Iklan

Menyongsong Piala Dunia U20 , Mei - Juni 2021 Mengenang Piala Dunia 1979

Senin, 13 Juli 2020, 11:29 AM WIB Last Updated 2020-07-13T04:31:39Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini




M. Nigara (Wartawan Sepakbola Senior)

AKSARANEWS.CO.ID - INI kali kedua tim merah putih akan tampil di Piala Dunia U20 (Junior), Mei-Juni 2021. Pertama, tahun 1979, Bambang Nurdiansyah, David Sulaksmono, Mundari Karya dan kawan-kawan, tampil di Piala Dunia Junior, Tokyo.

Tahun 1938, ada sembilan pemain Indonesia yang tampil pada Piala Dunia senior di Prancis. Mereka tidak mewakili Indonesia, tapi turun dengan atribut Hindia-Belanda. Bisa dipahami, Indonesia sendiri memang belum merdeka, tapi PSSI sendiri sudah berusia delapan tahun. Tepatnya Ir. Soeratin melahirkan PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesua), 10 April 1930.

FIFA sesungguhnya memang mengundang PSSI untuk tampil di Piala Dunia ke-2. Ada dua alasan utamanya: Pertama FIFA sebagai induk sepakbola menganut anti penjajahan. Kedua, FIFA melihat keberanian Soeratin melawan penjajah.

Tapi sayang, undangannya jatuh ke Nedelandsche Indische Voetbal Union (NIVU) alias Persatuan Sepakbola Hindia-Belanda. Ini juga bisa dimaklumi karena PSSI masih belum jelas sekertariatannya.
Catatan, pada saat itu, belum ada babak kualafikasi.

Inilah ke-9 pemain yang beruntung: Kiper: Tan "Bing" Mo Heng (HCTNH Malang), Jack Samuels (Hercules Batavia)
Tengah: , Achmad Nawir (HBS Soerabaja), Anwar Sutan (VIOS Batavia),
Depan: Tan Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), Tan See Han (HBS Soerabaja), Isaak "Tjaak" Pattiwael (VV Jong Ambon Tjimahi), Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja), M.J. Hans Taihuttu Voetbal Vereniging (VV Jong Ambon Tjimahi).

Senior dan Junior
Kembali ke Puala Dunia Junior.
Dulu, FIFA hanya memiliki dua event piala dunia, senior dan junior. Meski tidak sebesar piala dunia senior, tapi event junior itu tidak bisa di pandang sebelah mata. Banyak bintang dunia yang terlahir dari situ.

Satu yang paling fenomenal, Diego Armando Maradona, bomber Argentina. Mata dunia terbelalak melihat anak muda yang satu itu.

Beruntung, tim nasional merah-putih 1979, ikut langsung menyaksikan kehebatan sang Maestro. Maradona mencetak dua gol dan Ramon Diaz membuat hattrick, kita kalah 5-0.

Selain kalah dari Argentina yang kemudian menjadi juara dunia, kita juga kalah 6-0 dan 5-0 masing-masing dari Polandia dan Yugoslavia. Dengan kebobolan 16 gol, kita berada di posisi juru kunci grup B.

Meski begitu, Bambang Nurdiansyah, David Sulaksmono, Mundari Karya dan kawan-kawan telah menjadi pemain bola yang sesungguhnya. Bukan berarti pemain lain bukan pemain bola sesungguhnya, tapi Bambang Cs sudah sampai pada kepuncaknya sepakbola.

Lalu, seperti apa sih rasanya main di Piala Dunia? Kemudian, perasaan apa yang ada di dada mereka saat menghadapi Diego Maradona?****
Bagian 2
Tunggu kisah dibagian berikutnya...
Komentar

Tampilkan

Terkini