Iklan

Di Bulan Gus Dur , UIN Sunan Kalijaga Anugrahi Gelar Doctor Honoris Causa Pada Sinta Nuriyah Abdul Rahman Wahid

12/18/19, 11:31 WIB Last Updated 2019-12-18T04:31:17Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Aksara news.co.id - Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pada hari Rabu, 18 Desember 2019. Acara pengukuhan tersebut diselenggarakan di gedung Prof. Dr. Amin Abdullah. Hadir dalam kegiatan tersebut para tokoh nasional seperti Menkopolhukam Mahfud MD, Husein Muhammad, Lukman Hakim Saifuddin, Benny Susetyo, Khofifah Indar Parawansa, Lies Marcos, dan lain sebagainya. Juga para aktivis sosial dan lintas iman dari berbagai kota. 

Ketua tim promotor Profesor Emma Marhumah menyebut bahwa gelar kehormatan ini merupakan penghargaan kepada Sinta Nuriyah atas kerja-kerja sosialnya selama ini. Nuriyah terlibat aktif di dalam perjuangan isu-isu keadilan gender dan kebinekaan di antaranya dengan melakukan pemaknaan ulang atas teks-teks kitab kuning yang bias gender. Dalam merajut kebinekaan, Nuriyah aktif melakukan sahur keliling yang melibatkan berbagai elemen bangsa Indonesia.
Hal ini senada dengan sambutan Profesor Yudian Wahyudi Rektor UIN Sunan Kalijaga yang menyebut bahwa penerima gelar kehormatan ini merupakan tokoh-tokoh yang memberi kontribusi bagi bangsa Indonesia. “Persatuan itu adalah hal termahal dari semua yang termahal di Indonesia,” ujar Yudian. Ini adalah kunci kita bisa hidup bersama-sama yang merupakan sunnatullah. Baginya, Nuriyah melalui kerja sosialnya selama ini masuk dalam kategori yang disebut.
Nuriyah dalam pidatonya berjudul “Inklusi dalam Solidaritas Kemanusiaan” menceritakan keterlibatan dalam isu-isu kemanusiaan sudah dimulai sejak tahun 1998. “Peristiwa tragedi Mei 1998, yang begitu mengoyak nurani kemanusiaan, telah menyadarkan saya tentang betapa pentingnya kerukunan kasih sayang di antara sesama anak bangsa Indonesia,” ujar Nuriyah. Inilah yang melandasinya menciptakan program-program pluralisme dan kemanusiaan yang dilakukannya hingga sekarang. Sementara untuk mendampingi kaum marjinal, Nuriyah mengadakan sahur keliling sejak tahun 2000.
Bagi Nuriyah, puasa bukan hanya menjadi ibadah individu tetapi bisa menjadi salah satu cara untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Karena pada dasarnya esensi berpuasa adalah menciptakan kehidupan yang damai, penuh rahmat, dan tenteram. Apalagi di bulan puasa yang merupakan bulan suci dan penting bagi umat Islam.

“Puasa adalah cara terbaik untuk menggalang dan meningkatkan kepekaan sosial di antara sesama manusia,” ujar Nuriyah. Ia juga menyebut adanya dua bentuk kesalehan dalam Islam, yaitu kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kesalehan individu mewujud pada pelaksanaan ibadah formal, sementara kesalehan sosial dilakukan dalam bentuk tindakan sosial yang bermanfaat bagi orang lain. “Oleh karena itu, keduanya harus berjalan seiring dan merupakan kesatuan yang tak terpisahkan,” lanjut Nuriyah.

Ia juga menyebut alasan mengapa melakukan sahur keliling, bukan buka puasa keliling. Baginya, buka puasa merupakan anjuran agama yang sudah banyak dilakukan oleh orang lain. Bahkan puasa sudah menjadi budaya bagi umat muslim khususnya di Indonesia. Sementara sahur belum banyak dilakukan karena tantangannya sangat berat. Pada saat itu salah seorang stafnya menyarankan untuk membagikan nasi untuk kaum dhuafa, kaum marjinal, dan anak-anak jalanan, dan bersahur bersama mereka.
“Saat itu, tiba-tiba muncul bayangan di benak saya, mbok-mbok bakul yang pada pukul 03.00 pagi, sudah harus berada di atas kendaraan bak terbuka, berjuang mencari sesuap nasi untuk keluarganya.”
Sahur keliling yang dilakukan oleh Nuriyah pun bukan di tempat mentereng, tetapi di tempat para kaum marjinal ini berada, seperti di kolong jembatan, di dekat terminal atau stasiun, di tengah pasar, lokasi bencana, dan lain sebagainya, termasuk di rumah ibadah agama minoritas di Indonesia.

“Setelah hal itu kami diskusikan bersama para staf, kami memutuskan untuk mengajak semua komponen suku dan agama yang ada di Indonesia karena selama ini mereka mereka disisihkan. Hanya Gus Dur yang tidak menganggap demikian.”
“Sejujurnya saya akui, memberi sekotak nasi apalah artinya. Namun terbayang di mata saya wajah-wajah keras kaum dhuafa itu menjadi sedikit cerah dan lembut ketika saya hadir di tengah-tengah mereka,” ucapnya.
Penganugerahan ini sekaligus menjadi kabar gembira karena bulan Desember dikenal sebagai bulan Gus Dur oleh para Gusdurian. Presiden RI keempat itu wafat pada tanggal 30 Desember 2009. Hari wafatnya selalu diperingati oleh berbagai umat lintas agama di seluruh Indonesia. (*)
Komentar

Tampilkan

Terkini