Iklan

Antara PSSI dan Piala Dunia U-20

11/21/20, 15:14 WIB Last Updated 2020-11-21T08:15:35Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



 AKSARANEWS.CO.ID - MICHEL Platini adalah salah satu legenda hidup sepakbola Perancis. Gelandang elegan yang menjadi saksi hidup peristiwa Heysel ketika terjadi kerusuhan suporter Liverpool dan Juventus di final Piala Champions di Stadion Heysel, Belgia 1985, saat itu memakai bandrol kapten Juventus di lengannya. 


Lewat kaki kanannya pula, dari titik penalti di menit ke-56, Platini mencetak 

satu-satunya gol kemenangan “berdarah” bagi kesebelasan dari kota Turin, Italia 

tersebut atas Liverpool, 1-0. Akibat Heysel Stadium Disaster, atau lebih dikenal 

dengan Tragedi Heysel tersebut, 39 suporter Juventus meninggal dan lebih 600 

penonton mengalami luka-luka, serta berbuntut Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) 

menjatuhkan sanksi berat dan keras berupa larangan bermain bagi semua klub Inggris 

di semua kompetisi Eropa selama lima tahun. 


Tragedi Heysel ternyata bukan menjadi satu-satunya kenangan kelam perjalanan 

karier Platini di sepakbola, baik sebagai pemain maupun kemudian sebagai pengurus. 

Gelandang yang bersama Jean Tigana-Alain Giresse-Luis Fernandez disebut-sebut 

sebagai kuartet terbaik lini tengah tim nasional Perancis 

di tahun 1980-an itu, kemudian diterpa dengan kasus suap yang mengguncangkan tidak saja reputasinya yang begitu cemerlang ketika sebagai pemain, tetapi juga sepakbola Perancis. 


Itu terjadi ketika di tahun 2015, Platini yang menjadi Presiden UEFA terlibat kasus suap. Tentu saja, dunia sepakbola geger dengan berita tersebut. Apalagi, setahun kemudian zone Eropa akan menggelar pesta sepakbola Piala Eropa, dan dimainkan pula di Perancis. 


Sungguh sebuah nestapa yang menghantam bertubi-tubi sepakbola Perancis, dan lebih 

khususnya Platini. Akan tetapi, apakah reputasi dan nama besar Platini ini bisa 

membuat dia menghindari hukuman UEFA? Atau, 

minimal, UEFA menunda memproses kasusnya, dan menunggu sampai berakhir Piala Eropa 2016? 


Bagi UEFA, kasus suap Platini dan Kejuaraan Piala Eropa adalah dua hal yang 

berbeda. Urusan Platini adalah urusan internal Federasi Sepakbola Eropa. Sedangkan 

Piala Eropa 2016 adalah urusan panitia penyelenggara yang sudah dipercayakan 

kepada Federasi Sepakbola Perancis. Platini kemudian dinyatakan bersalah dan 

dihukum empat tahun. 


Nyaris Sama 

Kisah duka Platini dan sepakbola Eropa di atas, nyaris persis sama dengan kondisi 

sepakbola kita di Tanah Air saat ini. Bukan rahasia umum lagi bahwa PSSI dalam 

beberapa dekade terakhir bermegah-megah dengan bungkusan suap-menyuap di 

berbagai lini kegiatan. Sebagian pengurus terasnya juga sudah diindikasikan 

melakukan suap-menyuap atau pengaturan skor, tetapi tidak semuanya bisa 

dibersihkan oleh aparat kepolisian. Bahkan, ada oknum yang sampai sekarang masih 

di kepengurusan, dan tetap “dipelihara” untuk mengurus PSSI. 


Dalam kondisi inilah, sudah sepantasnya masyarakat sepakbola sangat gerah dan 

cemas akan masa depan sepakbola Indonesia. Memang terdengar sebagai sebuah 

guyonan murahan ketika terdengar suara-suara yang meneriakan KLB lagi. Karena, 

hampir setiap tahun, PSSI nyaris terus melakukan KLB dan KLB lagi. 

Keinginan menggelar KLB lagi karena memang kondisi yang terjadi, kalau tidak 

dibilang diciptakan, memaksakan untuk memilih ketua dan pengurus baru. PSSI saat 

ini sudah sangat memprihatinkan. 


Di saat tim nasional negara-negara lain memenuhi jadwal atau kalender FIFA untuk 

international friendly match, timnas Indonesia tidak terdengar sama-sekali. Jangankan 

bertanding, membentuk tim saja tidak ada. 


Di dalam negeri, lebih parah lagi, pengurus PSSI tidak mampu menggelar dan 

menyelesaikan kompetisi strata tertinggi Liga 1 dan 2 di tahun 2020 ini. Salah satu 

kegunaan melakukan pertandingan persahabatan internasional, yaitu untuk 

mempebaiki peringkat. Indonesia saat ini di peringkat 173 dunia. 


Yang terpikirkan oleh pengurus PSSI, untuk program kerja tahun 2020-2021 adalah 

Piala Dunia U-20 tahun depan. Yang lainnya silahkan menggir dulu. Nanti seusai 

Piala Dunia 2021, baru dibuka lagi lembaran kerja baru PSSI. Sungguh ironis 

memang kinerja 15 anggota Exco yang mendapat mandat dan kepercayaan penuh 

sekitar 86 suara voters di Kongres tahun 2019 lalu untuk memimpin PSSI. 

Anggota PSSI dan pemerintah adalah dua elemen terdepan yang bisa melakukan 

perubahan segera di PSSI. Anggota dapat segera melayangkan mosi tidak percaya, 

karena ketidakmampuan ketua memimpin PSSI, untuk segera menggelar Kongres 

Luar Biasa (KLB). Akan tetapi, kondisi saat ini, sangat sulit mengandalkan anggota 

PSSI untuk melakukan mosi tidak percaya. Banyak alasan untuk keterbatasan anggota 

mengusulkan KLB. 


Yang paling bisa melakukannya dan lebih cepat adalah pemerintah. Merujuk kasus 

Platini di atas, pemerintah tidak perlu khawatir bahwa ketika terjadi perubahankepengurus di PSSI dalam waktu dekat ini akan mengganggu persiapan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. 


Saat ini justru, pemerintah yang memegang kendali pelaksanaan Piala Dunia U-20. Itu 

dikuatkan dengan Keputusan Presiden (Keppres) yang menunjuk Menpora Zainudin 

Amali sebagai Ketua INAFOC. Ketua PSSI, Mochamad Iriawan atau akrab disapa 

Iwan Bule (Ibul) ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana Tim Nasional. Bila terjadi 

perubahan struktur kepengurusan di PSSI sebelum Piala Dunia U-20, maka siapapun 

yang menjadi Ketua PSSI, otomatis menjadi Ketua Pelaksana Tim Nasional pula. 

Mengingat jabatan ketua pelaksana itu diberikan berdasarkan institusi dan bukan 

personal. 


Untuk persiapan tim nasional U-19 saat ini yang ditangani pelatih Shin Tae-yong 

(STY) sudah berjalan sehingga siapa pun ketua dan pengurus baru PSSI akan 

meneruskan saja sistem yang telah dibangun dan mengikuti apa yang telah dijalankan 

oleh STY dan timnya. Apalagi, pemerintah telah berkomitmen untuk mendukung 

penuh semua keperluan, termasuk biaya untuk keberhasilan timnas di Piala Dunia 

nanti. 


Desakan Semakin Kuat 

Dari informasi yang diperoleh penulis, desakan untuk segera melakukan pergantian 

pengurus di tubuh PSSI 

semakin kuat mengalir di arus bawah. Unsur mantan 

pemain, stakeholder, sampai pada voter sangat bertkerinduan melihat adanya 

perubahan di kepengurusan PSSI, serta masa depan sepakbola Indonesia lebih baik di 

tangan orang yang tepat. 


Bagi komunitas sepakbola, Ibul sudah dianggap gagal untuk memimpin PSSI ke 

depan. Sudah setahun lewat, di mata mereka, Ibul tidak melakukan perubahan apapun 

di sepakbola nasional dan PSSI. Harapan dan kerinduan masyarakat sepakbola untuk 

adanya perubahan ini diletakkan di pundak pemerintah. 


Mengharapkan perubahan itu datang dari dalam internal PSSI, sudah sangat sulit 

karena adanya mafia dan kartel yang sudah begitu kuat cengkramannya. Satu-satunya 

unsur yang bisa merombak dan melawan kartel di PSSI ini adalah pemarintah. Itu 

sudah pernah dilakukan Menpora Imam Nahrowi di lima tahun pertama periode 

kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan, dalam salah satu sambutan 

di pembukaan Kejuaraan Piala Presiden tahun 2016, Jokowi dengan tegas mengatakan: 

“Bila perlu kita berdiam diri dalam dua tahun, tetapi kemudian bangkit dengan wajah 

dan kesegaran baru,” tegasnya. 


Menpora sebagai kepanjangan tangan pemerintah tidak bisa tinggal diam melihat 

kondisi PSSI dan sepakbola Indonesia yang terus semakin tidak jelas arah 

perjalanannya. Menpora tidak bisa lagi hanya berteori dan berbasa-basi. Sudah harusada sikap dan langkah tegas dari Menpora, dan lebih khusus menyorot PSSI. 


Sampai saat ini, Menpora belum melakukan sebuah langkah spektakuler di olahraga, 

khususnya sepakbola. Padahal, pesan Presiden Jokowi saat melantik Menpora di 

Istana Negara, Jakarta sudah jelas sekali arahnya. Akan tetapi, sudah setahun lebih 

memimpin Kemenpora, Zainudin Amali belum melakukan apa-apa buat memperbaiki 

sepakbola Indonesia, justru sepakbola Indonesia semakin tenggelam dalam 

ketidakpastian masa depannya. 


Semoga Amali tidak turut tenggelam, dan ikut dalam permainan dan orkestra yang 

digaungkan PSSI. 


“Menjadi pemimpin bukanlah sebuah pencapaian, 

tetapi sebuah kepercayaan dan tanggung jawab”. 


Inpres No 3 tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional 

(P3N) juga sudah berada di tangan Kempenroa, tetapi langkah-angkah nyata belum 

nampak ditindaklanjuti Menpora. Sebentuar lagi tahun 2020 berakhir, sedangkan 

dalam peta jalan Inpres No 3 itu ada amanah yang harus dilaksanakan, yaitu 

pembangunan pilot project sebagai proyek percontohna untuk pembangunan diklat 

sepakbola sesuai perintah peta jalan. “Sepakbolanya, Pak?! ****


Yesayas Oktovianus

Wartawan (Kompas 1983-2016) Spesialis Sepakbola

Komentar

Tampilkan

Terkini