu memboyong enam gelar juara bagi “The Reds”, sejak 16 Juli 1998 hingga 24 Mei 2004. Walaupun, gagal memberikan gelar Liga Inggris, Houllier mampu mempersembahkan satu Piala FA, dua Piala Liga Inggris, dan satu Community Shield di kompetisi domestik. Ia juga berjasa membawa Liverpool juara Piala FA pada musim 2000-2001. Serta merebut Piala Super Eropa 2001 mengalahkan juara Liga Champions Bayern Muenchen.


Ada enam pelatih atau manajer Liverpool, yang membangun Liverpool, menjadi legenda, karena membawa banyak gelar. Nomer satu, Bob Paisley (20 gelar), Bill Shankly (10 gelar), Kenny Dalglish (10 gelar), Gerald Houllier mampu memberi enam gelar. Rafael Benitez (empat gelar), dan Jurgen Klopp (empat gelar).


Cerita tentang kreatifitas dan tantangan Gerald Houllier mengarungi dunia kepelatihan. Wajib dijadikan inspirasi bagi pelatih-pelatih di mana pun berada, termasuk di Indonesia. Suka tak suka, Houllier, menemukan dan memberi kesempatan Zinedine Zidane, Patrick Vieira, Thierry Henry dan David Trezequet menjadi legenda. 


Sejak penulis di lingkungan sepak bola nasional, 35 tahun yang lalu, hanya Benny Dollo, yang menemukan pemain berasal dari kampung, Firman Utina. Yang akhirnya, benar-benar bukan pemain karbitan. Melainkan menjadi superstar di tim nasional, sekaligus sebagai kapten tim nasional 2014.


Tulisan ini, untuk memperingati Gerald Houllier, yang meninggal dunia, Senin 14 Desember 2020 kemarin, setelah gagal operasi jantung. Padahal, saat Houllier diwawancara Geoff Shreeves, sebagai bagian cerita-cerita berseri di BBC, bertajuk “Godfather Football”, masih merasa berani melatih Aston Villa satu musim (2010 – 11).


Namun, dokternya bilang, “Kalau kamu masih mikir sepak bola, hidupnya tidak panjang.” Walaupun, bisa bertahan sembilan tahun menderita penyakit jantung. Akhirnya, sang legenda yang kreatif dan bernyali ini, menghembuskan napas terakhirnya. Meninggalkan jejak yang luar biasa. Tidurlah dengan nyenyak, Who-Houllier.****


Penulis : Erwiyantoro (Wartawan senior Olahraga)

Komentar

Tampilkan

Terkini