Iklan

Harry Kawilarang , Petualang Yang Tak Bisa Dilarang

8/11/20, 09:34 WIB Last Updated 2020-08-11T02:34:55Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

AKSARANEWS.CO.ID - Sobat saya yang satu ini memang amat luas pertemanannya. Dia ramah dan selalu tersenyum, jarang marah. Dia juga akrab dengan para wartawan pemula. Tahun 1990, Harry yang sudah senior bersama rekannya yang bernama Isaac Sinyal (almarhum), mengajak wartawan pemula Syah Sabur, meliput konflik di Mindanao, Filipina Selatan. Mereka bertiga bertualang selama sebulan di sana.

Mereka berangkat naik kapal Kementerian (dulu Departemen) Perhubungan. Lalu tidak ikut pulang, keluar masuk hutan di Mindanao dan sempat bertemu dengan para ‘pemberontak’ suku Moro. Mereka dibiarkan lewat karena Sabur mengucap salam sebagaimana biasa diucapkan umat muslim.

Sebetulnya Syah Sabur tidak bisa berenang. Harry mengajaknya pulang dari Mindanao menumpang kapal nelayan yang berlayar tanpa kompas, mengarungi laut lepas menembus perbatasan. Perjalanannya sekitar 40 jam non-stop dari Cotabato di Mindanao sampai ke Bitung di Minahasa.

Selama dua-tiga jam pertama pelayaran, Sabur memang rada kecut dan nyalinya ciut. Di kapal kecil itu, Harry sempat mengajari Sabur cara-cara menangggulangi ombak besar di laut lepas agar tidak mabuk. “Akhirnya saya pasrah saja, karena toh tidak bisa apa-apa juga di laut seperti itu,” tutur Sabur.

Ternyata justru Harry yang mabuk laut. Dan Syah Sabur belakangan menyampaikan kembali semua ajaran Harry tentang cara-cara menanggulangi mual di tengah ombak laut. “Bang Harry gak marah saya ledekin,” tutur Syah Sabur.

Tolé Tondano
Tolé yang satu ini lahir 27 September 1944 di Tondano, Sulawesi Utara. Tahun 1965 dia pernah jadi mahasiswa di Fakultas Publisitas Universitas Prof Moestopo di Jakarta. Dan tercatat sebagai salah seorang pegiat Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) dengan nama Harry Alexander Kawilarang.

Dia luwes dan pandai bergaul. Temannya banyak, baik di daerah maupun di Jakarta. Bahkan dia punya jaringan luas di tingkat internasional. Saya sering terkagum-kagum ketika mengetahui bahwa dia juga banyak kenal dengan wartawan asing yang menjadi teman-teman saya.

Ternyata, entah bagaimana ceritanya, Harry tahun 1966 berkesempatan belajar fotografi jurnalistik dan kursus jurnalis di Amsterdam, Belanda. Pantas dia sampai tua masih sering menyelipkan kata-kata berbahasa Belanda dalam percakapannya. Harry yang selalu mujur itu beroleh peluang studi lanjutan ke Hamburg dan Berlin (Jerman). Dia sambil bekerja sebagai koresponden majalah KAMI di Eropa pada 1966-68.

Sepulang dari belajar di Eropa, tahun 1968 Harry menjadi fotografer surat kabar Utusan Malaysia, di Kuala Lumpur, Malaysia. Harry ikut memotret peristiwa konflik rasial di Jalan Kampong Baru 13 Mei 1969, yang mengakibatkan 184 orang tewas. Di Kuala Lumpur, Harry aktif dalam komunitas jurnalis Asia.

Perang Vietnam
Dia juga pernah meliput Perang Vietnam dan bersama teman-teman pers lainnya ikut menjelajah wilayah konflik itu sampai dekat perbatasan Kamboja. Di sana salah seorang temannya, wartawan dari Jepang, mati tertembak. Dalam hati saya, ini sinyal Tuhan. Harry baru sadar akan bahaya peliputan peperangan, lalu dia pulang ke Jakarta.

Dia sempat bersama-sama Jus Soema di Praja bekerja di Harian Indonesia Raya, tapi ia mengundurkan diri Agustus 1972. Harry lalu menggelandang menjadi wartawan freelance, kemudian ia bergabung dengan Harian Sinar Harapan mulai 1 Januari 1974. Baru sekitar dua minggu ia bekerja di media tersebut,  Sinar Harapan mengalami pembreidelan Harry bertahan di sana sampai harian itu berhenti terbit 9 Oktober 1987. Lalu ia kembali bekerja sewaktu Sinar Harapan berganti nama menjadi Suara Pembaruan.

Selain bertugas di harian sore itu, Harry juga membantu Tabloid Dwi Mingguan Mutiara dan Majalah Bulanan Teknologi Strategi Militer (1987-1991). Selama bekerja di grup Sinar Harapan tersebut, Harry melanglang buana berkunjung ke sekitar 120 negara dan berkeliling sampai ke pelosok dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Awal dekade 1990an, Harry dikirim sebagai koresponden Suara Pembaruan untuk Asa-Timur dan Pasifik yang berkedudukan di Hong Kong (1991-1993). Ia pensiun sebagai wartawan senior Suara Pembaruan Oktober 2001.

Ramos Horta
Harry memang tidak bisa dilarang. Akhir April 1974 dia sedang cuti dan memancing di Desa Ba'a, Pulau Roti, Nusa Tenggara Timur (NTT). Harry mendengar dari radio ada kudeta Revolusi Bunga yang berhasil menurunkan rezim diktator Salazar di Lisabon, Portugal. Harry segera kembali ke Kupang dan berusaha menghubungi Sabam Siagian, atasannya di Sinar Harapan.

Tapi, Sabam tidak bisa dihubungi sehingga Harry berinisiatif menemui Gubernur NTT El Tari. Rencana ke Timor Timur melalui darat lewat Belu dan menyeberangi Sungai Mariana batal karena air sungsi itu sedang sangat deras. Harry masuk ke perkampungan Portugal di Oekusi lalu terbang ke ke Dili.

Ia diterimaTomodok, Konjen RI di sana. Lalu berkenalan dengan Jose Ramos Horta,  dan para pemuka lokal seperti Mari Alkatiri, Xavier de Amaral, Mario Zuares, Mgr. Josef, dan Gubernur des Reyes. Laporan Harry tentng situasi di Timtim pada waktu itu banyak dikutip oleh kantor berita dunia. Dari sana Harry balik ke Kupang, lalu pulang ke Jakarta.

Sekitar seminggu setelah itu, Horta menelepon Harry dan memberitahukan dirinya ada di Jakarta. Harry membawa Horta ke tempat kosnya di kawasan  Jakarta Pusat dan mengajak tamunya itu berkeliling Jakarta berboncengan skuter. Harry juga membawa Ramos menyelinap ke rumah dinas Adam Malik yang ketika itu pejabat negara.

Dengan skuter tuanya, Harry juga membawa Ramos Horta berkenalan dengan para pejabat lain dan para aktifis.

Berpulang
Gara-gara memelopori berdirinya serikat pekerja, hak sipil saya sebagai wartawan di Harian Kompas dicabut selama sekitar dua tahun. Dalam situasi seperti itulah, saya mendapat tawaran menjadi Kepala Biro Koresponden Suara Pembaruan di Washington DC. Akhir tahun 1989 saya hijrah ke grup Sinar Kasih, lalu selama beberapa bulan mempersiapkan keberangkatan saya ke Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Harry Kawilarang bersiap-siap berangkat ke Hong Kong dan Petrus Suryadi (almarhum) menyiapkan diri berangkat ke Belanda.

Tidak lama sepulang dari bertugas di Amerika, saya hijrah dari grup Sinar Kasih yang menerbitkan Harian Suara Pembaruan. Sementara Harry dan Petrus masih tetap bekerja di sana. Lama saya tidak bertemu mereka. Belakangan saya dengar kabar terlambat bahwa Petrus Suryadi wafat di Timor Leste.

Harry kadang-kadang masih menghubungi saya. Dia pernah mengajak saya ngopi, hanya sekadar memamerkan ratusan lembar naskah yang sedang disiapkannya sebagai buku. “Abis ini gue mau nulis soal Gubernur,” ujarnya seraya menyebut salah satu nama kepala daerah Sulawesi Utara.
Saya tidak tahu perkembangan rencananya itu. Yang jelas, Allah punya rencana tersendiri dan memanggilnya pulang. Petualang yang susah dilarang itu tak kuasa menentang!

Selamat jalan, Har. Jangan bertualang lagi di sana.
Albert Kuhon.
Bintaro, 10 Agustus 2020.****
Komentar

Tampilkan

Terkini