Iklan

Uji publik Grand Design Olahraga Indonesia. Membangunkan Singa Yang Sedang Tidur

11/14/20, 07:01 WIB Last Updated 2020-11-14T00:02:36Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 



AKSARANEWS.CO.ID.  "INI Medan Bung!" Begitu kalimat yang biasa kita dengar di Medan dan sangat multi tafsir. Hebatnya, apa pun tafsirnya, semua berkonotasi semangat yang berapi-api.


Tak heran, di kancah olahraga, begitu ada pekik seperti itu, maka gejolak besar begitu luar biasa. Tak heran pula, dari sana muncul legenda-legenda olahraga yang bisa merambah ke tingkat nasional dan Asia.


Sederet nama besar yang sempat mengharumkan bukan hanya bagi warga Sumatera Utara, tapi sangat membanggakan Indonesia. Mereka yang berlaga di Olimpiade: Syamsul Anwar Harahap, Hendrik Simangunsong dari cabor tinju. Mardi Lestari, spesialis lari 100 meter,  tercatat  pada masa jayanya dikenal sebagai manusia tercepat se-Asia. Ia berhasil menembus semifinal Olimpiade Seoul 1988 dan bertarung dengan para atlet top dunia salah satunya Ben Johnson. 


Ada Suranta Ginting yang sempat menjadi juara Asia, di kelas minus 100 kg dari cabor judo. Sutiyono yang namanya berkibar di Asia sebagai rajanya road race dari cabor sepeda. 


Dari cabor sepakbola, meski belum mampu menembus orbit Asia, tapi nama-nama beken ini mampu membelah orbit sepakbola nasional. Mereka antara lain: Tumsila, Nobon, Parlin Siagian, Ronny Paslah, Taufik Lubis, Ponirin Meka hingga Ricky Yakobi. Mereka selalu menghiasi pemberitaan tanah air. 


Tapi, hampir 30 tahun, Sumut seperti tenggelam dalam bumi. Hampir 30 tahun ini, nyaris tak ada legenda muncul dari tanah itu.  Tak ada lagi pekik yang bisa mengumandangkan gelora dahsyat dari sana. Sumut seperti terpental dari daftar gudang atlet.


Beruntung masih ada Lindswell Kwok dari cabor Wushu yang menjadi juara dunia putri sejak 20019-17, dan Egy Maulana, pesepakbola yang berlaga untuk klub Lechia Gdańsk, Polandia. Jika tidak, Sumut sungguh telah tenggelam.


Menpora

Kamis (12/12/2020) pagi hingga sore, Kemenpora membangkitkan Singa yang sedang tertidur itu. Lewat uji publik _Grand Design_ olahraga Indonesia yang bekerjasama dengan Universitas Negeri Medan (Unimed) dan digelar di salah satu hotel ternama di kota Medan, serta melibatkan hampir seluruh _stakeholder_ keolahragaan kota Medan, Kemenpora mengguncangkan tubuh keolahragaan Sumatera Utara. 


Uniknya, acara yang langsung dibuka oleh Menpora, DR. Zainudin Amali, itu dihadiri oleh duet maut, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah, Gubernur sekaligus Wakil Gubernur Sumut. Keduanya terbilang tokoh yang gila olahraga.


Seperti gayung bersambut. "Saya setuju Bang," tukas Menpora, menjawab pernyataan Gubernur Sumut yang mantan Pangkostrad dan mantan Ketum PSSI itu.


Menurut Menpora, apa yang dicita- citakan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut itu, sangat luar biasa. Untuk itu, Menpora baik sebagai pribadi maupun sebagai wakil pemerintah, menyambut baik.


"Apalagi ada tiga anggota dewan di sini bang. Ada ibu Meutya Hafid, Ketua Komisi-I, DPR-RI dari dapil Sumut-1. Ini daerah ibu kan?" tanya Menpora yang juga politisi senior Partai Golkar.

 

Mantan penyiar tv Swasta yang juga dari Partai Golkar itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Ada lagi Prof Johar Arifin (Gerindra) dan Dr. Sofyan Tan (PDIP) anggota Komisi X. Saya dikawal oleh keduanya bang," lanjut Menpora Zainudin Amali.


Malah, masih tukas Menpora, hari ini ditegaskan bahwa surat penunjukkan Sumut dan Aceh untuk menjadi tuan rumah PON ke-XXI akan ditandatangani. "Bang John (John Lubis, Ketua KONI Sumut), bukan 2025, tapi 2024. Saya sudah perintahkan untuk segera dibuat dan sekembali saya ke Jakarta akan saya tandatangani!," pungkasnya yang disambut meriah 70 peserta uji publik _Grand Design_ Olahraga Indonesia.


Dengan rencana besar itu, Menpora ZA berharap Sumut bisa kembali menjadi gudang atlet nasional. "Olahraga prestasi bisa kembali berkibar di sini!"


Sport Center

Sebelumnya, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi mempresentasikan _sport center_ di daerah Deli Serdang. "Kami sudah menyiapkan lahan seluas 300 hektar, Pak Menteri," ujarnya. "Kami butuh dukungan dalam bentuk kepastian," katanya lagi.


Komplek yang dipresentasikan itu bertaraf internasional. Seluruh _venue_ ada di komplek itu, bahkan lebih komplit dari Gelora Bung Karno. Selain fasilitas olahraga, Pemda Sumut juga mempersiapkan rumah sakit yang juga bertaraf internasional. "Ini juga penting Pak Menteri. Dari penelitian yang kami buat, banyak sekali warga kami dan Pulau Sumatera berobat ke Singapura dan Malaysia. Dengan adanya rumah sakit ini, insyaa Allah mereka tak lagi berobat ke negeri tetangga," papar Edy penuh harap.


Ada lagi yang menarik, menurut Edy, Menpora Zainudin Amali ternyata sangat luar biasa. "Awalnya saya hampir putus harapan, tapi begitu berjumpa dan saya tumpahkan keluh kesah saya, beliau merespon melebihi dugaan saya, " katanya usai acara itu.


Malah menurut Edy Rahmayadi, Presiden tidak keliru memberi kepercayaan pada tokoh yang satu ini. "Pemuda dan Olahraga sudah berada di tangan yang benar. Beliau (Menpora) mampu menempatkan diri dengan baik. Saya kan bukan orang partai, tapi beliau merespon saya demikian rupa, salut saya!" tegas Letnan Jenderal TNI (purn) Angkatan Darat ini.


Jadi, jika komplek olahraga yang megah itu selesai dibangun, maka bukan tidak mungkin olahraga Sumut akan bangkit kembali. Dulu saja di mana Stadion Teladan tidak sehebat stadion yang akan dibangun, PSMS Medan dan Pardedetex mampu mengguncang orbit persepakbolaan nasional, bagaimana lagi jika stadion baru yang megah dan berstandar internasional itu berdiri? Jangan-jangan Asia bisa juga diguncangnya.


Dulu, saat tempat latihan tinju seadanya, keluarga Paruhum Siregar mampu menggoyang pertinjuan amatir nasional. Bukan tidak mungkin dengan fasilitas yang megah, dunia tinju amatir Asia bisa digoncang. Begitu juga dengan dunia atletik, dan cabor-cabor lainnya.


Ya, komplek itu seolah-olah menjadi pertanda ada Singa yang sedang tidur akan bangkit.  Horas, Ini Medan Bung! ****


M. Nigara

Wartawan Olahraga Senior

Komentar

Tampilkan

Terkini