Iklan

Mungkinkah Tyson, Holyfield, And His Gank Come Back?

Sabtu, 16 Mei 2020, 4:25 PM WIB Last Updated 2020-05-16T09:39:00Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Wartawan Olahraga Senior
Komentator Tinju tvone

TAK ADA yang tak mungkin di atas ring tinju. Segala sesuatu bisa terjadi, bisa sesuai dengan skenario, bisa juga jauh dari itu. Semua sangat bergantung pada mampu atau tidakkah memanfaatkan kesempatan dan peluang yang datang.

Tapi, jika orang bertanya, mungkinkah Mike Tyson (53), Evander Holyfield (58), Riddick Bowe (52), Donovan Razor Ruddock (56), Lennox Lewis (55) _come back_? Jujur, saya sulit menjawabnya.

Benar, mereka adalah para mantan juara dunia kelas berat, tapi predikat itu bukan jaminan.
Betul, dalam video-video yang belakangan bermunculan, khususnya saat Tyson dan Holyfield berlatih, keduanya masih mampu memperlihatkan kesan luar biasa.

Khususnya Tyson, _footwark_ dan _body weaving_ nya masih lincah. Bahkan _hook-hook_ nya masih keras dan akurat. Begitu pula _speed_ pukulan lainnya, masih sangat tajam. Bahkan _power_ setiap pukulannya terkesan sama seperti saat masih berjaya. Apalagi, pelatih yang menangani Tyson adalah Rafael Corderio, pelatih yang memiliki kualifikasi top.

Tapi, bertinju tidak melulu soal teknis. Malah, tidak jarang faktor non-teknis justru ikut menentukan. Apalagi saat ini Tyson _and his gank_ , usianya sangat rawan. Usia yang oleh para dokter olahraga dianjurkan hanya melakukan olahraga ringan seperti _jogging_ saja. Artinya, tidak mudah bagi Tyson dan kawan-kawan menghadapi lawan. Menghadapi diri sendiri saja, mereka sangat sulit.

Boleh saja saat berlatih begitu luar biasa. Tapi, berlatih dan bertanding adalah dua persoalan yang berbeda. Dalam berlatih, emosi dan ego tidak bergerak seperti saat bertarung. Berlatih kita hanya menghadapi satu lawan, diri sendiri, sementara saat bertanding, kita menghadapi lebih dari satu lawan.

Sekedar mengingatkan: Ada contoh paling menarik saat Tyson kalah dari James Buster Douglas di Tokyo (11/2/1990). Atau ketika Lennox Lewis KO di hajar Hashim Rahman (22/4/2001).

Secara teknis, Tyson dan Lewis, saat itu, sangat jauh di atas lawan mereka. Dari seluruh sudut teknis, tak ada celah bagi Douglas dan Rahman bisa menang. Bahkan pasar taruhan pun 1:10.

Tapi, Tyson dan Lewis sama-sama kalah KO. Lebih parah lagi, kedua jagoan itu seperti petinju kebanyakan bertemu dengan para juara, jadi bulan-bulanan lawan. Bukan hanya kalah, tapi babak belur.

Dari data yang ada, Tyson saat itu sedang galau karena hubungannya dengan sang istri Robin Given berada pada titik terendah. Sementara Lewis, kepalanya sedang dipenuhi dengan urusan bisnis garmen yang mulai nanjak.

Jadi, saya ingin menegaskan, kekalahan mereka berkaitan dengan masalah non-teknis. Padahal saat itu keduanya sedang berada posisi top-topnya. Toh mereka tak mampu mengatasinya.

Sekarang? Ketika usianya sudah melewati angka lima, ketika fisiknya sudah tidak sebugar dulu, ditambah persoalan ekonomi yang melilit dan menjepit, mampukah Tyson, Holyfield, Lewis atau siapa pun jagoan tua itu bisa?
Saya sulit untuk menjawabnya.

Tertua
Tapi, jika saja Tyson, Holyfield, atau siapa pun dari mereka berhasil, pasti akan sangat menarik. Bukan tidak mungkin perusahaan DAZN, internet tv dan sport broadcasting yang berbasis di Inggris, akan menontraknya.

Ya, sejak ada DAZN, promotor individual, seperti: Top Rank (Bob Arum), GBP (Oscar de la Hoya), DKP (Don King), dan lain-lain, mati suri. Bayangkan DAZN berani mengontrak Saul Canelo Alvarez seharga Rp 5,5 triliun untuk 11 pertandingan.

Jika orang bertanya, apa menariknya mengontrak para orang tua itu? Jawabnya bisa bermacam-macam. Satu yang paling menarik, Tyson cs akan memecahkan rekor dunia sebagai petinju tertua yang meraih sukses. Dan, itu akan sangat menarik.

Kita tahu, Berbard Hopkins adalah petinju tertua yang menjadi juara dunia ketika merebut tiga sabuk juara WBA, IBA, IBF _Light heavyweight_ dari tangan Beibut Shumenov (19/4/2014) di DC Armony, Washington, USA, saat usianya 49 tahun tiga bulan. Hopkins juga menumbangkan rekor Geoege Foreman, saat merebut gelar kelas yang sama versi IBF atas Karo Murat, (26/10/2013).
Foreman sendiri menjadi petinju tertua pertama yang mempertahankan gelar juara dunia kelas berat versi WBU (26/4/1997) atas Lou Savarese di Convention Center, Atlantic City, USA. Saat itu Big George sudah berusia 48 tahun 3 bulan.

Akankah terlaksana semua kejutan itu? Kita, patut menunggunya.....
                                  *****
Komentar

Tampilkan

Terkini