Iklan

Indra, Apa Yang Kamu Cari !

10/24/20, 14:42 WIB Last Updated 2020-10-24T07:42:54Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 


AkSARANEWS.CO.ID . SAYA mengenal Indra Syafrie lebih dari 10 tahun, tetapi mulai lebih dekat di tahun 2011. Saat itu, Indra ikut terlibat dalam revolusi sepakbola yang diprakarsai duet

Arifin Panigoro-George Toisuta. 


Sebagai orang yang baru mulai menatap karier di sepakbola lewat jalur kepelatihan, Indra muncul sebagai sosok yang menjanjikan. Ini terlihat dari sikapnya yang rendah hati, dan lebih dari itu dia ulet, tekun serta mau belajar. Dalam kekeringan stok pelatih, terutama di level usia muda di belantara sepakbola nasional, Indra memanfaatkan momentum tersebut guna mengembangkan dirinya. 


Indra serius menimba ilmu dari siapa saja, bahkan kepada orang yang mungkin pengetahuan bolanya di bawahnya, dia mengajak untuk berbincang tentang sepakbola dari berbagai aspek. Keluarga dilupakan untuk sementara, apalagi soal waktu dan materi, tentu sudah tidak terhitung pengorbanannya. Di balik semua itu, hanya ada satu tujuan di benaknya, dia harus menjadi seorang pelatih yang diakui di kancah sepakbola nasional, minimal. 


Harapan untuk menggapai impiannya mulai terlihat, ketika Djohari Arifin Husein

menduduki kursi orang nomor satu di PSSI sebagai buah dari revolusi sepakbola yang

digagas Arifin Panigoro. Indra yang menetap beberapa bulan di penginapan yang diberikan oleh Arifin Panigoro di Jakarta, mulai mencuri hati dan perhatian Bob Hippy.


 Lewat Bob Hippy yang ditunjuk PSSI sebagai Direktur Pengembang Usia Muda, Indra diberikan kepercayaan membentuk tim nasional U-19. “Pak Yes, kira-kira siapa ya yang kita percaya untuk memimpin timnas usia muda? Begitulah kira-kira kalimat yang dilontarkan Bob Hippy meminta pendapat dari saya. “Indra Syafrie Pak Bob. Hanya, dengan catatan, tolong berikan dia keleluasan dalam bekerja, mulai dari mencari pemain sampai membentuk tim, jangan ada intervensi dari siapa pun,” jawaban saya kepada Bob Hippy. 


Indra pun akhirnya memberikan sebuah gelar dari tim U-19, dan dipercaya memimpin timnas di SEA Games Manila tahun lalu, meski gagal menggapai medali emas. Saat ini, Indra bahkan dipercaya Ketua PSSI, Mochamad Iriawan yang biasa disapa Ibul untuk menduduki kursi Direktur Teknik (Dirtek) Tim Nasional, sebuah posisi vital dan strategi dalam pengembangan sepakbola sebuah federasi.


Idialisme dan materi

Menjadi pelatih usia muda, pelatih senior, dan menduduki posisi Dirtek, semua sudah

direngkuh Indra. Lalu, apa lagi yang kamu cari? Masih adakah idialisme membangun sepakbola Indonesia ke arah yang benar. Atau idialisme itu telah disapu habis dan terkubur dalam-dalam berganti mengejar materi? Saya, dan mungkin semua insan sepakbola nasional yang mengenal Indra, tentu tidak berharap demikian. 


Abang saya, Andi Darusasalam Tabussala yang juga tokoh sepakbola nasional, dalam beberapa kali komentarnya di grup WA komunitas sepakbola, menyinggung kinerja Indra saat ini. “Indra itu harusnya lebih banyak waktunya ada di kantor, di Jakarta, untuk membenahi sepakbola dan tim nasional semua level sesuai jobnya. Bukan, malah menempel terus pelatih Shin Tae-yong bersama timnas U-19 berlatih di

luar negeri,” kritik Andi kepada Indra. 


Andi adalah orang yang selalu berkata apa adanya. Kritiknya kepada Indra tentu demi

kebaikan Indra, dan sepakbola nasional. Saya pun berharap Indra menerima kritik

dengan lapang dada, karena itulah Indra yang saya kenal sejak lebih dari sepuluh

tahun lalu. Rendah hati dan mau belajar. 


Tetapi, apakah harapan Andi, saya, dan banyak lagi insan sepakbola nasional bisa

terwujud dengan perubahan sikap Indra yang lebih mengutamakan sepakbola dari

kepentingan lain?


Sepertinya, ini hanya menjadi sebuah harapan dari kita semua. Indra saat ini telah

menjadi sosok yang sangat tertutup, dan kehilangan jati dirinya dengan idialisme

membangun sepakbola Indonesia ke depan menjadi lebih baik. Indra bukan lagi

seorang pelatih sepakbola tetapi mungkin lebih tepat, politisi sepakbola. Dan, seorang

politisi, tentu akan lebih mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya daripada

yang lain. 


Revolusi sikap

Kalau Presiden Joko Widodo membangun bangsa ini dengan mengetengahkan filosofi

revolusi mental, maka Indra sebaiknya segera melakukan revolusi sikap terhadap dirivsendiri. Masih ada waktu, dan belum terlambat untuk mengatakan: “Tidak” kepada mereka yang sadar ataupun tidak memanfaatkan diri Anda. 


Dirtek timnas adalah posisi yang sama strategisnya dengan Sekretaris Jenderal

(Sekjen) di PSSI. Indra mempunyai hak dan kewenangan penuh mengatur dan

mengarahkan ke mana arah sepakbola nasional, dan tim nasional berkiprah.


 Indra bukan seorang “pesuruh” intelek di PSSI. Tugas Indra bukan sebagai pembisik bagi Ketua PSSI, dan lebih parah lagi Anda bukan menjadi juru bicara pelatih Shin Tae-yong (STY). Itu semua terlihat terang-benderang ketika tim U-19 memulai

perjalanan berlatih di Kroasia. Indra terus mendampingi STY dan tim. 


Dalam semua pertandingan uji coba yang sudah dilakukan tim U-19 selama di Kroasia, Indra tidak sekalipun terlihat di layar kaca televisi. Entah ke mana dan

berada di mana Indra saat pertandingan yang disiarkan langsung ke Tanah air itu

berjalan. 


Menjadi pertanyaan, apa yang Indra lakukan selama mendampingi tim? Toh, sudah ada STY dan ofisial pendampingnya. Indra sudah tidak dibutuhkan lagi oleh STY di sana, kecuali menjadi pembisik bagi Ketua PSSI. Mengapa Indra begitu merendahkan diri berada di tengah orang (STY) yang sejatinya sudah tidak suka kepadanya? 


STY pernah memecat Indra sebagai asisten pelatih, karena ketidakdisiplinan. STY secara terus-terang mengemukakan kepada Ibul bahwa dirinya sudah tidak bisa bekerja sama dengan Indra dalam tim. Lebih parah lagi, STY menegaskan bahwa dirinya tidak suka dengan Indra. Ibul kemudian mengubah posisi Indra dari asisten STY menjadi Dirtek Timnas. 


Seharusnya ketika menjadi Dirtek, Indra memfokuskan dirinya kepada pemgembangan sepakbola nasional secara menyeluruh. Mulai dari pembinaan usia muda sampai pada menghadirkan prestasi bagi tim nasional di semua level. Timnas bukan saja tim U-19 yang tengah dipersiapkan ke Piala Dunia U-20 tahun depan. 


Sebagai Dirtek, Indra seharusnya mempunyai visi membangun sepakbola jauh ke depan, bukan hanya melihat dan mengurus yang di depan mata. Pembinaan dan prestasi itu digapai lewat sebuah proses jangka panjang dan berkesinambungan, dan disanalah tugas Dirtek untuk membenahinya. 


Ibul telah membuat kekeliruan dengan memosisikan Indra sebagai “mata dan telinganya” di tim U-19 saat ini. Tetapi, sebagai orang yang lebih menguasai seluk-beluknya sepakbola dan persoalan teknik, Indra harus berani mengatakan yang benar kepada Ibul. 


Berada di lingkungan sepakbola nasional bukan hanya di periode kepengurusan Ibul

saja saat ini. Perjalanan Indra masih sangat jauh dan panjang di belantara sepakbola

Indonesia. Indra tidak perlu takut mengatakan TIDAK kepada Ibul jika itu tidak sesuai dengan nurani dan tupoksi Indra. 


Bila perlu Indra mengambil sikap mundur selangkah untuk maju sepuluh langkah. Saya yakin seribu persen, Ibul tidak akan berani melepaskan Indra, jika Indra mengubah dan mengoreksi semua yang telah dilakukan Ibul dengan berbagai

pelanggaran, khususnya di tim nasional saat ini. 


Ibul pasti berpikir sejuta kali sebelum memecat Indra. Dan, sebelum itu terjadi, sebaiknya Indra lebih dulu mengatakan “sayonara” kepada Ibul. Itu adalah sebuah langkah lebih terhormat dan bijaksana dari Indra daripada terus menjadi orang “suruhan” intelek Ibul.


 “Mundurlah ketika kamu merasa kondisi membuat kamu tertekan, dan majulah ketika keadaan membuat tenang

untuk jernih mengambil tindakan”. 


Sekali lagi, karier Indra bukan hanya sampai di sini, dan berakhir di periode

kepengurusan Ibul. Indra masih dibutuhkan di kancah sepakbola nasional, tetapi

keputusan Indra saat ini, akan menentukan arah selanjutnya kiprahnya di sepakbola. Terserah Indra untuk memilih dan memutuskan…! ****


Penulis : Yesayas Oktovianus

Wartawan (Kompas1983-2016) Spesialis Sepakbola.

Komentar

Tampilkan

Terkini