Iklan

Sepak Bola Kita Pernah Mati Suri

1/04/20, 22:53 WIB Last Updated 2020-01-04T15:53:49Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

Aksaranews.co.id - KOSONG MELOMPONG. Siapa yang pernah menyaksikan pertarungan sepakbola, tim nasional, klub Galatama, dan Perserikatan era 1986an? Tak ada pekik, tak ada kemeriahan. Di dalam stadion, kira-kira hanya ada 11 x 2 + 6 x 2 + 4 + 4 + 9 = 50 +12 = 63 orang saja. Selebihnya bangku kosong melompong.

Rinciannya, dua klub yang bertanding sebanyak 11 x 2 = 22 pemain. Sementara 6 × 2 = 12, jumlah cadangan. Empat orang terdiri dari wasit, hakim garis, dan inspektur pertandingan. Empat lainnya panitia. Sembilan orang adalah wartawan tulis dan wartawan foto. Sementara 12 orang lainnya adalah petugas keamanan.

Saksi Sejarah
Dari begitu banyak wartawan peliput sepakbola, sedikitnya ada sembilan orang yang jadi saksi sejarah. Yesayas (Kompas), Eddy Lahengko (Suara Pembaruan), Sakti Sawung Umbaran (Pos Kota), Mardi (Merdeka), Riang Panjaitan (Sinar Pagi), Alfon Suhadi (Suara Karya), Salamanun Nurdin (Pelita), Bambang Kendro (Berita Buana), dan saya, M. Nigara (BOLA).

Bang Mardi, Alfon, dan Saya bukan hanya meliput dengan tulisan, tapi juga memotret dari belakang gawang. Meski gajinya cuma satu, tapi kami senang melakukan tugas ganda.

Ya, kami ikut menyaksikan saat-saat sepakbola kita: Timnas, Galatama, dan Perserikatan, kalah ramai dengan kepak burung-burung gereja. Itulah saat di mana tak ada seorangpun yang perduli pada sepakbola kita. Itulah, tahun 1986an, tahun di mana kepercayaan telah hilang dari lerung sepakbola nasional. Itulah saat di mana sepakbola kita mati suri.

Saya dan para sahabat itu, bersyukur telah menjadi saksi sejarah dari perjalanan panjang sepakbola kita. Kami menjadi 'kuli-kuli tinta' yang berjibaku di antara harapan dan impian kosong tentang sepakbola kita. Kami telah menyaksikan hampir seluruh 'kepalsuan' yang ada.

Padahal, saat saya memulai liputan Desember 1979 hingga 1985, sepakbola kita masih punya warna. Meski tanpa atribut, tanpa sorak militan, penonton yang datang selalu membludak. Tapi, memasuki 1986an, semua seperti sirna.

Mengapa? Begitu tiba-tiba? Tentu tidak. Arah menuju ketidakpedulian atau kematian sesaat itu, sesungguhnya sudah berjalan sejak lama. Ya, tepatnya setahun menjelang Asian Games ke-IV, di Jakarta 1962.

Suap
Dari sana hingga 1986an, banyak sekali kisah aneh yang muncul dari banyak versi. Para nara sumber saya adalah para pelaku, dan atau saksi pelaku itu sendiri. Tapi karena mereka mayoritas telah meninggal, saya tak akan memyebut namanya. Selain itu, saya juga ingin menjaga kehormatan anak-anak atau cucu mereka yang tidak terkait sama sekali. Lagi pula, mereka adalah para bintang yang kadung pernah dipuja di tanah ini.

Suap atau pengaturan skor, penyebab utama semuanya. Ada dua jenis suap: Pertama suap untuk mengatur jumlah gol. Dan kedua, suap yang kita kenal selama ini.

Awalnya memang agak aneh, tapi ketika dijelaskan oleh para nara sumber itu, saya baru paham. Suap jenis yang pertama ini, jelas dilakukan oleh mereka yang memiliki _skill_ setengah dewa. Bukan hanya individu, tapi juga tim. Di jenis ini, tim atau klub tidak disuap untuk kalah tapi hanya mengatur jumlah gol. Selain itu, order gol juga bisa diminta di menit tertentu.

Jadi, jika tidak menguasai teknik tinggi, tidak mungkin seseorang atau kelompok orang, bisa memenuhi order-order itu. Meski, jenis suap ini tidak untuk kalah, tetapi mengatur gol untuk kepentingan lain, tetap tidak bisa dibenarkan.

Wal hasil kisah ini dilaporkan ke Ketum PSSI yang segera mengambil tindakan. Dan hukuman pun dijatuhkan, kecuali sipemain muda itu. Akibatnya timnas AG, dirombak total. Hasilnya? Jeblok.

Itulah saat pertama sepakbola, khususnya timnas kita ditembus suap. Meski bukan untuk kalah, tapi mengatur skor yang harusnya bisa lebih dari 8 atau 9 gol, para bintang itu hanya mencetak 2 atau 3 gol saja.

Lalu, nara sumber yang lain, juga pernah berkisah bahwa saat babak final 12 besar perserikatan, juga terjadi hal yang nyaris sama. "Duitnya ditarik pake ember ke lantai 2," kenang bomber timnas kita era 1960an.

Suap di sini juga bukan untuk kalah, tapi untuk mengatur gol kemenangan. Dengan jumlah gol tertentu, maka ada tim yang diuntungkan. Maklum, meski waktu itu judulnya kompetisi, tapi faktanya Perserikatan di tingkat nasional adalah _home tournament_ yang digelar perdua tahun.

Berubah
Entah karena kebiasaan, entah karena kebutuhan. Menjelang lahirnya Liga Sepakbola Utama (Galatama) 1978 yang digagas oleh para senior kami, wartawan sepakbola: Sumohadi Marsis, Valen Doi, Kadir Jusuf (Kompas), Ardi Syarif (Pos Kota), Zuhri Husein, Pontjo Siswarto (Merdeka), Tabrin Tahar (Olympic), dan Budimantos (Pelita), suap versi kedua mulai dimainkan.

Puncaknya terjadi di kompetisi Galatama ke-7 dan ke-8, 1986. Sejak 1983 dan 84, saya biasa ditelpon oleh seseorang yang mengaku bernama Hasan Basri dari Semarang dan Syaiful. Dari logatnya saya yakin keduanya bukan orang Jawa dan Lampung. Keduanya selalu menyebut huruf R dengan L. Bukan cadel, tetapi karena faktor tertentu. Dan keduanya selalu memberi tahu hasil pertandingan meski pertarungan baru besok akan dimulai.

Bahkan keduanya saling klaim telah 'memegang' si anu atau si itu (keduanya menyebut nama-nama). Pada akhirnya, keduanya mengeluh karena dipermainkan oleh para pemain. "Gila, mereka punya bandar baru!," keluh keduanya.

LBT
Di antara semua itu, saya juga memperoleh nama yang berinisial LBT. Info yang saya peroleh, orang itu adalah bandar baru.

Hampir dua tahun saya memburunya. Akhirnya, Maret 1984 saya berhasil menemuinya. Ditemani sahabat saya, Hermanto (Waspada, Medan) dan seorang kiper klub CK, Galatam, Us namanya, saya menyambangi LBT di Jl. GM, kota.

Tak butuh waktu lama, LBT lalu berkisah. Dia ternyata bukan bandar, tapi perantara. Ada dua kubu bertaruh dalam jumlah besar, menitipkan taruhan padanya. Sampai di situ, kelihatannya aman-aman saja.

Tapi, para bandar itu mengontrak pemain untuk memastikan kemenangan. Ya, pemain-pemain itulah yang memainkan peran besar untuk kemenangan para bandar. Bahasa vulgarnya, para pemain itu disuap.

Nah, di sini perab LBT sangat besar. Ia diminta untuk menjadi juru bayar. Dan LBT memanfaatkan hal itu dengan barang dagangannya. Ya, LBT adalah agen dan _show room_ merk mobil yang paling laris.

Ujungnya para pemain mengambil kredit mobil merk itu. Tentulah para pemain menerima mobil secara gratis karena para bandar itu yang bayar. Dan siang itu, LBT memperlihatkan sederat nama pemain-pemain beken sebagai debitur.


Namun di perjalanan, nama LBT dikaitkan sebagai pelaku utama. Malah SnK, orang atau juru bayar LBT ditangkap dan dilimpahkan sebagai penyuap. Ia pun ditangkap dan dihukum, namun drama suap tetap berjalan saat SnK di dalam hotel prodeo.

Menurut LBT, SnK itu jalan setelah diperintah. "Kalo ada kelebihan kredit, ya dialah yang datang ke pemain. Jadi, dia bukan seperti yang dituduhkan," kata LBT, beberapa tahun setelah bebas dari kasusnya bersama SnK.

Ya, saat-saat menyedihkan bagi sepakbola nasional kita itu, saya dan para sahabat ada di sana. Semangat ikut membasmi, tapi keterbatasan telah membelenggu kami. Kami tahu dan kami merasakan, tapi kami tak bisa berbuat apa pun.

Hati-hati
Akhir tulisan ini sengaja saya tujukan kepada para pemain muda kita. Di kaki-kaki kalianlah kelak, berkibar atau tidaknya merah-putih di dunia internasional. Di hati-sanubari kalianlah perlawanan suap bisa dilawan.

Seperti sifat hantu, para bandar suap itu selalu bersiap diri untuk menggelincirkanmu. Dan, ketamakanlah yang akan mengantarkanmu pada kehancuran.

"Gimana pertandingan tadi?" tanya Zainudin Amali, Menpora kita sesaat setelah final Sea Games ke-30, timnas kita dikalahkan 3-0 oleh Vietnam.

"Insyaa Allah, bersih pak," jawab saya. "Anak-anak kita dan pelatih kita memang kalah kelas jauh dibanding Vietnam," lanjut saya.

Pertanyaan yang wajar dan insyaa Allah, jawaban yang tidak keliru. Meski banyak juga yang meyakini bahwa di partai final itu terjadi hal-hal aneh. Namun saya tak yakin. Tak ada rasa-rasa itu. Dan, anak-anak kita, insyaa Allah masih belum tergoda.****

M. Nigara
Wartawan Sepakbola Senior
Komentar

Tampilkan

Terkini