Iklan

Mengenang12 Tahun Kepergian Legenda Ronny Pattinasaranny . Yang Di Hati Risdianto

9/19/20, 13:24 WIB Last Updated 2020-09-19T06:24:56Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



AKSARANEWS.CO.ID - DIA tidak pergi.

Tapi pulang ke “rumah terakhir”; rumah dimana dia dikenang sebagai legenda sepak bola Indonesia. 


RONNY Pattinasarany tak mampu menahan air mata. Dia menangis ketika mendengar Iswadi Idris, sahabat dan “musuhnya” itu, pergi lebih cepat. Iswadi yang disebut Ronny musuhnya di lapangan, pergi ketika Ronny sedang berjuang melawan penyakit. Dia seperti tak menerima kepergian Iswadi. Dadanya terlihat terasa sesak. “Kami melihat dia menangis,” kata Donny Pattinasarany, adik Ronny. 


Perasaan Ronny yang ia bagikan itu pula yang kita rasakan ketika legenda sepak bola itu pergi; Ronny pergi ketika dia tak lagi berdaya menghadapi kanker hati yang menyerang paru-paru dan tulang belakangnya. 


Hari ini, duabelas tahun lalu, Ronny pergi tak hanya meninggalkan sepak bola, dunia yang ia cintai, tapi juga orang-orang yang mencintainya. Bersama Risdianto, saya mengenang Ronny, juga Iswadi Idris. Iswadi tutup usia pada 11 Juli 2008 ketika Ronny sedang mendapat perawatan di RS Modern Hospital, Guangzhou, Cina, dan 70 hari kemudian, pada 19 September 2008, Ronny pergi untuk selama-lamanya. “Keduanya pergi di hari yang sama, hari Jumat,” kata Risdianto. 


Menurut cerita Risdianto, sebelum kenal Ronny, dia lebih dahulu berteman dengan Iswadi, yang menjadi seniornya di tim nasional. Ris merasa dimanjakan oleh Ronny dan Iswadi. Sebagai penyerang, Ris sering mendapat umpan-umpan matang dan terukur. “Ronny dan Iswadi adalah pemain besar,” kata Ris.


Saya tidak akan pernah melupakan saat-saat indah bersama Ronny; ketika ia masih bermain atau obrolan sore di Senayan. Sebelum berangkat untuk kedua kalinya ke Guangzhou itu, Ronny – dia lahir di Makassar, 9 Februari 1949 --  masih menegaskan bahwa dirinya adalah orang bola yang lahir dan dibesarkan di lapangan sepak bola. Karena itu pula dia ingin mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia yang telah membesarkan namanya tersebut. Dia ingin mewujudkan obsesi mendirikan akademi sepak bola, yang kelak melahirkan pemain-pemain nasional. Meski obsesi itu tak pernah terwujud, saya yakin akan ada anak-anak Indonesia yang bakal menggantikannya. 


Sepak bola adalah dunia Ronny. Dia tanamkan cinta dan hatinya di sana. Keteladanan Ronny ketika masih berada di lapangan dan ketulusan ketika tak lagi menjadi pemain bisa menjadi contoh. Itu dia buktikan ketika keluarga dan teman-temannya adalah kekayaan yang tak ternilai bagi dirinya. 


Saya merasakan cinta dan kekayaan yang dimiliki Ronny ketika dia melepas kepergian Stevanus Sirey, yang meninggal pada 12 April  2008. Dia mengenang sahabatnya itu lewat pertandingan bersama mantan-mantan pemain nasional. “Dia sahabat saya. Dia sudah pergi.” Stevanus, yang dikenang Ronny, adalah mantan pemain nasional yang lama bermain di klub Warna Agung. 


Saya selalu ingin meluangkan waktu tuk sejenak berada di makam bang Ronny – demikian saya memanggilnya, dan para legenda, seperti yang pernah saya lakukan; singgah ke pemakaman San Diego Hills Memorial Park, setiap kali ada kesempatan pergi ke Karawang. 


Saya menyambangi makam Roland Hermanus Pattinasarany yang lebih dikenal dengan nama Ronny Pattinasarany. Di sana, juga dimakamkan drg. Endang Witarsa. Keduanya berada di Heroes Plaza, area pemakaman khusus bagi orang-orang yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara. Tak sulit saya menemui makam keduanya seperti saya begitu mudah menemui dokter Endang di Petak Sin Kian dan Ronny di sekitaran Senayan, di akhir-akhir hayat dua legenda yang saya kagumi ini.


Dokter, demikian drg. Endang biasa dipanggil, guru dan bapak bagi pemain-pemain nasional, pergi pada 2 April 2008. Endang Witarsa dan Ronny yang pernah berseteru menjelang tim nasional berangkat ke SEA Games Manila 1981, pergi pada tahun yang sama dan berada di tempat yang sama; Heroes Plaza C26 dan C25. 


Ronny Pattinasarany dan Iswadi Idris telah tiada. Tidak banyak yang bisa dilakukan Risdianto selain mengenang saat-saat bersama Ronny dan Iswadi, dan dua sahabatnya itu tetap tersimpan di hatinya.****

 

Penulis YON MOEIS (Wartawan Olahraga Senior).

Komentar

Tampilkan

Terkini