Iklan

Yopie Saununu , Tukang Parkir Yang Mantan Pemain Nasional

5/31/20, 18:11 WIB Last Updated 2020-05-31T11:11:06Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior


AKSARANEWS.CO.ID - NAMANYA Yopie Saununu. Ya, kakak dari Alexander Saununu dan Leo Saununu. Ketiganya adalah pesepakbola, tapi hanya Yopie dan Leo yang sempat merumput di tim nasional. Untuk penggila sepakbola saat ini, ketiga nama itu pasti tidak familiar.

Yopie malang-melintang di Persebaya 1972-1975, seangkatan dengan Subodro, Rusdi Bahalwan, Rudy Kelces, dan lain-lain. Yopie ada dalam tim Persebaya Perserikatan saat kembali menjadi runner-up, 1973. Dua tahun sebelumnya, Persebaya juga _runner up_ . Catatan: Meski PSSI melebelinya kompetisi, Perserikatan belum perna berkompetisi. Aktivitas dua tahunan itu sesungguhnya _home tournament_ . Betul saat berputar menggunakan sistem setengah kompetisi, di bagi grup seperti pola Piala Dunia.

Tiga tahun setelah itu, saat Persebaya menjadi juara, 1978, Yopie sudah hengkang ke klub Warna Agung, Jakarta.

Yopie direkrut dan diboyong ke Jakarta, langsung oleh Benny Mulyono pemilik Pabrik Cat Warna Agung. Klub itu diisi oleh bintang-bintang nasional. Satu di antaranya Yopie Saununu yang pernah memperkuat tim nasional 1974-75.

Awalnya klub itu digunakan untuk mempromosikan produk cat Warna Agung. Misalkan di Cirebon, sebelum perwakilan dibuka, diadakanlah _show_ para legenda. "Pake sepakbola, lebih mudah, efesien, dan efektif," tukas Oom Benny, dulu saat saya wawancarai, 1980an.

Selepas bermain untuk Warna Agung, Yopie seperti menghilang. Lebih dari 20 tahun tak bertemu, Sabtu (30/5/2020) ia berbicara dengan saya melalui telepon. Tepatnya, siang itu, Hanafing, kiri luar Niac Mitra, mengontak saya.

"MN, masih ingat saya kan?" kata seseorang yang menurut Hanafing teman lama saya.

Saya tertegun sesaat untuk coba mencermati logat suara. Tapi, tak ada lima detik, lelaki dari ujing telpon langsung membuka jati dirinya. "Yopie..," katanya. "Yopie Saununu, Warna Agung!"

Ya, saya ingat dan sangat mengenalnya. Bahkan dengan dua adiknya pun saya kenal betul, Leo dan Alex. Yopie saya kenal jauh sebelum saya jadi wartawan di Majalah Olympic (1979-81) dan Kompas (1981-84).

"Ingat sekolah kita final di Lapangan Banteng, 1976?" katanya lagi.

Ya, ingat banget. SMA Ksatrya, Jl. Percetakan Negara vs SMAN VII, Gambir Jakarta. Yopie, Rully Neere, Dede Sulaiman, adalah bintang nasional yang menjadi siswa SMA Kesatrya. Saya dan teman-teman dari SMAN VII, Jakarta, bukan lawan yang sulit bagi mereka.

Kisah tak pernah bisa saya lupakan karena dua hal. Pertama sebelum bertanding, sekolah saya tawuran dengan SMAN 1, Budi Utomo. Kejar-kejaran, gebuk-gebukan. Kebetulan saat itu kedua SMAN itu lumayan ditakuti di Jakarta.

Selesai itu, kami bertarung dengan SMA Ksatrya. Babak pertama sekolah saya sudah tertinggal 6-0. Jika diteruskan bisa 12 bahkan 15-0. Supaya tidak malu, ya buat gaduh lah.

Anak-anak Ksatrya pasti takut karena mereka adalah para pemain bola sungguhan. Sementara saya dan teman-teman cuma seneng saja dengan sepakbola. Maka tak membutuhkan waktu lama, pertarungan selesai. Lapangan langsung dikuasai SMAN VII. Tapi itu tak mengubah skor dan Ksatrya tetap dinyatakan juara.

Yopie tertawa. Tapi, seketika nafas suaranya jadi parau. "MN, aku sekarang jadi tukang parkir di stadion," katanya lirih.

Belum sempat saya bereaksi, Yopie kembali menambahkan: "Duitku sering dirampas oleh ... (Yopie menyebut nama suporter beken). Aku sering diusir oleh mereka kalau nggak mau kasih uang," katanya lagi.

Dada saya langsung sesak, tenggorokan saya tersekat. Saya terbayang Yopie yang bermain dengan teknik tinggi baik di Persebaya, Warna Agung, maupun tim nasional. Duuuh.

Tiba-tiba telpon kembali berpindah ke Hanafing. "Oke bang, mohon perhatiannya ya," tukas pemain asal Sulsel yang kemudian menetap di Jawa Timur.

Saya tak kuasa berkata apa-apa. Di kepala saya bergantian muncul para mantan bintang nasional yang hidupnya amat susah. Ada yang berjalan kemana saja sambil membawa album fotonya saat masih jadi pemain. Lalu bercerita meski tanpa diminta. Dan ketika kita sodorkan lembaran Rp 50.000an, tangan kita seperti ingin digenggam dan dicium.

Padahal saat mereka masih jadi bintang, kita tersentak, terlonjak, berteriak kegirangan saat melihatnya memainkan bola.

Masih sangat banyak para mantan seperti Yopie..., lalu, apa yang harus kita perbuat??

Semoga ada jalan terbaik untuk mereka...
                                    ****
Komentar

Tampilkan

Terkini