Iklan

24 Tahun Lalu Gol Dengan Saltonya Di Piala AFC. Widodo C Putra : Doa Yang Terjawab

9/25/20, 19:53 WIB Last Updated 2020-09-25T12:55:32Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 




AKSARANEWS.CO.ID - HARI itu tanggal 3 Desember 1996, jam menunjukkan pukul 22.30 waktu Abu Dhabi.  Bima Sakti, gelandang bertahan elegant Indonesia, sudah berpamitan untuk tidur.

Sementara roomate-nya, striker Widodo Cahyono Putro, mempersiapkan diri untuk berdoa. Widodo yang Kristiani ini, memang selalu berdoa sebelum tidur.



Dalam doa, penyerang klub Petrokimia Putra Gresik itu memohon kepada Tuhan, agar apa yang dia rasakan saat menyaksikan acara Pembukaan Piala Asia di Stadion Mohammed Bin Zayed, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, beberapa jam sebelumnya, yakni kenyamanan, bisa menjadi pertanda baik dalam penampilannya di lapangan hijau, keesokan harinya, 4 Desember. 


Pada tanggal 4 Desember itu, timnas Indonesia akan mengawali perjuangannya di Grup A melawan Kuwait. Dan, sudah pasti, Widodo  akan menjadi penyerang inti yang dimainkan pelatih Danurwindo.


"Malam itu, setelah berdoa, saya tidur sangat lelap. Kondisi saya sangat nyaman. Kondisi seperti itu jarang saya rasakan ketika akan merumput," kata Widodo dalam wawancara khusus dengan penulis yang kebetulan meliput Piala Asia 1996.


Situasi batin yang nyaman tetap dirasakan Widodo saat berada dalam bus timnas Indonesia yang melaju ke arena pertandingan.


Bahkan, saat wasit meniup peluit pertanda pertarungan melawan Kuwait dimulai pun, Widodo masih merasakan itu. Aneh...ya, Widodo merasa ada yang aneh pada dirinya dua hari itu.


Kenyamanan Widodo di lapangan hijau berbuah manis. Pada menit ke-20, Widodo mengaku melihat bola lambung tendangan Ronny Wabia dari sektor kanan. 


Widodo melihat bola itu begitu tinggi merobek udara Stadion Mohammed Bin Zayed. 


"Saya melihat bola itu seperti datang dari langit. Lalu, secara reflek, saya melompatkan diri saya setinggi-tingginya sambil posisi menendang (salto). Saya lompat saja, tanpa tahu apakah tendangan saya akan mengenai Bola atau tidak. Ternyata, bola itu seperti menghampiri kaki saya, dan, terciptalah gol itu," ujar Widodo.


Widodo yang saat itu baru saja bertunangan dengan isterinya saat ini, mengakui bahwa gol itu adalah jawaban dari Tuhan atas doa yang dia panjatkan sebelum tidur semalam.


"Saya minta Tuhan untuk mendampingi saya dalam pertandingan ini. Maka, itulah gol yang diberikan Tuhan untuk saya," ujar dia.

Widodo pun langsung jadi "buah bibir". Wonder goalnya begitu mengguncang Piala Asia 1996. 


Meski gol itu bukan gol kemengan timnas atas Kuwait (skor akhir 2-2), tapi gol itu membuat Widodo jadi the rising star. Widodo  pun diburu pers asing. 


"Mereka (pers asing) mencari saya, bukan karena Widodo. Mereka tak mengenal saya. Mereka hanya ingin tahu gol itu. Gol itu yang lebih terkenal ketimbang saya," kata Widodo merendah.


Kini, 24 tahun kemudian, gol yang menurut Widodo sebagai hadiah dari Tuhan itu, kembali memberikan moment penting bagi seorang Widodo C Putra.


Gol saltonya ke gawang Kuwait yang dikawal kiper Khaled Al Fadhli, terpilih sebagai gol terbaik versi Federasi Sepakbola Asia (AFC) di ajang AFV Bracket Challenge.


Gol Widodo mengalahkan gol kreasi pemain Lebanon, Abbas Chaheour ke gawang Irak di ajang Piala Asia 2000. Gol Widodo terbaik dengan meraih 72 persen suara, sementara gol Abbas mendapat 28 suara.


Bangga...? Tentu, Widodo bangga. Dia yang kini menjadi pelatih klub Persita Tangerang hanya berharap, penghargaan ini bisa memotivasi pemain-pemain muda Indonesia agar menjadi pemain yang bisa mengharumkan bangsa Indonesia.


Menyimak  komentar Widodo saat di Abu Dhabi 1996, yang akan terkenal adalah golnya, bukan Widodo. Dan, itu terjadi saat ini. 


Tapi, walaupun memang proses golnya yang dinilai terbaik versi AFC tahun 2020, jangan dipungkiri pula bahwa sang kreatornya, yakni Widodo Cahyono Putra layak sebagai salah satu  Legenda Sepakbola Asia. Indonesia bangga!

Terima kasih Widodo…****


Ferry Kodrat (Penulis Wartawan Sepakbola Senior)

Komentar

Tampilkan

Terkini