Iklan

Sam Leo Lantang, 70 Tahun, Peraih “Kandang Ayam” Award 20 Kali Menyanyikan Indonesia Raya

Sabtu, 15 Agustus 2020, 7:10 PM WIB Last Updated 2020-08-15T12:10:26Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



AKSARANEWS.CO.ID - Di Indonesia, tokoh legenda yang meminta, agar hari ulang tahunnya dirayakan, ada tiga orang. Demikian, kata Lutfi Sukri. Pertama, Presiden RI ke-2, Soeharto. Kedua, Presiden RI ke-4, Gus Dur. Ketiga, Sam Leo Lantang, ketua SIWO PWI Jakarta 1980 – 1992. Namun, dari ketiga tokoh tersebut, menurut mBah Coco, mantan wartawan BOLA inilah yang lebih hebat.

Mengapa?
Kalau Soeharto dan Gus Dur, hanya dirayakan, saat hari ulang tahun. Kalau Sam Lantang, sangat istimewa. Dirayakan dua (2) kali. Tanggal 15 Agustus 2020, dirayakan oleh para sabahat jurnalis olahraga dan juniornya, di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Sedangkan, 17 Agustus 2020 dirayakan lagi, di Lapangan Sepakola TNI-AU, Aldiron Pancoran, partai SIWO Legenda vs SIWO Jakarta, yang disiapkan ke PORWANAS 2020.
Ada tiga (3) jejak Sam Lantang, yang diingat-ingat mBah Coco, saat menjadi “Wartawan Kuli Tinta Senayan.” Pertama, tahun 1986, saat menggelar event Olahragawan Terbaik Indonesia, versi SIWO PWI Jakarta, di gedung KONI Pusat, Sudirman. Sam Lantang, meminta Iwan Fals, bisa ikutan menjadi penghibur.

Namun, seusai Iwan Fals manggung. Sam Lantang dimarahin Kardono, Ketua Umum PSSI, dan Moerdiono, Segneg sekaligus Ketua Umum PB PELTI. Gara-garanya, kedua orang terdekat Soeharto ini kaget dan tidak menyangka, Iwan Fals tampil di acara pemilihan olahragwan terbaik Indonesia. Karena, saat itu Iwan Fals diboikot dan dilarang manggung di jaman regim Soeharto.
Kedua, saat PORWANAS ke-3 di Padang tahun 1988, semua atlet SIWO Jakarta, di atas kapal, dari Jakarta ke Padang, selalu ngumpet dan petak-umpet cari kamar tersembunyi.

Rata-rata atlet wartawan Jakarta, doyan berjudi. Kalau nggak kiyu-kiyu, ya joker karo. Yon Moeis bertugas, mengawasi, gerak-gerik Sam Lantang dan Supardi (mas Pardi), agar tidak inspeksi ke kamar-kamar atlet Jakarta. Namun, akhirnya tetep digrebek Sam Lantang.
Ketiga, selama jadi Ketua SIWO PWI Jakarta, Sam Lantang, jebolan Perguruan Tinggi Publisistik (PTP), cikal bakal lahirnya Sekolah Tinggi Publisistik (STP) dan Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP), benar-benar sangat dihormati dan dibenci para nara sumber yang jadi pengusaha dan politikus.

Djilis Tahir, bapaknya Ismet Tahir, sering marah kepada Sam Lantang. Pasalnya, Djilis Tahir, yang juga wartawan jaman kemerdekaan, dan pengusaha dilingkaran Soeharto itu, sering telepon Sam Lantang, agar dibuatkan event. Bahkan, Sam Lantang suka dipaksa untuk membuat event, agar disponsori dan dibiayai Djilis Tahir, pendiri PMI tersebut.
Ibnu Sutowo, Direktur Pertamina, sering telepon Sam Lantang, agar kalau ada event, minta donasi. Era Sam Lantang, kalau ingin buat event apa saja, selalu berlimpah para sponsor dan donasi, rebutan berpartisipasi. Misalkan, turnamen gerak jalan, bola voli, tenis, catur, tinju, sepakbola Piala Utama, selalu dipenuhi sponsor dan donasi. Semua gara-gara Sam Lantang, ketua SIWO PWI Jaya. Busyet daghhhhh
Ketika Rabu 12 Agustus 2020 dicambangi mBah Coco dan kawan-kawan, coba ngulik pengalaman dan liputan Sam Lantang, yang paling berkesan. “Tahun 1977, SEA Games pertama Indonesia di Kuala Lumpur, gue nyanyi lagu Indonesia Raya, 20 kali selama empat (4) hari, hanya dari cabang renang,” kata Sam Lantang.

mBah Coco, coba buka dokumentasi cabang renang, di SEA Games 1977, nge-cek kebenaran Sam Lantang. Ternyata, dari 26 nomer yang dipertandingkan cabang acuatic (renang dan loncat indah). Ada 20 nomer putra dan putri, meraih medali emas. Mengibarkan bendera "Merah Putih", dan menyanyikan Indonesia Raya.

Karakter Sam Lantang yang selalu berbinar-binar emosi, masih meyakinkan mBah Coco. Dari 20 kali melantukan lagu Indonesia Raya. Ada 12 dari 13 kali, nomor yang dipertandingan renang putra, menyanyikan Indonesia Raya.
Cukup hanya terjunkan lima (5) perenang Indonesia, yang sangat superior sebagai kampium di semua nomer gaya bebas, gaya dada, gaya punggung, gaya kupu-kupu, serta beregu nyaris sapu bersih, dari perenang Kristiono Sumono, Lukman Niode, Kun Hantio, Gerald dan Jerry Item.
Bang Sam, Anda sedikit dari ratusan jurnalis, yang selalu jadi panutan junior-junior.....sehat-sehat di usia 70 tahun hari ini...jangan lupa bahagia.****

Penulis Mbah Coco adalah wartawan senior dibidang olah raga.
Komentar

Tampilkan

Terkini