Iklan

Thomas-Uber Ditunda, Ini “Kemenangan” Skuad Merah-Putih

Kamis, 17 September 2020, 9:25 AM WIB Last Updated 2020-09-17T02:25:29Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



AKSARANEWS.CO.ID - Akhirnya, penyelenggaraan Putaran Final Piala Thomas dan Uber 2020 yang sedianya bakal berlangsung di Aarhus, Denmark, 3-11 Oktober, ditunda. Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) mengumumkan penundaan tersebut Selasa, 15 September 2020.

Induk organisasi tepok bulu dunia itu terpaksa menunda kejuaraan dunia beregu putra-putri paling prestisius itu dengan pertimbangan bahwa faktor kesehatan dan keselamatan seluruh komunitas bulutangkis adalah yang terpenting. Pandemi Covid-19 yang belum mereda, jadi alasannya.

Apalagi, sejumlah negara kuat bulutangkis dunia, seperti Indonesia, Thailand, China Taipei, dan Korea Selatan juga sudah memilih mundur dari keikutsertaan dalam perebutan Thomas dan Uber 2020. Alasannya, juga demi menjaga keselamatan pemainnya. Ditambah lagi, BWF tidak memberikan jaminan terhadap keselamatan pemain dari paparan virus korona.

Padahal, sebelumnya Denmark sudah menyatakan siap menggelar kejuaraan. Bahkan legenda Denmark, Jim Laugesen, menyebut apa pun kondisinya kejuaraan beregu ini harus tetap jalan.

Tapi, rupanya BWF lebih jernih dalam membuat keputusan. Organisasi bulutangkis dunia itu ternyata memilih menunda dibanding harus terus menggelar Piala Thomas-Uber sesuai jadwal.

Di sini, bisa saya katakan bahwa posisi tawar Indonesia demikian kuat. Ini juga bisa disebut sebagai “kemenangan” kita atas BWF.

Ya, tanpa Indonesia, kejuaraan ini bisa dikatakan bak sayur tanpa garam. Indonesia adalah salah satu negara terbesar. Tim Merah-Putih, negara terbanyak yang 13 kali menggondol Piala Thomas. Sementara di Uber, tiga kali jawara.

Skuad Indonesia juga bertabur bintang. Ada sejumlah nama pemain top dan pop. Ada Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan hingga Mohammad Rian Ardianto/Fajar Alfian.

Mereka ini dipastikan bisa jadi jaminan mutu. Ginting cs., bakal menjadi daya tarik penonton. Kehadiran mereka juga bakal mendongkrak popularitas, aroma persaingan, dan gengsi kejuaraan.

Seandainya Denmark tetap nekat menggelar Piala Thomas-Uber 2020 pada awal Oktober, bisa dipastikan kualitas kejuaraan akan dipertanyakan. Tanpa kehadiran Skuad Merah-Putih yang bertabur bintang dan merupakan unggulan pertama di Piala Thomas, mutu kejuaraan bakal jeblok.

Apalagi, harus diingat, ada syarat dari sponsor yang harus diakomodasi. Mereka bersedia menjadi penaja kejuaraan dwi tahunan itu dengan syarat perhelatan putaran final Piala Thomas-Uber ini harus menyertakan tiga tim terbaik.

Absennya Indonesia dan sejumlah negara kuat bulutangkis dunia akan membuat gengsi kejuaraan juga turun drastis. Ingat, tim Uber Korea Selatan adalah juara tahun 2010 di Kuala Lumpur. Sementara Thailand adalah finalis Piala Uber 2018.

Jadi, akhirnya memang BWF memilih menunda Piala Thomas dan Uber 2020 karena pandemi Covid-19 belum mereda. Tetapi, sejatinya penundaan ini juga merupakan “kemenangan” Indonesia.

Bagi saya, semoga badai pandemi segera berlalu. Saya ingin melihat Indonesia meraih kemenangan sesungguhnya dengan kembali memboyong Piala Thomas untuk ke-14. Kerinduan saya agar bisa lagi ikut mengangkat tinggi-tinggi Piala Thomas seperti Hendrawan, Taufik Hidayat, Candra Wijaya/Sigit Budiarto dkk., di Guangzhou 2002, semoga segera terobati.****
Penulis Broto Happy Wondomisnowo (Wartawan Bulutangkis Senior)
Komentar

Tampilkan

Terkini