Iklan

Dari Festival Rubi Ada Kesamaan Menata Bonsai dan Birokrasi

12/11/19, 20:30 WIB Last Updated 2019-12-11T13:30:52Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini






AksaraNews.co.id - Jakarta - Ada yang menarik dan tampak berbeda dihalaman Direktorat Jenderal Dukcapil Pasar Minggu, penuh dengan ratusan bonsai yang dipajang apik, tertata harmonis dengan lay out yang serasi.
Pasalnya, disana sedang berlangsung Festival Bonsai yang diikuti oleh ratusan  bonsai terbaik dari Jakarta, Jabar, Bangka, Banten, Jateng dan DIY. Festival bonsai ini merupakan bentuk apresiasi dalam rangka HUT ke 3 Rumah Bonsai Indonesia atau RUBI.

Keunikan seni bonsai inilah yang dibawa oleh Ketua Umum Rumah Bonsai Indonesia (RUBI) Prof. Zudan Arif Fakrulloh untuk dikolaborasikan dengan 'seni' mengelola birokrasi dan seni mengelola pohon yang dikerdilkan alias bonsai.

Menurut Prof. Zudan yang juga Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri ini, pekerjaan membonsai atau mengkerdilkan tanaman membutuh ketelitian,kesabaran, ketekunan yang membuahkan  keindahan. Bonsai sebagai mahakarya adalah hasil kerja nyata melalui proses tata kelola berupa perawatan yang dilakukan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan rasa cinta.

Bila sedang santai, Zudan kerap menyempatkan diri untuk menyiram puluhan koleksi tanaman bonsai di rumahnya yang asri di bilangan Bekasi. Ada lebih 50 tanaman bonsai yang terpajang di  rumahnya. Mulai jenis beringin, anting putri, serut, jeruk kingkit, loa, lohansung, arabica, sampai jambu biji.

"Ketika sudah menjadi mahakarya, nilai bonsai pun menjadi meningkat berkali-kali lipat. Inilah sebetulnya esensi dari tugas birokrasi. Melahirkan mahakarya pelayanan publik dengan proses tata kelola tadi. Kalau tidak dengan karya nyata mustahil menjadi mahakarya," ujar Zudan di arena Festival Bonsai Nusantara ke-3 Piala Menteri Dalam Negeri yang digelar di halaman luas kantor Ditjen Dukcapil, Jalan Raya Pasar Minggu KM 19, Jakarta, Rabu (11/12/2019). Festival ini akan berlangsung sampai dengan tanggal 16 Desember 2019. Banyak bibit bibit bonsai berkualitas yang dijual dalam festival bonsai RUBI ini. Harganyapun terjangkau untuk masyarakat awam maupun bonsai bonsai untuk kelas kolektor.

Menurutnya, ada nilai-nilai filosofi tersendiri di balik menanam bonsai. "Bonsai itu simbol dari pohon besar yang bisa ditata. Di situ kita butuh kesabaran, ketelatenan, butuh seni. Bonsai bisa dibentuk, bisa didesain, bisa diarahkan. Akhirnya menikmati. Kita menikmati prosesnya, proses membentuk, mengarahkan, proses berkawan dengan para bonsainer, berkomunikasi, berdialog, bertukar pohon, bertukar pengalaman," tuturnya.

Jadi, kata Zudan, dalam seni dan birokrasi itu ada kesamaannya, yaitu membutuhkan tata kelola atau manajemen.

Zudan lebih jauh menjelaskan, esensi birokrasi sejatinya adalah “berkarya tanpa batas, berkreasi tanpa henti.”

Kalimat indah yang menjadi tagline RUBI ini sangat cocok bagi rekan pegawai negeri sipil. “Pekerjaan kita di birokrasi sebagai pelayan publik juga harus berkarya tanpa batas, dan berkreasi tanpa henti,” ujarnya berfilosofi.

Zudan juga menyebut Bonsai sebagai seni yang membahagiakan dan mensejahterakan masyarakat. Sebab, merawat bonsai dengan sabar dan tekun juga mendatangkan kebahagiaan.

Dari sisi kesejahteraan jelas menguntungkan lantaran dimulai dari bahan pohon berharga murah, namun seiring dengan waktu harganya akan meningkat seiring dengan keindahan yang tercipta.

Tak heran, RUBI memiliki visi menjadikan Indonesia sebagai poros perbonsaian dunia, membahagiakan dan mensejahterakan anggota serta menciptakan lingkungan yang hijau dan bersahabat dengan alam.

Adapun budaya organisasi RUBI, menurut Zudan, adalah membangun kebebasan berkarya dan berekspresi, menghargai perbedaan, serta saling menghormati sesama anggota dan organisasi sejenis. (*)
Komentar

Tampilkan

Terkini