Iklan

Drama Dua Raksasa di Final Liga Champions

Minggu, 23 Agustus 2020, 8:06 AM WIB Last Updated 2020-08-23T01:06:21Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

AKSARANEWS.CO.ID -  DUA raksasa sepak bola Eropah bertemu di partai puncak final piala Liga Champions, musim 2019/2020,Minggu malam (23/8) waktu Lisbon Portugal,atau Senin (24/8) dinihari WIB.  Partai ini, ibarat pementasan sebuah drama di lapangan hijau. Paris Saint Germain (PSG), Perancis menantang Bayern Munchen ,Jerman dalam partai yang dipimpin wasit asal Italia, Daniele Orsato.   
 
Tentu partai puncak ini bakal sengit dan menarik untuk ditonton. Pasalnya kedua tim yang berlaga bertaburan pemain Bintang.
 
Dari kubu PSG, ada pemain internasional asal Brazil, Neymar, Mbappe, Angel di Maria . Sedang dari Bayern Munchen ada Lewandowski, Muller, Boateng dan bintang baru sedang bersinar, Serge Gnabry.
 
Ditambah pula kedua tim diarsiteki pelatih asal negara yang sama, Jerman dan mumpuni, sama sama membawa tim yang ditangani, juara dan raksasa di dalam negeri masing masing maupun dalam laga internasional.

  Kemampuan kedua pelatih dalam menerapkan strategi dan meramu para pemain untuk jadi sebuah tim tangguh sudah tidak disangsikan lagi.   Thomas Tuchel yang mengarsiteki PSG, dan Hans Dieter Flick  menukangi Bayern Munchen.

 Lalu siapa yang keluar sebagai pemenang dalam pertarungan dua raksasa sepakbola Eropah untuk membawa pulang Piala si Kuping Besar kenegaranya. Apakah PSG yang berhasil untuk pertama kalinya melaju ke final sejak tim itu didirikan 12 Agustus 1970 ataukah Bayern Munchen untuk memboyong piala dan juara Liga Champions yang keenam kalinya?

 Pelatih PSG, Thomas Tuchel seperti dilansir Canal +, mengatakan Liga Champions adalah tujuan utama meraih kesuksesan meskipun PSG harus bersabar untuk itu. " Sekarang kami tinggal selangkah lagi untuk meraih sukses itu yakni membawa Piala ke Paris. Ini harapan kami dan seluruh tim, "ujarnya

 Tekad Tuchel dan seluruh pemain PSG yang dijuluki Les Parisiens bukan tidak mungkin menjadi kenyataan. PSG bersama Tuchel merupakan sebuah tim yang kaya taktik. Ia sering mengubah formasi di sektor pertahanan, kadang hanya menggunakan tiga pemain belakang dan tak jarang menempatkan empat pemain belakang. Thiago Silva, Marquinhos, dan Presnel Kimpembe, tiga pemain andalan di pertahanan, kalau bermain dengan empat pemain belakang, Marquinhos ditugaskan sebagai gelandang bertahan di depan Silva dan Kimpembe. SementaraJuan Bernat dan Thomas Meunier menempati bek kiri dan bek kanan. Kedua bek ini bisa berfungsi sebagai pemain sayap jika menyerang.

 Lini tengah Marco Verrati dibantu Ander Herrera dan Idrissaqueye bertugas mengatur serangan dan menjaga keseimbangan tim.

Tentu di depan trio penyerang berbahaya, Mbappe, Di Maria dan Neymar sdh tak diragukan kecepatan dan ketajaman dalam membongkar pertahanan yang dijaga Jeremi Boateng

  Bagaimana dengan Bayern Munchen? Tim yang dijuluki Die Roten pada Liga Champions musim ini tampil sempurna. Bayern sangat komplet di semua lini. Hampir semua pemain terkecuali kiper bisa cetak gol dari setiap posisi.
 
Pelatih  Hansi Flick dalam setiap penampilan selalu bermain menekan, cepat dan terbuka, pemain bertahan lawan selalu kerepotan menjaga pemain pemain Bayern.

 Ujung tombak , Robert Lewandowski dengan tandemnya Muller hanya bertugas lebih mengalihkan pemain bertahan untuk fokus menjaga kedua pemain itu. Padahal kekuatan serangan itu datang dari pemain pemain dari second line, yang ditempati Perisic, Goretzka, Serge Gnabry/ Coutinho, Thiago Alcantara. Para pemain gelandang ini dengan pergerakan cepat dan eksplosif sering muncul tanpa terkawal pemain gelandang dan pemain bertahan lawan untuk menerima umpan dua bek yang agresif membantu  serangan yakni Kimmic di kanan  dan Davies di bek kiri. Tekanan Bayern sering ditunjang juga oleh David Alaba yang berduet dengan Boateng di jantung pertahanan. Bukti ketajaman dengan main terbuka dan menekan pemain pemain Bayern, pada babak delapan besar ketika menghadapi Barcelona, dalam waktu 30 menit sudah mencetak 4 gol  ke gawang Barcelona.

Titik Lemah Bayern
Meskipun tampil sempurna dan sangat komplet di semua lini, bukan berarti Bayern Munchen tidak memiliki kelemahan. Sektor pertahanan yang sering ditinggal Alaba dan dua bek, Kimmic dan Davies, menjadi lubang yang menganga jika mendapat serangan balik. Lyon membuktikan kelemahan itu. Dari sebuah serangan balik cepat , Depay menerima umpan lambung dari belakang , Boateng terlambat menutup sehingga Depay tinggal berhadapan dengan kiper Manuel Neuer, namun sayang tendangan Depay melenceng tipis di kiri gawang Neuer Pelatih Hansi Flick mengakui kelemahan di sektor jantung pertahanan.

Ia mengingatkan kepada para pemainya supaya bertahan lebih baik pada laga final . Pertahanan Bayern pada laga melawan Lyon sangat mudah ditembus. " Kami  perlu bertahan lebih baik. PSG adalah tim yang hebat, mereka berjuang dan bekerja keras menuju semi final dan mencapai final, "ujar Hansi Flick seperti dilansir Goal.

 Untuk mengantisipasi tekanan dan gempuran Pemain Bayern , Thiago Silva dkk di sektor pertahanan harus disiplin mengawal setiap jengkal wilayahnya, kemudian melepaskan serangan balik cepat ke pertahanan, dimana Mbappe dengan kecepatan lari dan skill yang prima akan merepotkan Boateng. Demikian kehandalan Di Maria menjadi senjata pamungkas meneror pertahanan Boateng
 Neymar dengan segala kelebihan skill yang dimilikinya bisa membuat pemain belakang Bayern tidak leluasa membantu serangan, karena terfokus menahan pergerakan Neymar dalam mengobrak abrik pertahanan Bayern.  " Memenangkan gelar Liga Champions., akan sangat spesial. Saya tahu itu. Namun memenangkan dengan PSG akan menjadi sejarah, " Ujar Neymar seperti dilansir Goal.

 Partai final ini  adalah pementasan sepakbola menyerang dan agresif Bayern menghadapi serangan balik cepat PSG.
Pertemuan kedua tim ini dalam sejarah Liga Champions sudah untuk ke sembilan kalinya. Delapan pertemuan sebelumnya terjadi pada periode 1994 - 2017. Dari pertemuan itu PSG mencatat 5 kali kemenangan sedangkan Bayern Munchen meraih 3 kemenangan.

Meski unggul head to head atas Bayer Munchen, PSG masih kalah jauh dari Bayern dalam urusan prestasi di liga Champions.

 Raksasa liga Perancis itu belum pernah tampil sebagai juara sedang Raksasa liga Jerman Bayern Munchen sudah lima kali menggenggam gelar Juara Liga Champions. Secara  keseluruhan Bayern Munchen sudah mengoleksi prestasi 10 kali masuk final sejak liga elite Klub Eropah ini dipentas musim 1955/1956.****

Eddy AM Lahengko (Wartawan senior)
Komentar

Tampilkan

Terkini